Jurus Bertahan dari Abu Merapi

Filed in Fokus by on 31/12/2010 0 Comments

 

Tanaman tomat tahan stres dengan penggunaan pupuk hayatiProf Nuni gofar, pupuk hayati mengandung mikrob ‘baik’ yang mampu mengeluarkan fitohormon, vitamin, dan enzim untuk menopang pertumbuhan tanamanAbu letusan Gunung Merapi membuat sebagian lahan hortikultura di Bandungan, Ngablak, Jawa Tengah luluh lantakAbu vulkanik yang mengguyur Bandungan pada awal November 2010 membuat pekebun hortikultura di sana kalang kabut. Kini dataran tinggi yang berjarak 7 km sebelah barat puncak Merapi itu terselimuti abu setebal 1 cm. Sebagian besar tanaman mati karena kekeringan dan serangan penyakit. Bayang-bayang gagal panen pun di depan mata.

Namun, ada segelintir pekebun macam Jarno yang masih menyimpan harapan untuk menikmati panen. Harapan Jarno muncul tatkala melihat tomat berumur 3 minggu miliknya masih tegap berdiri pascahujan abu. ‘Dari 900 tanaman tomat, hanya 10% saja yang mati karena stres, kekeringan atau penyakit,’ kata Jarno. Padahal tingkat kerusakan dan kematian di lahan tetangga ada yang sampai 100%.

Pupuk organik

‘Saya nekat karena mengira hujan abu segera berhenti setelah seminggu. Untungnya bisa bertahan juga,’ kata Jarno. Modal Jarno hanyalah saran dari Sutardi yang menawarkan budidaya pertanian organik. Jarno lantas mengombinasikan pupuk kandang sapi dan pupuk hayati sesuai saran Sutardi.

Saat pengolahan tanah, pupuk kandang ditebarkan di atas bedengan. Total jenderal Jarno menebarkan 1 truk setara 4 ton pupuk kandang untuk lahan seluas 270 m2 atau 140 ton/ha. Dosis itu 5 kali lipat dari dosis anjuran yang lazim yaitu 10 – 30 ton/ha.

Pupuk kandang itu dikeringanginkan di lahan selama 3 hari. Kemudian dikocor dengan dekomposer yang berisi bakteri pengurai. Dosisnya 250 ml per tangki setara 15 – 17 liter air. Setelah itu Jarno menutupnya dengan tanah dan mulsa. Mulsa dilubangi lalu bibit tomat ditanam.

Seminggu pascatanam Jarno panik lantaran hujan abu tak kunjung berhenti. Abu terus mengguyur tanaman 2 pekan lamanya. Jarno nyaris putus asa. Namun atas saran Sutardi, Jarno tetap merawat tomatnya. Setiap minggu Jarno mengocorkan pupuk hayati berisi: bakteri pelarut fosfat, bakteri selulitik, Pseudomonas sp, Azospirilum sp, Azotobacter sp, Rhizobium sp, hormon auksin IAA, dan giberelin. Dalam 1 tangki, Jarno melarutkan 1 gelas (240 ml) pupuk hayati dalam 14 l air.

Ia juga menambahkan 30 ml pupuk cair berasal dari ramuan ikan tuna yang kaya asam amino, omega 3, dan selenium. Jarno tak lupa menyertakan 1 sendok makan fungisida dan 5 – 10 ml insektisida dalam larutan. ‘Pupuk hayati tertentu memang bisa dicampur dengan pestisida saat aplikasi, tanpa menyebabkan kematian mikrob di dalamnya,’ tutur Sutardi, petugas lapang PT Utomo Utomo wilayah Jawa Tengah.

Sempat stres

Semua campuran itu lalu disemprotkan ke seluruh tanaman sampai ke permukaan tanah di bawah tajuk. Kala itu abu terus menghujani lahan Jarno selama 2 pekan penuh. ‘Awalnya memang agak stres dan pertumbuhan terhambat,’ kata Jarno. Saat itu tinggi tanaman 45 – 50 cm. ‘Pertumbuhan memang agak terhambat saat awal tanam lantaran kondisi ekstrim saat hujan abu, makanya tinggi tanaman hanya 45 – 50 cm, seharusnya saat normal tinggi tanaman 60 cm,’ tutur Sutardi.

Menurut Sutardi tanaman stres lantaran hujan abu yang menutupi tajuk bersifat asam. Kondisi makin parah dengan tertutupnya tanah di sekitar perakaran oleh abu. ‘Tajuk tanaman yang tertutup abu rentan stres, kering atau busuk. Itu karena abu dilapisi asam sulfat dan asam klorida sehingga bersifat asam,’ kata Sobir PhD, kepala Pusat Kajian Buah Tropika, Institur Pertanian Bogor, yang pernah melakukan pengamatan lahan di sekitar Merapi. Namun nyatanya, tanaman tetap tegap berdiri. Sementara itu pekebun lain menyerah lantaran tomat miliknya tak mampu bertahan.

Menurut Porf Dr Nuni Gofar, ahli mikrobiologi tanah dari Fakultas Pertanian, Universitas Sriwijaya, Palembang, mikrob pada pupuk hayati yang disemprotkan Jarno pada tanaman dan lahan melepaskan beragam fitohormon, enzim, dan vitamin. ‘Sejatinya tanaman tidak hanya membutuhkan 16 unsur hara esensial. Senyawa lain seperti fitohormon, enzim, dan vitamin pun menopang pertumbuhan tanaman,’ kata Nuni. Merekalah yang bahu-membahu memulihkan tanaman yang stres karena asamnya abu Merapi.

Melihat tanda-tanda baik itu, Jarno terus melanjutkan perawatan. Campuran pupuk hayati, pupuk organik, fungisida, dan insektisida terus disemprotkan seminggu sekali. ‘Pupuk hayati diberikan secara kontinu agar jumlah mikrob yang baik tetap ada meski kondisi lingkungan tidak mendukung,’ kata Wayan Supadmo, produsen pupuk hayati Bioekstrim.

Bahkan tiap 2 pekan Jarno memberikan pengocoran tambahan pada tanah dengan larutan berisi pupuk hayati dalam 14 liter air. Kondisi tanaman terus membaik. Daun-daun baru bermunculan dan batang makin tinggi dan kekar. Pertengahan Desember lalu, bunga mulai bermunculan di ketiak cabang. Kelak dari bunga itulah Jarno bakal memanen buah tomat. (Nesia Artdiyasa)

 

Powered by WishList Member - Membership Software