Jitu Cetak Kampiun

Filed in Ikan hias, Satwa by on 06/06/2013 0 Comments

2.	Ryukin superjumbo milik Budi meraih GC di kontes maskoki nasional pada April 2013Rahasia Budi Santoso menghasilkan ryukin jawara: akuarium besar dan pakan.

Prestasi ryukin milik Budi Santoso sepanjang Januari—Mei 2013 sungguh mengesankan. Jenis maskoki itu sukses menggondol 3 gelar grand champion (GC) di 3 kontes maskoki nasional. Gelar GC pertama diraih ryukin short tail saat Lunar Goldfish Contest di Jakarta pada Februari 2013. Pada Bandung Goldfish Kontes di Bandung, Jawa Barat, ryukin yang sama meraih gelar serupa. Yang paling anyar ryukin milik Budi berjaya di Indonesia Road to Champions Show Goldfish Contest di Jakarta pada April 2013.

 

Tak pelak ikan milik pehobi di Sunter, Jakarta Utara, itu pun menjadi buah bibir di komunitas pencinta maskoki. Budi memang mempersiapkan maskoki dengan sebaik-baiknya. Ia merawat Carrasius auraus kampiun itu di akuarium berukuran 4 m x 2 m x 1,5 m. “Untuk ukuran maskoki akuarium itu tergolong jumbo,” kata Ricky Zulkarnain, sang perancang akuarium. Lazimnya ukuran akuarium maskoki 90 cm x 60 cm x 45 cm. Menurut Budi akuarium itu bagus untuk pertumbuhan ikan. Akuarium yang luas memicu maskoki aktif bergerak. Akibatnya pertumbuhan tulang maksimal sehingga fisik ikan terlihat padat dan kekar. Akuarium dibangun di halaman rumah.

Sistem filter

Sejatinya pelopor penggunaan akuarium besar untuk maskoki adalah Hendrik Nursalim, pehobi maskoki di Manggabesar, Jakarta Barat. Hendrik memilki akuarium berukuran  7 m x 4 m x 1,8 m. Akuarium itu berisi sekitar 25 ikan berukuran rata-rata 23 cm. “Saya memang terinspirasi membuat akuarium dari Hendrik,” kata Budi. Rizky merancang akuarium milik Budi layaknya akuarium koi. Sebab, “Akuarium yang berada di luar ruangan mesti diimbangi dengan sistem filter yang baik,” kata Rizky.

Rizky menggunakan 6 tabung sebagai wadah filter. Dua tabung pertama menggunakan kapas sebagai media filter, sedangkan tabung sisanya berisi bioball. Mula-mula air masuk ke tabung berisi kapas. Saat itu sisa pakan di akuarium tersaring. Air yang bebas sampah tadi masuk ke tabung selanjutnya. Bioball dalam tabung berperan mengurai zat berbahaya. Seperti bakteri baik yang mengurai amonia menjadi nitrat. Amonia di akuarium berlebih, di atas             50 ppm, membahayakan ikan.

Sebelum masuk kembali ke akuarium air mesti melalui 3 lampu ultraviolet. “Sinar ultraviolet menghilangkan alga penyebab air hijau di akuarium,” kata Ricky. Selain itu lampu itu juga berfungsi mematikan bakteri merugikan. Proses itu membuat kualitas air tetap baik sehingga kesehatan ikan terjaga. “Kondisi air sangat menentukan kesehatan ikan,” kata Umar Dani, pembudidaya maskoki di Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten. Budi merasakan betul manfaat akuarium itu.

Ia menuturkan maskoki peraih kampiun pada April 2013 sebetulnya memiliki semacam kutil. Benjolan daging di punggung kanan itu seukuran setengah biji kedelai. “Pehobi koi menyebut benjolan itu sebagai tumor pada ikan,” ujar Ade Kurnia, penjual maskoki di Jalan Kartini, Jakarta Pusat. Budi mengatakan tumor itu tidak terlalu mempengaruhi kesehatan ikan. “Kutil itu merusak keindahan ikan,” kata ayah 2 anak itu. Budi pernah memotong kutil itu. Namun, sebulan berselang benjolan itu muncul lagi.

Menurut Ade kutil sulit diobati. Akibat kehadiran kutil ikan itu hanya menyabet juara ketiga di kelas ryukin superjumbo di kontes Indonesia Goldfish Society Ministry Goldfish Cup pada Desember 2012. Pada awal 2013 Budi menempatkan ryukin itu ke dalam akuarium. Selang 3 bulan kutil itu mengecil dan akhirnya menghilang sama sekali. Kini di tempat bekas kutil itu tertutup sisik putih. Budi bingung sekaligus senang dengan kejadian itu. Senang karena kutil hilang, sementara bingung mengenai penyebab hilangnya kutil.

Selain kualitas air yang memang prima, ia menduga daun dan bunga kamboja Plumeria sp yang tumbuh di pinggir akuarium berperan menyembuhkan kutil pada ikan. Sayangnya belum ada penjelasan ilmiah tentang kasus itu. Meskipun begitu, “Kini beberapa pehobi maskoki juga meletakkan daun dan bunga kamboja ke dalam akuarium,” kata Ade.

Untuk perawatan akuarium Budi menambahkan 1—2% air pada pagi dan sore untuk over flow. Itu proses penambahan air ke akuarium sehingga kotoran dan sampah yang berada di permukaan air terbuang. Seminggu sekali ia juga mengganti 10% air akuarium dengan air ledeng dan air payau dengan perbandingan 70:30 atau 60:40. Tujuannya agar pertumbuhan maskoki lebih bagus. Budi memperoleh air payau dari air tanah di rumahnya. Harap mafhum rumah Budi berjarak 3—5 km dari Laut Jawa. Menurut Budi kandungan air payau dalam akuarium berpengaruh terhadap pertumbuhan maskoki.

Dugaan ayah 2 anak itu, itu sejalan dengan hasil penelitian ilmiah Fikri Arista dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor. Riset bertujuan mengetahui pengaruh salinitas 3 ppt dan kesadahan moderat terhadap kualitas maskoki. Hasil penelitian  menyebutkan  kualitas  ikan kelompok perlakuan salinitas 3 ppt lebih baik ketimbang kelompok kontrol. Itu dilihat dari jumlah maskoki apkir. Pada kelompok kontrol ikan apkir mencapai 21%, kelompok perlakuan: 6%. Kesehatan ikan yang baik berpengaruh pada nafsu makan. Akibatnya tubuh maskoki lebih besar dan sehat.

Pakan terbaik

Selain akuarium dan sistem filter yang mumpuni, Budi pun sangat memperhatikan pakan. Ia memberikan pelet impor pada maskoki kesayangan. Budi menggunakan timer untuk membantu memberi pakan agar teratur. Dalam sehari Budi 10—12 kali memberi pakan. Selain itu, setiap pagi Budi memberikan 140 g tahu jepang rasa udang. “Tahu dapat memperlancar pencernaan maskoki,” kata Budi. Caranya ia memotong tahu itu menjadi berbentuk dadu seukuran biji kacang hijau. Ia menuturkan kandungan udang dalam tahu bisa mencerahkan warna ikan.

Itu sejalan dengan hasil riset Imam Sholichin, Kiki Haetami, dan Henhen Suherman dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Univeristas Padjadjaran, Bandung, Jawa Barat. Penelitian Imam dan rekan bertujuan mengetahui dosis tepat pemberian tepung udang rebon yang dapat mendongkrak warna maskoki. Mereka menambahkan tepung udang rebon dengan dosis berbeda (0%, 5%,10%, 15%, 20%) ke dalam pakan. Setelah 40 hari, Imam dan rekan menguji perubahan warna pada ikan menggunakan chromameter.

Hasil riset itu menunjukkan penambahan 10% tepung udang rebon dari total pakan buatan memberikan peningkatan nilai chroma 25,97. Artinya warna yang muncul kuning. Semakin tinggi nilai chroma semakin merah warna ikan yang diukur. Dengan perawatan maksimal pehobi mudah mendapatkan maskoki jawara. (Riefza Vebriansyah)

 

 

FOTO:

  1. Akuarium luas dan dalam cocok untuk menempa maskoki juara
  2. Ryukin superjumbo milik Budi meraih GC di kontes maskoki nasional pada April 2013
  3. Budi menargetkan maskoki miliknya meraih GC di setiap kontes maskoki
  4. Terdapat lebih dari 60 maskoki di dalam akuarium jumbo milik Budi
  5. Sistem filter tabung cocok untuk kolam di lahan sempit
 

Powered by WishList Member - Membership Software