KAKAP SEJATI

Filed in Uncategorised by on 01/11/2012 0 Comments

Genap 18 tahun yang lalu, pada November 1994, teman-teman di Majalah Trubus, menerbitkan majalah Media Mancing.  Informasi dunia pemancingan itu cukup bersejarah. Sampulnya spektakuler, seekor kakap merah besar terpancing di dekat Pulau Putri, Kepulauan Seribu, Jakarta Utara.

 

Namun, industri kelautan dan perikanan menjadi topik menarik setelah dipicu seminar Bulan Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan di Bali pada Oktober 2012. Menteri Kelautan dan Perikanan, Sharif Cicip Sutardjo, menjamin bahwa pemerintah akan mengoptimalkan deteksi  cuaca dan informasi. Itu penting, guna mengurangi risiko kegagalan di bidang perikanan.

Kelas kakap

Saya gembira diajak menengok budidaya ikan di laut lepas dan memikirkan kelestarian alam di Kepulauan Seribu. Sepanjang pelayaran saya berpikir, masih adakah kakap seberat tujuh kilogram di seputar Pulau Putri? Mulai dari Pulau Bidadari, kelihatannya sepi-sepi saja. Seolah-olah dunia sudah kehabisan ikan akibat eksploitasi yang berlebihan. Untunglah, di dekat Pulau Belanda, yang kecil dan menyendiri, tampak beberapa kapal nelayan sedang panen teri.

Di Pulau Jukung-baru mata saya terbuka: berjuta-juta ikan kakap sejati hidup bahagia dalam karamba. Mereka bukan untuk dipancing, melainkan untuk diekspor ke Kanada, Amerika Serikat, Singapura, dan ke seluruh penjuru dunia. Mulai jelas, kita bukan lagi bangsa pemancing, tapi bergerak menuju industri marikultur, membangun perikanan besar-besaran.  Dari situs Seafood International, saya disadarkan bahwa Indonesia adalah penyedia ikan kakap terbesar di bumi ini.

Aneh kalau kita belum pernah mendengar, mensyukurinya, apalagi mengembangkannya. Budidaya kakap sejati atau barramundi Lates calcarifer, mulai dikembangkan di Thailand pada 1970-an. Ikan-ikan barramundi australis itu terkenal bisa tumbuh besar, dengan panjang tubuh 150 cm dan bobot mencapai 55 kg.

Mengapa kakap? Ikan kakap menjadi besar karena bisa makan yang lebih kecil.

Pantaslah kalau segala yang berukuran raksasa disebut kakap. Kita mengenal pengusaha kelas kakap, ilmuwan kelas kakap, bahkan koruptor kelas kakap. Ikan kakap bisa hidup di air laut maupun di air tawar. Uniknya lagi, mereka lahir sebagai ikan jantan, tapi bisa berubah menjadi betina, saat harus melanjutkan keturunan. Semua itu baru saya ketahui setelah melihat kolam-kolam penetasan, pemberian nutrisi zooplankton dari chlorela, dan mengunjungi karamba-karamba apung milik Sofyan Alisjahbana.

Industri barramundi

Dari kawasan Pulau Jukung, pengusaha marikultur yang sukses itu bisa mengekspor antara 500-1.000 ton filet barramundi per tahun. Artinya, setiap pekan ia mengolah antara 10-20  ton ikan kakap sejati yang rata-rata berbobot di atas 2 kg per ekor. Ikan-ikan itu dipelihara selama 12-15 bulan. Dengan perawatan yang superteliti, kelezatan daging barramundi pun terjamin. “Coba, rasakan ini,” kata Sofyan menawarkan resep masakannya sashimi dari daging barramundi. Luar biasa!

Hanya dengan bumbu jeruk nipis dan daun ketumbar, saya menikmati daging ikan paling nikmat di sepanjang hidup saya.  Manis, kesat, dan menyenangkan. Mengapa tidak dari dahulu bangsa Indonesia menikmatinya? Segala yang paling bagus, paling nikmat, paling bergizi sepertinya hanya untuk ekspor, bukan dikonsumsi di dalam negeri. Saya teringat jamur dari dataran tinggi Dieng, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, juga hanya untuk ekspor.

Demikian juga filet barramundi. Ikan-ikan dari karamba itu akan diolah, dikemas di kawasan Jatake, Tangerang, Provinsi Banten, lalu dibawa ke Bandara Sukarno Hatta. Kurang dari 30 jam berikutnya, kakap putih yang lezat itu sudah tersaji di Toronto, Kanada; maupun tersedia mentah di pasar swalayan papan atas dengan harga US$14 per paket berbobot 2 kilogram.

Jadi, bisa kita hitung sendiri, berapa besar bisnis barramundi. Perhitungan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan, sepanjang 2011 lebih dari 5.000 ton kakap putih diekspor. Dari pameran World Fisheries di Balai Kartini, Jakarta, pada pertengahan Oktober 2012, dikabarkan dari ekspor makanan laut, Indonesia meraup Rp2,2-miliar dolar untuk semester pertama tahun 2012. Sayangnya, devisa itu baru didominasi oleh ekspor udang dan tuna.

Akuakultur Indonesia berlipat ganda lagi, kalau budidaya barramundi dikembangkan. Tantangannya, ternyata terletak pada kemampuan kita menyediakan benih. Untuk menutup target ekspor 5.500 ton per tahun, misalnya, diperlukan 13-juta bibit, dan sedikitnya 2.200 indukan unggul. Saya melihat bagaimana indukan itu dipelihara khusus berpasang-pasangan dalam tangki besar dan ditunggu bertelur setiap bulan purnama. Burayak atau anakan ikan dikumpulkan setiap 200.000 ekor, yang kelak menghuni karamba pembesaran.

Jadi satu karamba, berisi antara 150.000-200.000 kakap sejati, dengan ukuran relatif sama. Untuk mencegah kanibalisme dengan memisahkan ikan yang terlalu kecil atau yang terlalu besar. Anak-anak ikan yang semula kecil, mendadak tumbuh cepat dan menjadi bongsor setelah hidup dalam gelombang. Arus laut yang terus-menerus, suhu air yang relatif stabil, dan pakan yang teratur membuat barramundi tumbuh sehat dan disukai di mana-mana.

Belakangan saya mendapat penjelasan melalui beberapa film dari Australia, bahwa industri barramundi merupakan kegiatan perikanan yang lestari. Seperti yang saya lihat, budidaya perikanan lepas pantai-bahkan di laut lepas ini, insya Allah bisa menjadi industri ramah lingkungan. Satu-satunya yang harus dipecahkan adalah bagaimana mendapat pasokan listrik dari tenaga ombak, angin, atau energi matahari.

Bangsa kakap

Untuk anak-anak Indonesia, pemasyarakatan barramundi perlu lebih gencar. Yang menarik, inovasi para pengusaha perikanan lepas pantai ini seperti tak habis-habisnya. Plastik polivinilkhlorida (PVC) yang semula saya anggap sebagai sumber pencemaran, karena sukar terurai di tanah, ternyata menjadi bahan perahu tongkang yang tahan lama. Sedikit demi sedikit, industri perikanan pun mulai mengembangkan siripnya. Dahulu, keramba bambu dan kayu baik diletakkan di perairan dengan kedalaman 6-9 meter. Sekarang dengan plastik justru bisa dibuat jaring bertingkat di kedalaman 40-60 meter, di samudera lepas.

Temuan sahabat saya, Zukri Saad, yang aktif di perindustrian lestari, Indonesia sama kuat dengan Republik Rakyat China (RRC) dalam hal perikanan pada 1949. Saat itu, kedua negara sama-sama menghasilkan 20.000 ton. Anehnya, pada 20004, RRC berhasil mendulang 36,6-juta ton, sedangkan Indonesia berkutat di angka 1,4­-juta ton. Nah, kalau ekspor ikan barramundi baru tercapai 5.500 ton, alangkah besar peluang yang tersedia. Konsumsi ikan dunia makin lama makin meningkat, sedangkan produksi kita masih belum seberapa.

Inilah yang mestinya dikejar oleh para nelayan, industriwan, pebisnis akuakultur, dan marikultur Indonesia. Pembahasan mengenai protokol perbanyakan induk ikan kakap pun digencarkan. Sekarang telah dihasilkan protokol hibridisasi ikan kakap putih, protokol uji tantang kakap putih, dan protokol seleksi individu kakap putih. Tidak mengherankan kalau bangsa yang baru belajar makan ikan-dengan kampanye suka ikan setiap akhir tahun ini harus mengejar banyak ketertinggalan.

Baru pada masa Presiden Aburlrachman Wahid kita memiliki Menteri Kelautan dan Perikanan. Sebelumnya, memang ada pemancing-pemancing andal dan serbawah, seperti yang diulas dalam Media Mancing. Namun, industri perikanan lepas pantai nyaris tidak didorong untuk berkembang. Sekarang setelah perburuan ikan mulai surut, dan produksi ikan budidaya mulai digenjot, baru kita sadar betapa pentingnya penangkaran. Bukan tidak mungkin dalam waktu dekat, Indonesia menjadi bangsa kakap, karena berhasil memanfaatkan industri kelautan.

“Lahan kita adalah lautan yang jernih, matahari yang hangat, dan kawasan yang bebas dari topan dan badai,” begitu kata pengusaha akuakultur yang menyadarkan saya, bahwa Indonesia adalah pemasok barramundi terbesar di bumi ini. Itu artinya, lautan adalah sumber pangan masa depan, dan kita memiliki semua potensinya. Sudah siapkah anak-cucu kita ikut menikmati dan mengembangkannya? Jawabannya: harus siap!***

Keterangan foto :

  1. Ikan kakap kini mulai banyak dibudidayakan
  2. Eka Budianta*

*) Sastrawan, konsultan Jababeka Botanic Gardens dan Tirto Utomo Foundation, kolumnis Trubus sejak 2001.

 

Powered by WishList Member - Membership Software