Kacang Tanah : Anak Macan Tahan Karat

Filed in Majalah, Sayuran by on 15/10/2020

Hypoma 3 produktif, genjah, plus tahan karat dan bercak daun

Kacang tanah produktif, genjah, serta tahan karat dan bercak daun

Jumlah polong rata-rata hypoma 3 mencapai 40,4 pertanaman.

Semula hanya bercak cokelat di bawah daun kacang tanah. Bercak itu kemudian melebar dan membesar. Daun kacang tanah Arachis hypogaea mengering dan rontok. Itulah serangan penyakit Cercospora arachidicola dan Phaeoisariopsis personata. Para petani menyebutnya bercak daun. Akibat serangan itu petani merugi hingga 70% dari total panen. Harap mafhum, bercak daun membuat pertumbuhan tanaman tak maksimal, hasil panen petani pun anjlok.

Para petani mengatasi penyakit itu dengan menyemprotkan fungisida. Namun, dengan skala kepemilikan lahan petani kacang tanah yang rata-rata kecil, pengendalian itu kurang efisien karena berbiaya tinggi. Solusi paling paten mengatasi penyakit itu adalah dengan menghadirkan varietas kacang tanah baru yang tahan serangan bercak daun. Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi (Balitkabi), Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) menghadirkannya.

Anak macan

Tim riset menemukan varietas hypoma 3 yang tahan bercak daun. Hypoma singkatan dari hypogaeae dari Malang, hasil silang tunggal antara varietas macan sebagai induk betina dan ICGV 99029 sebagai pejantan. Kacang tanah varietas macan bertipe Spanish, bentuk polong bagus, tahan penyakit layu bakteri, umur sedang, tetapi peka terhadap penyakit bercak dan karat daun. Adapun ICGV 99029 produktif, tahan penyakit bercak dan karat daun, bertipe Spanish, bentuk polong kurang bagus plus umur agak dalam.

Persilangan macan dan ICGV 99029 menghasilkan varietas kacang tanah unggul baru yang bertipe Spanish, produktif, karakteristik polong atau biji bagus, umur sedang, tahan penyakit bercak dan karat daun, juga tahan penyakit layu bakteri. Proses persilangan sejak 2004. Tim membentuk populasi dasar melalui silang tunggal antara kedua tetua itu. Kemudian tim menyeleksi generasi F2-F4, tahap uji daya hasil pendahuluan (UDHP) generasi F5—F6.

Hypoma 3 bertipe spanish dengan rata-rata berbiji dua per polong.

Fase berikutnya tim menguji daya hasil lanjut (UDHL) generasi F7—F8 dan terakhir tahap uji adaptasi/uji multi lokasi. Tim periset menanti delapan generasi terlalui. Sejumlah galur konsisten dalam ketahanan terhadap penyakit bercak dan karat daun, produksi yang konsisten tinggi, dan ketahanan terhadap penyakit layu bakteri, salah satunya adalah GH 12 yaitu galur Mc/GH7-04C-135-111. Galur itulah yang kini dirilis menjadi hypoma 3.

Berdasarkan penelitian daya hasil hypoma 3 mencapai 5,9 ton per hektare atau rata-rata 4,6 ton polong kering per ha. Hasil itu 34,01% lebih tinggi daripada varietas jerapah dan 25,5% lebih tinggi daripada varietas singa sebagai varietas pembanding. Hypoma 3 juga sangat tahan penyakit karat daun dan bercak daun. Ketahanan itu lebih baik daripada jerapah dan setara dengan singa sebagai cek tahan. Hypoma 3 juga termasuk tahan terhadap penyakit layu bakteri. Ketahanan itu lebih baik dari kedua varietas pembanding (jerapah dan singa).

Banyak aral

Ketahanan itu membuat biomass hypoma 3 tetap hijau pada usia panen antara 100—115 hari setelah tanam. Biomass yang tetap hijau berpeluang mendukung penyediaan pakan ternak sebagai nilai tambah di samping hasil polong atau biji. Pada tingkat elevasi tinggi lebih dari 130 meter di atas permukaan laut kemasakan hypoma 3 bisa mencpai 115 hari. Berbeda dengan tingkat elevasi rendah kurang dari 75 meter dia atas permukaan laut, panen hypoma 3 bisa terjadi antara 95—100 hari.

Produktivitas hypoma 3 mencapai
5,9 ton per hektar polong kering, dengan hasil rata-rata 4,6 t/ha.

Hypoma 3 memiliki jumlah polong rata-rata 40,4 per tanaman, kandungan protein 27,92% dari bobot kering, dan kandungan lemak 47,95% dari berat kering. Selain itu kacang tanah unggul itu juga memiliki rasio asam lemak oleat atau linoleat mencapai 1,157. Nilai itu lebih tinggi daripada varietas jerapah (1,021) tetapi lebih rendah daripada varietas singa (1,393).

Merakit hypoma relatif sulit. Tim periset menghadapi masalah seperti ukuran benangsari dan kepala putik yang kecil, waktu emaskulasi dan polinasi yang sangat terbatas. Jika kesiangan kepala putik menjadi kering yang menyebabkan kegagalan proses polinasi. Proses pun berlanjut dengan uji daya hasil dan uji multi lokasi. Tim melaksanakan secara terstruktur dan cermat. Mereka berharap hypoma 3 bisa berkembang baik dan membantu para petani kacang tanah di Indonesia. (Ir. Joko Purnomo, M.S., peneliti di Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian)

Tags: ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software