Juru Masak di Akar Sawit

Filed in Uncategorised by on 01/06/2012 0 Comments

Panen kelapa sawit meningkat dua kali lipat berkat pupuk organik.

Sebanyak 142 pohon kini berumur 13 tahun itu sumber pendapatan Muhammad Marno. Pekebun di Desa Kedungrang, Kecamatan Tanjungraya, Kabupaten Mesuji, Provinsi Lampung, itu memperoleh omzet Rp19-juta per bulan. Itu hasil penjualan total 11 ton kelapa sawit per bulan dari dua kali panen. Setiap pohon menghasilkan 2-3 tandan dengan bobot rata-rata 20 kg.

 

Omzet Marno bakal kian besar seiring dengan penambahan umur pohon anggota famili Arecaceae itu. Panen dengan produksi tinggi itu setelah ia memanfaatkan pupuk organik. Marno mencampur 6 kg pupuk organik berupa serbuk dan 4 liter cairan pupuk organik dalam 150 liter air. Ia mengaduk rata dan menyiramkan 1-2 liter campuran itu ke pohon kelapa sawit keesokan hari.

Kurangi pupuk

Marno melakukan 2 kali pemupukan per tahun, yaitu pada awal dan akhir musim hujan. Total jenderal biaya pupuk organik Rp880.000 sehingga masih ekonomis karena peningkatan produksi yang signifikan. Tiga bulan pascapemupukan, manggar sawit mencuat dari sela-sela pelepah. Lima bulan berselang, tandan-tandan siap panen. Saat ini ia memang masih memberikan pupuk anorganik berupa 0,3 kg NPK Phonska dan 0,3 kg Urea per tanaman sebulan setelah pemberian pupuk organik.

Namun, ia berencana mengurangi pupuk anorganik itu. Sebab, pupuk organik terbukti meningkatkan produksi kelapa sawit. Sebelum ia memanfaatkan pupuk organik pada 2008, total panen maksimal 8,5 ton per bulan. Setiap pohon rata-rata hanya menghasilkan 2 tandan berbobot masing-masing 12-15 kg. Setelah memanfaatkan pupuk organik produksi meningkat hampir 1,5 kali lipat.

Keruan saja pendapatannya pun terdongkrak. Pekebun kelapa sawit itu menggunakan pupuk organik atas saran seorang pekebun di Lampung. Namun, ia bergeming karena meragukan kemampuan pupuk organik meningkatkan produksi. Sutoyo Subandi yang mengelola 400 ha juga semula ragu. “Meningkatkan produksi dengan mengurangi pupuk? Mustahil!” ujar Sutoyo ketika kawannya menyarankan penggunaan pupuk organik. Namun, ia berangsur bimbang dan terdorong rmembuktikan ucapan temannya.

Akhirnya, Sutoyo mencoba pupuk organik di lahan 3 hektar pada April 2004 Saat itu tanaman berumur 6 tahun. Lantaran enggan berspekulasi, ia masih menggunakan pupuk anorganik. Namun, ia mengurangi jumlah pupuk anorganik menjadi 50% dari dosis anjuran. Tiga bulan berselang terjadi perubahan. Daun yang semula hijau kusam menjadi cerah mengkilap-menunjukkan pasokan hara lancar sampai ke daun. Kondisi daun ajek sampai 6 bulan berikutnya; sebelumnya, 1-1,5 bulan.

Serangan hama dan penyakit pun berkurang, terutama ulat api Thosea asigna yang menjadi momok pekebun. Saat itu hanya 112 pohon yang terserang. Padahal, di lahan lain yang tidak menggunakan pupuk organik, serangan mencapai 75%. Rendemen minyak pun meningkat dari 21% menjadi 23%. Sutoyo mengambil keputusan cepat: menggunakan pupuk organik untuk 15.000 batang pohon kelapa sawit di lahan 100 ha yang ia kelola. Kini semua kebun seluas 400 ha memanfaatkan pupuk organik. Di lingkungannya, distributor pupuk organik PT Natural Nusantara itu terbilang pelopor pemakaian pupuk organik.

Permintaan pesat

Pupuk organik yang digunakan oleh Sutoyo dan Marno mengandung unsur hara makro dan mikro, asam humat dan pulvat, mikroorganisme, dan zat pengatur tumbuh (ZPT). Bagaimana mekanisme pupuk organik meningkatkan produksi? Eliseo L Ruiz PhD, konsultan pupuk organik PT Bio Planmate Indonesia, menyebutkan bahwa pupuk organik menambah bahan organik pada tanah sehingga mikrob berperan maksimal, dan merangsang sistem perakaran agar berkembang sempurna. Selain itu pupuk organik juga meningkatkan kapasitas tukar kation (KTK) sehingga semakin banyak hara yang tersimpan dan tersedia bagi tanaman.

Di pasaran kini memang terdapat beragam pupuk organik khusus kelapa sawit. Pupuk-pupuk itu pada umumnya mengandung bakteri penambat nitrogen, pelarut fosfat, atau pelarut kalium. Beberapa merek mengandung gabungan lebih dari satu jenis mikrob. Peran mikrob-mikrob itu menjadi koki penyedia “makanan” bagi tanaman. Dengan kemampuan itu tanah menjadi kaya hara sehingga produksi tanaman pun terdongkrak meski pupuk anorganik dikurangi.

“Pupuk organik meningkatkan kemampuan akar menyerap pupuk kimia,” ujar Direktur Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Medan, Sumatera Utara,

Dr Ir Witjaksana Darmosarkoro. Meski demikian, doktor budidaya tanaman alumnus Iowa State University, Amerika Serikat, itu menganjurkan pekebun untuk tetap memberikan pupuk anorganik agar kebutuhan hara terpenuhi. Namun, dosisnya mesti menyesuaikan keperluan tanaman.

Pantas kini banyak pekebun kelapa sawit menggunakan pupuk organik. Menurut agronomis di sebuah produsen pupuk organik, Koko Baskoro, permintaan pupuk organik meningkat pesat. “Tahun ini naik 300% ketimbang tahun lalu, kebanyakan berasal dari Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat,” tutur Koko.

Menurut Wakil Ketua Umum Masyarakat Perkelapasawitan Indonesia (MAKSI), Dr Ir Darmono Taniwiryono MSc, kian banyak pekebun yang menggunaan pupuk organik kemasan pada 5 tahun terakhir. Musababnya, harga pupuk anorganik melambung sehingga pekebun mencari alternatif. Selain itu, perusahaan kelapa sawit mulai menyadari peran pupuk organik dalam memperbaiki tanah.

Pembibitan

Jika sekadar pupuk organik, sebetulnya pekebun telah menerapkannya sejak lama. Menurut Witjaksana, pekebun sudah menerapkan prinsip pemupukan organik sejak dahulu. Saat panen, pekerja memangkas pelepah sawit lalu membenamkan ke tanah. “Pelepah itu meningkatkan kandungan bahan organik tanah,” kata Witjaksana.

Ir Juliarto Barus MS dari Palm Oil Research Station, Provinsi Riau, mengatakan pemanfaatan tandan kosong kelapa sawit dan limbah cair pengolahan kelapa sawit sebagai pupuk organik telah dilakukan sejak 1990-an. Bahkan, Juliarto masih melakukan hal itu di kebun yang ia kelola. Pasalnya, tandan kosong dan limbah cair dari pengolahan kelapa sawit menyediakan unsur kalium dalam tanah. Itu penting karena harga pupuk kalium semakin mahal. Artinya pekebun menambahkan bahan organik, bukan pupuk kalium dalam kemasan hasil produksi perusahaan tertentu.

Pupuk organik juga menunjukkan kedigdayaan untuk pembibitan kelapa sawit. Di Desa Pundu, Kecamatan Mentayahulu, Kabupaten Katingan, Provinsi Kalimantan Tengah, Rija Ramdes SP membuktikannya. Sebenarnya, kondisi tanah di sana kurang sesuai untuk budidaya kelapa sawit karena liat berpasir. Itulah sebabnya Rija mengombinasi pemberian pupuk organik dan pupuk kimia.

Toh, ia tidak langsung menerapkan pada pembibitan massal. Ia mencoba dahulu di tempat pembibitan utama selama 9-12 bulan sampai bibit siap tanam. Hasilnya sangat memuaskan: parameter pertumbuhan seperti tinggi tanaman, jumlah pelepah, dan diameter bonggol batang melebihi standar dari Pusat Penelitian Kelapa Sawit Marihat. Sayang, pria berumur 44 tahun itu enggan mengungkapkan angka tepat pertumbuhan Elaeis guineensis belia itu. (Riefza Vebriansyah)

 

Keterangan Foto :

  1. Produktivitas per tandan kelapa sawit bertambah berkat pupuk organik
  2. Eliseo L Ruiz PhD, mikroorganisme menyediakan sumber hara bagi tanaman
  3. Industri pengolahan membutuhkan pasokan bahan baku yang kontinu
  4. Pupuk organik meningkatkan pertumbuhan Bibit
 

Powered by WishList Member - Membership Software