Juru Selamat Dewi Sri

Filed in Sayuran by on 07/03/2013
Hikmat Sumantri SP: corynebacterium ampuhkendalikan serangan penyakit hawar daunbakteri

Hikmat Sumantri SP: corynebacterium ampuh
kendalikan serangan penyakit hawar daun
bakteri

Cara mudah, murah, dan manjur mengatasi serangan hawar daun. Produksi padi meningkat signifikan.

Delapan tahun silam, Aweh Anwar Suanda, petani di Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat, paling banter hanya menuai 3 ton gabah per ha. Itu lantaran bakteri Xanthomonas campestris pv oryzae acap menyerang tanaman. Petani menyebut akibat serangan bakteri itu penyakit kresek. Sebab, dampak serangan daun menjadi kering dan menimbulkan bunyi kresek-kresek ketika bersinggungan. Menurut Hikmat Sumantri SP dari Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura, Provinsi Jawa Barat, bakteri menginfeksi pertanaman melalui hidatoda atau luka.

“Bakteri itu mengintai padi sejak pembibitan hingga panen,” kata Hikmat. Artinya anggota famili Pseudomonadaceae itu menyerang padi tanpa kenal usia. Pada tahap pembibitan, serangan ditandai bercak-bercak basah di tepi daun. Bercak itu kemudian meluas, daun menguning, lalu mengering. Sementara di pertanaman, gejala yang lazim adanya garis-garis basah yang meluas dalam 2—3 hari. Di tepi daun muncul bercak-bercak dan dalam 3—5 hari daun menguning. Batas antara bercak dengan daun sehat ditandai bagian yang tampak basah.

Produksi anjlok

Hawar daun bakteri memang momok menakutkan bagi petani. Tengok saja pengalaman Supriyanto, petani di Kecamatan Jatibarang, Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat, yang mengusahakan padi di lahan 3 ha. “Biasanya setiap panen menghasilkan 6—7 ton gabah kering panen (GKP) per ha, karena serangan kresek hanya 2,5—3 ton,” kata Supriyanto. Menurut Suyanto, petani di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, serangan kresek  menyebabkan panen anjlok hampir 50%.

Sebelumnya ia bisa panen 7 ton gabah kering panen per ha. “Bulir padi banyak yang kopong alias tidak berisi,” kata Suyanto. Dengan harga gabah Rp4.200 per kg, ia rugi Rp14,7-juta per ha. Menurut Hikmat, serangan hawar daun terbagi 2 tahap. Pertama, pada fase tanaman muda kurang dari 30 hari setelah tanam (hst). Kedua, saat tanaman mencapai stadia anakan sampai pemasakan bulir padi. Padi terserang tidak mampu berfotosintesis sempurna. Produktivitas pun tiarap hingga kurang dari 3 ton per ha.

Hujan disertai angin kencang mengakibatkan daun padi luka. Itu menjadi pintu masuk bakteri sehingga serangan hawar daun pun meluas. Pemicu lain adalah pemupukan nitrogen berlebih. Menurut Hikmat, petani kerap memupuk hingga 400 kg Urea per ha. Urea mengandung nitrogen. Itu jauh melebihi anjuran yang hanya 250 kg. Menurut Ir Yos Sutiyoso, pakar pupuk di Jakarta, nitrogen salah satu bahan pembentuk protein. “Kekurangan unsur nitrogen menjadikan pertumbuhan lambat karena pembentukan makanan terhambat,” kata alumnus Institut Pertanian Bogor itu.

Namun, jika nitrogen berlebih, sel mengembang seperti balon yang dipompa penuh, menjadikan dinding sel menipis. Akibatnya tanaman rentan serangan cendawan atau bakteri. Untuk mengatasi serangan biasanya petani menyemprotkan bakterisida. Namun hasilnya tidak efektif. Begitu pula upaya Aweh Anwar Suanda mengatasi serangan hawar daun dengan pestisida tak mempan.

 

Hikmat Sumantri SP: corynebacterium ampuh kendalikan serangan penyakit hawar daun bakteriAdu domba

Sejak 2006, Aweh Anwar Suanda memanfaatkan bakteri “baik” corynebacterium atas saran Hikmat. Menurut Hikmat, dunia mengakui kemampuan anggota famili Streptomytaceae itu dalam menangkis bakteri penyebab kresek.  Pemakaiannya terbilang irit: sehektar lahan hanya memerlukan 6 liter larutan biang corynebacterium seharga Rp120.000.

Petani 62 tahun itu mulai perlakuan sejak benih. Ia menyiapkan 5 ml corynebacterium dalam seliter air lalu merendam benih padi selama 15 menit. Di persemaian, ia menyemprotkan corynebacterium dengan konsentrasi sama. Semprotan corynebacterium berlanjut di lahan ketika tanaman berumur 15 hari setelah tanam. Ia melarutkan 50 ml cairan bakteri ke dalam 14 liter air bersih. Suanda menghabiskan 3  liter cairan bakteri untuk luasan 1 ha. Ia mengulang penyemprotan saat tanaman berumur 30 hari dan 45 hari. Waktu terbaik penyemprotan adalah saat sore hari. Tujuannya agar bakteri tidak mati terpapar sinar ultraviolet. Hikmat menyarankan petani menyemprot corynebacterium pada sore hari.

Menurut Hikmat, bakteri corynebacterium dengan populasi 1-juta  per ml akan mengalahkan perkembangbiakan hawar daun. Akibatnya infeksi hawar daun terhenti dan penyebaran serangan dapat ditekan hingga kurang dari 5%—tergantung umur padi saat pemberian bakteri baik dimulai. Dengan cara Suanda, serangan hawar daun bisa diberangus hingga kurang dari 5% Itulah sebabnya corynebacterium disebut bakteri protagonis, yang berarti lawan bagi patogen alias penyebab penyakit pada tanaman.

Riset Balai Besar Peramalan Organisme Penganggu Tumbuhan (BBPOPT), Kabupaten Karawang, Provinsi Jawa Barat, pada 2007 pemberian corynebacterium ampuh menekan serangan hawar daun. Aplikasi corynebacterium pada padi hibrida memberikan hasil 10,1 ton gabah kering panen per ha. Sementara tanaman kontrol tanpa pemberian corynebacterium hanya menghasilkan 6,4 ton per ha atau turun 58,1%. Pada varietas ciherang, hasil panen yang terselamatkan lebih dahsyat mencapai 93,5%. Padi tanpa corynebacterium, hanya 3,5 ton GKP, dengan corynebacterium 6,7 ton GKP per ha.

Berkat perlakuan itu, Suanda kini tidak terlalu risau dengan ancaman hawar daun. “Hasil panen sekarang berkisar 6—7 ton,” ujarnya. Petani lain kini juga mengikuti langkah Suanda. Pada makhluk mini itulah ia mencegah pencuri laba di sawahnya. (Faiz Yajri, kontributor lepas Trubus di Jakarta)

 

 

 

Powered by WishList Member - Membership Software