Jimmy Halim: Juragan Bingkai, Kini Juragan Sayuran

Filed in Topik by on 01/01/2014
Jimmy Halim mengebunkan sayuran hidroponik sejak 2010

Jimmy Halim mengebunkan
sayuran hidroponik sejak 2010

Di saat banyak pekebun hidroponik berguguran, Jimmy Halim malah membuka kebun hidroponik seluas 4.000 m2.

Pilihannya berkebun sayuran secara hidroponik membingungkan banyak orang. Bahkan ayahnya bertanya, “Buat apa sih menanam sayuran segala?” Pertanyaan bernada mencibir pun datang bertubi-tubi. Harap mafhum, latar belakang pendidikan Jimmy sangat jauh dari dunia tanam-menanam. Ia sarjana komputer lulusan salah satu perguruan tinggi di Amerika Serikat. Penghasilan Jimmy dari pabrik bingkai foto yang sukses menembus pasar ekspor juga lebih dari cukup.

Apalagi untuk memulai budidaya sayuran hidroponik butuh biaya investasi sangat mahal. “Untuk membuat rumah tanam saja saya habis ratusan juta rupiah,” kata Jimmy. Namun, berbagai rintangan itu tak menyurutkan langkah Jimmy untuk memproduksi sayuran hidroponik. Ia termotivasi setelah melihat tayangan televisi dalam pesawat menuju Amerika Serikat yang menyebut budidaya hidroponik membantu mengurangi pemanasan global.

Otodidak

Dari luas areal tanam 3.500 m2 Jimmy Halim menghasilkan 150—200 kg sayuran hidroponik per hari

Dari luas areal tanam 3.500 m2 Jimmy Halim menghasilkan 150—200 kg sayuran hidroponik per hari

Sejak itu Jimmy getol mencari literatur tentang budidaya hidroponik dari buku dan situs-situs di internet. Ia juga mengikuti pelatihan hidroponik di salah satu farm hidroponik di kawasan Parung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Pada awal 2010 ia mulai membudidayakan sayuran hidroponik dengan membentuk tim kecil yang terdiri atas beberapa karyawan PT Curug Lestari Maju, perusahaan produsen bingkai foto milik Jimmy. Ia lalu menyewa kontraktor untuk membangun rumah tanam seluas 1.200 m2.

Sambil menunggu pembangunan rumah tanam selesai, Jimmy melakukan beberapa uji coba. Ia membangun rumah tanam sederhana seluas 300 m2. Di rumah tanam itu Jimmy membudidayakan melon, tomat ceri, dan mentimun dalam polibag berisi media tanam serbuk gergaji. Pemberian nutrisi menggunakan irigasi tetes.

Jimmy juga melakukan percobaan teknik budidaya rakit terapung. Ia membeli 2—3 buah drum plastik berkapasitas 200 liter, lalu membelahnya secara vertikal menjadi dua bagian. Ayah satu anak itu kemudian mengisi drum dengan larutan nutrisi. Selanjutnya ia meletakkan papan stirofoam yang telah diberi lubang tanam di permukaan larutan nutrisi.

Di rumah tanam itu ia juga mencoba teknik rakit apung di kolam terpal berukuran 1 m x 2 m. Jimmy menanam aneka jenis sayuran daun seperti bayam, kangkung, dan pakcoy. Hasil uji coba itu ternyata berhasil, Jimmy panen beragam sayuran. “Hasil panen saya bagikan ke keluarga dan rekan-rekan,” ujarnya. Di rumah tanam lain seluas 250 m2 ia menanam pakcoy dalam polibag berisi media tanam serbuk gergaji yang diberi nutrisi melalui irigasi tetes. Ia juga melakukan ujicoba budidaya kangkung menggunakan teknik film nutrisi atau nutrition film tecnique (NFT).

Strategi pasar

Pembangunan rumah tanam seluas 1.200 m2 akhirnya selesai. Rumah tanam itu berbentuk terowongan tunel dengan ventilasi pada bagian punggung atap. Di rumah tanam baru itu Jimmy membudidayakan bayam merah dan hijau, pakcoy, selada, kailan, serta caisim menggunakan tiga teknik: NFT, rakit apung, dan aeroponik.

Saat itulah ia mulai membuka jejaring pasar. Jimmy melakukan penawaran ke beberapa toko buah dan sayuran di Jakarta dengan mengirimkan produk contoh. Ia mengemas produk dengan kemasan plastik bermerek Jiri Farm. Nama Jiri diambil dari nama Jimmy dan Richard, nama anak semata wayang. “Kalau produk kita dikemas dengan merek, terkesan produk kita dihasilkan secara profesional,” ujarnya.

Jimmy juga menawarkan spesifikasi produk dengan harga lebih murah. “Jika produk lain dijual dengan harga Rp15.000 per 250 g di tingkat konsumen, maka produk saya bisa dijual Rp12.000, tapi bobotnya hanya 200 g,” ujar Jimmy. Strategi itu membuat harga tampak lebih terjangkau.

Upaya itu membuahkan hasil. Beberapa toko mulai mengajukan permintaan pasokan dengan sistem pembayaran konsinyasi. Toko hanya membayar produk yang laku, sementara barang sisa dikembalikan. Sebagai “pendatang baru”, Jimmy terpaksa menerima mekanisme pembelian berisiko tinggi itu. Harap mafhum dalam konsinyasi kerugian akibat produk tidak laku seluruhnya ditanggung Jimmy.

Bermitra

Pucuk dicinta ulam tiba. Pada akhir 2011 Jimmy mendapat tawaran kerja sama menjadi mitra untuk memasok salah satu produsen sayuran hidroponik terbesar di tanahair. Perusahaan itu bersedia membeli hasil produksi Jimmy dengan sistem beli putus. Pengemasan menggunakan merek perusahaan itu.

Jimmy menerima tawaran kerja sama itu. Karena sudah ada jaminan pasar, ia pun meningkatkan kapasitas produksi dengan menambah rumah tanam hingga total menjadi 4.000 m2 di Kecamatan Curug, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten. “Dari luasan itu baru 3.500 m2 yang tertanami,” ujar pria 54 tahun itu. Seluruhnya menggunakan teknik budidaya NFT.

Budidaya secara aeroponik ditinggalkan karena banyak kendala seperti ujung nozel yang sering mampat sehingga pertumbuhan tanaman tidak optimal. Teknik rakit apung juga dihentikan. “Dalam teknik rakit apung perlu tambahan aerasi dalam larutan nutrisi sehingga perlu tambahan modal untuk membeli aerator,” kata pria yang hobi mendesain itu.

Dari luas areal tanam itu Jimmy memanen 150—200 kg sayuran setiap hari. Paling banyak bayam merah dan hijau (40—50%), caisim (12%), kailan (8—9%), kangkung (10—15%), selada (3%), serta pakcoy hitam dan putih (9—10%). “Produksi bayam merah lebih banyak karena permintaannya tinggi,” ujar Jimmy. Perusahaan rekanan menyukai produk bayam merah Jiri Farm karena warnanya lebih cerah dibandingkan mitra lain.

Sebanyak 50% hasil panen Jiri Farm untuk memenuhi kebutuhan perusahaan rekanan, sisanya dijual dengan merek sendiri. “Kali ini beberapa toko mulai bersedia membeli putus. Pasar sudah tidak ada masalah,” kata Jimmy. Hasil penjualan mampu menopang seluruh biaya produksi usaha budidaya hidroponik, bahkan mendatangkan untung. Cibiran kini berganti dengan pujian. “Keluarga dan orangtua saya bahkan senang sekali mengonsumsi sayuran dari kebun saya karena lebih enak,” kata sang juragan sayuran. (Imam Wiguna)

 

 

FOTO:

  1. Jimmy Halim mengebunkan sayuran hidroponik sejak 2010
  2. Dari luas areal tanam 3.500 m2 Jimmy Halim menghasilan 150—200 kg sayuran hidroponik per hari
  3. Bayam merah produk utama Jiri Farm
  4. Produk habis diserap perusahaan rekanan dan pasar dengan merek sendiri
 

Powered by WishList Member - Membership Software