Kakao Tua Janjikan Laba

Filed in Perkebunan by on 01/09/2009 0 Comments

“Operasi” yang ditempuh Ismail Abdullah dengan menyisipkan batang atas klon unggul untuk meningkatkan produksi. Produksi tanaman yang disambung samping pada umur 3 tahun mencapai 54 buah per pohon per tahun alias meningkat 2 kali lipat. Tiga tahun pascasambung, Ismail menuai 1,5 ton kering. Saat ini harga jual di Luwu mencapai Rp26.000 per kg kering.

Menurut pria 40 tahun itu biaya sambung samping mencapai Rp5-juta/ha. Hanya dengan sekali panen, ia mampu menutup biaya produksi penyambungan itu. Adapun biaya produksi hanya Rp5.000 per kg.

Solusi

Cara serupa juga diterapkan H Abdul Malik, pekebun di Bebanga, Kecamatan Kalukku, Kabupaten Mamuju. Ia menyambung samping dengan varietas sulawesi 1 di batang utama. Malik memanen 1 ton persis setahun setelah melakukan sambung samping. Harga jual kakao di tingkat pekebun Rp23.000 per kg.

Teknik sambung samping kini tengah tren di kalangan pekebun kakao di berbagai sentra seperti Mamuju, Luwu, dan Ciamis, Jawa Barat. Menurut Dr Adi Prawoto, peneliti Pusat Penelitian Kopi dan Kakao, teknik sambung samping merupakan solusi peremajaan kakao yang berproduktivitas rendah. Penyebab rendahnya produktivitas, antara lain kebun kurang terawat, serangan hama dan penyakit, serta umur tanaman tua sehingga tidak produktif.

Akibat serangan penyakit, produktivitas turun 321 kg/ha/tahun atau 30% dari produktivitas ideal 1.100 kg/ha/tahun. Dengan luas tanaman 967.804 ha, maka kehilangan hasil biji kakao sebesar 310.665 ton setara Rp6,2-triliun per tahun. Para pekebun memilih sambung samping karena tanpa masa vakum produksi. Bandingkan jika menanam ulang, perlu 2—3 tahun menunggu panen.

Tumbuh 30%

Teknik sambung samping menjadi penyelamat bagi para pekebun. Sebab, 92,34% perkebunan kakao milik rakyat dan melibatkan 1.400.636 kepala keluarga. Hanya 3% perkebunan milik negara dan 5% perkebunan swasta. Banyak pekebun yang mengelola lahan 0,5—1 ha. Itu menandakan bahwa kakao bukan identik dengan lahan luas. Dengan teknik sambung samping, mereka kembali bergairah mengebunkan kakao.

Apalagi harga kakao kering terus terkerek hingga kini berkisar Rp26.000 per kg. Padahal, 2 tahun lalu harga jual kakao hanya Rp15.000 per kg. Selain lonjakan harga, permintaan kakao juga terus meningkat karena industri pengolah kakao juga tumbuh 30% per tahun. PT Bumi Tangerang Mesindotama memerlukan minimal 3.500 ton biji kakao per bulan.

Produsen olahan kakao di Tangerang, Banten, itu mengolah kakao menjadi cocoa butter alias lemak cokelat dan bubuk cokelat cocoa powder. Lemak cokelat lazim digunakan untuk penganan cokelat kualitas premium. Menurut Sindra Wijaya SE, direktur utama PTBumi Tangerang Mesindotama, 1 kg biji kakao menghasilkan 34% lemak kakao dan 46% bubuk cokelat.

Biji-biji kakao itu hasil pasokan para pekebun di berbagai sentra seperti Jawa Barat, Sulawesi Tengah, Bali, Kalimantan Barat, dan Papua. “Kami siap menampung berapa pun pasokan biji kakao sesuai spesifikasi,” ujar Sindra. Syaratnya biji kakao berkadar air 7%, jumlah biji 90 buah per 100 gram, minimal jumlah pengotor, double bean sedikit, berwarna cokelat gelap, tak bercendawan, berserangga, atau berkecambah.

Perusahaan itu mengekspor 1.200 ton lemak cokelat per bulan ke Amerika Serikat dan Uni Eropa. Sementara untuk bubuk cokelat, Bumi Tangerang memasarkan 1.600 ton per bulan. Kira-kira 305 ton di antaranya terserap pasar lokal berupa industri penganan. Harga jual lemak cokelat dan bubuk cokelat masing-masing Rp60.000 dan Rp25.000 per kg.

Tingginya permintaan dan harga jual merangsang para pekebun merawat pohon kakao. Pohon-pohon tua diremajakan dengan teknik sambung samping. Kondisi itu juga mendorong lahirnya pekebun-pekebun baru. Mereka tertarik membudidayakan anggota famili Sterculiaceae itu lantaran umur produksi panjang.

Aral

Mengebunkan kakao bukannya tanpa kendala. Simak saja pengalaman Surya, pekebun di Kalijaya, Kabupaten Ciamis, yang cuma menuai 40 kg kering dari populasi 7.000 pohon akibat serangan cendawan Phytophthora palmivora. Lazimnya ia mendapatkan 2 kuintal. Menurut Ir Sri Sukamto Sugiarto, ahli penyakit kakao dari Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia, cendawan itu menyebar dari satu buah ke buah lain lewat percikan air hujan atau perantaraan binatang.

Kerugian akibat serangan bisa mencapai 60—80%. Itu pula yang dialami Agus Priyatna Permana di Kalijaya, Ciamis. Produksi anjlok diikuti rendahnya kualitas. Dampaknya pengepul hanya menawarkan harga Rp16.500 per kg atau Rp6.000 lebih rendah daripada harga yang berlaku saat ini.

Jika pekebun mampu mengatasi kendala itu, saat ini kakao menjanjikan laba. Lihatlah Ujang Dharsono yang kelimpungan. Pekebun sekaligus pengepul di Banjarsari, Kabupaten Ciamis, itu hanya mampu mengumpulkan 6,5 ton biji kakao kering per pekan. Padahal, permintaan sebuah industri pengolahan tak terbatas.

Sambung samping membuat pohon tua kembali muda sehingga produksi pun menjulang. Ketika harga kakao relatif tinggi, sambung samping sebuah keputusan tepat yang menggairahkan para pekebun. Kakao seperti tua-tua keladi, makin tua pohon, produksi pun tetap tinggi. (Faiz Yajri/Peliput: Sardi Duryatmo)

Luas Areal Perkebunan 2003-2007

 

Tahun

Luas Areal

Tan. Belum Menghasilkan

Luas Areal

Tan. menghasilkan

Luas Areal

Tan. Tdk Mengasilkan/ Rusak

2003

230.363

608.210

60.288

2004

244.442

704.874

53.936

2005

273.182

747.838

60.082

2006

303.348

832.596

83.689

2007

349.358

892.751

97.945

 

Foto-foto: Faiz Yajri dan Sardi Duryatmo

^ Harga kakao tengah terkerek naik. Kini Rp26.000/kg kering; 2 tahun lalu Rp15.000

> Ujang Darsono kewalahan penuhi permintaan

perkebunan

Trubus 478 – September 2009/XL

103

 

 

Powered by WishList Member - Membership Software