Kakao Anyar Tahan Hama

Filed in Perkebunan by on 01/07/2013 0 Comments
Klon ICCRI 07 toleran terhadap penggerek buah kakao, tapi rentan serangan kepik pengisap Helopeltis sp

Klon ICCRI 07 toleran terhadap penggerek
buah kakao, tapi rentan serangan kepik
pengisap Helopeltis sp

Dua klon baru yang toleran penggerek buah kakao.

Serangga dewasa Conopomorpha cramerella hanya seukuran nyamuk. Umurnya pun singkat, 7 hari. Namun, kehadiran serangga penyebab penggerek buah kakao (PBK) itu menguras tabungan para pekebun kakao. Menurut Ir Luh Anggraeni, kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian Kabupaten Jembrana, Provinsi Bali, serangga itu menyebabkan penurunan produksi dari 800 kg menjadi 420 kg per ha.

Untuk menanggulanginya, pekebun menyemprotkan insektisida setiap dua pekan. Menurut Kholid Mustofa, ketua Kelompok Tani Guyub Santoso di Kabupaten Blitar, Jawa Timur, pekebun dengan lahan 1 ha terdiri atas 1.000 pohon menghabiskan Rp25-juta per tahun hanya untuk pembelian insektisida. “Pilihannya sama-sama sulit: menyemprotkan insektisida yang biayanya cukup mahal atau menghadapi risiko gagal panen. Keruan saja pekebun memilih menyemprotkan insektisida,” kata Kholid.

Hasil eksplorasi

Untuk menekan biaya perawatan tanaman yang sangat besar, Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia (Puslitkoka), Kabupaten Jember, Jawa Timur, merilis dua klon toleran penggerek buah kakao pada Juli 2012.  Kedua klon itu adalah ICCRI 07 dan sulawesi 03.  Menurut pemulia kakao di Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia, Dr Agung Wahyu Susilo, yang dimaksud toleran adalah tahan terhadap serangan hama PBK. Pekebun yang membudidayakan klon baru itu lebih irit. Mereka hanya mengeluarkan separuh biaya perawatan daripada biasanya.

Pekebun klon ICCRI 07 dan sulawesi 03 tidak lagi menyemprotkan insektisida setiap dua pekan,  cukup sebulan sekali. Tanpa penyemprotan insektisida pun, petani akan memperoleh hasil 50% dari potensi produksinya. Agung Wahyu Susilo mengatakan jumlah buah klon ICCRI 07 rata-rata 47,9 butir per pohon, berwarna merah hati dengan bobot biji kering rata-rata 1,15 gram. Kadar lemak biji 45,67%. Produksi mencapai 1,739 kg biji kering per pohon—setara 1,9 ton biji per tahun.

Sementara buah sulawesi 03  berwarna merah kecokelatan dengan kadar kulit biji 10,91—12,24% bobot buah. Bobot biji kering lebih kecil, berkisar 0,75—0,78 g dan kadar lemak biji 49,6—50,9%. Jumlah buah rata-rata 49,63 butir per pohon dan produksi 1,67 kg biji kering per pohon—setara 1,8 ton biji per tahun. Klon sulawesi 03 lebih toleran penggerek buah kakao ketimbang ICCRI 07 namun klon ICCRI lebih ungul produksinya.

Riwayat keduanya bermula saat Dr Agung Wahyu Susilo dan tim eksplorasi Puslitkoka mengunjungi perkebunan kakao di Sulawesi, Kalimantan, Sumatera, dan Jawa sejak 2004—2011. Tujuan mereka mencari genotip tahan penggerek buah kakao. Dari identifikasi, tim menemukan 19 pohon induk dari populasi kakao hibrida forestero di Sulawesi dan 16 pohon induk dari populasi hibrida upper amazon forastero di Kebun Pabatu, Sumatera Utara. Forestero merupakan jenis kakao bermutu sedang atau bulk kokoa.

Ciri-ciri forestero buahnya berwarna hijau, berkulit tebal, biji buahnya tipis atau gepeng, dan kotiledon berwarna ungu pada waktu basah. Sebanyak 93% dari produksi kakao dunia merupakan jenis forestero. Dari 19 pohon induk itu tim Puslitkoka memperoleh klon tahan penggerek buah kakao, yakni klon C44. Tim lantas memperbanyak secara klonal, melahirkan klon KW 507. Mereka melakukan cara serupa terhadap 16 pohon induk asal Sumatera Utara dan menghasilkan klon KW 514.

Kerugian Rp9-triliun

Selanjutnya tim menguji stabilitas daya hasil dan ketahanan terhadap penggerek buah kakao. Akhirnya, pada 2011 kedua klon itu dinyatakan memenuhi kriteria unggul dan tahan penggerek buah kakao. Klon KW 514 dirilis dengan nama ICCRI 07 dan klon KW 570 dengan nama sulawesi 03. Pada 2012, keduanya mulai ditanam dengan teknik sambung samping dan sambung pucuk di lahan seluas 1 ha. Dengan cara itu, pohon akan berbuah maksimal dua tahun pascasambung. Saat ini, pohon mulai belajar berbuah.

Kedua klon itu sedang diperbanyak dengan teknik somatik embriogenesis di laboratorium Puslitkoka Jember. Setelah hasilnya memenuhi syarat untuk dikembangkan, tim akan memperbanyak dan menjual ke petani.  Meski tahan penggerek buah kakao, keduanya masih mempunyai kekurangan. ICCRI 07 masih rentan serangan kepik pengisap Helopeltis sp. Serangan terhadap buah berumur sedang menyebabkan terbentuknya buah abnormal, akibatnya daya hasil dan mutu berkurang karena biji menjadi kecil.

Untuk mengatasinya, pekebun bisa melakukan pemangkasan rutin dan membungkus buah dengan kain. Kelemahan lain, produktivitas keduanya 20% lebih rendah ketimbang klon yang lazim ditanam petani saat ini. Sebut saja seri klon DR, yang mempunyai potensi hasil hingga lebih dari 2 ton biji kering per ha per tahun.  Luas tanam kakao Indonesia pada 2011 mencapai 1,6-juta ha. Di beberapa provinsi seperti Aceh, Riau, Lampung, dan Sulawesi Barat, kakao menjadi komoditas andalan. Provinsi Sulawesi Barat bahkan mengucurkan dana miliaran rupiah untuk peremajaan tanaman.

Dalam peta perniagaan kakao dunia, Indonesia peringkat ketiga setelah Pantaigading dan Ghana dengan total produksi lebih dari 800.000 ton biji kering per tahun. Serangan penggerek buah kakao menjadi momok pekebun lantaran serangan berlangsung saat kakao berbuah.  Akibatnya buah kakao rusak dan tidak bisa panen. Buah yang masih bisa dipanen pun mengalami penurunan rendemen biji, kadar lemak biji, dan kualitas fisik biji. Kasus serangan berat menyebabkan kehilangan hasil hingga lebih dari 80%. Setelah dikurangi biaya produksi, pekebun pun gigit jari karena tidak memperoleh keuntungan.

Celakanya, tiga tahun terakhir serangan meningkat sehingga mengurangi mutu biji kakao. Data Direktorat Perkebunan Kementerian Pertanian menyebutkan, pada 2008—2011 serangan PBK menyebabkan kehilangan hasil 184.500 ton biji kering dan menyebabkan kerugian setara Rp3,69-triliun. Kehadiran klon tahan penggerek buah kakao dan cara budidaya yang baik menjadi jalan keluar untuk meningkatkan kesejahteraan pekebun. (Lutfi Kurniawan)

 

Powered by WishList Member - Membership Software