Jeruk : Sehektare 1.600 Pohon

Filed in Buah, Majalah by on 04/09/2019

Populasi sitara 900—1.500 pohon per hektare.

 

Tanam jeruk populasi padat hasil meningkat.

Lazimnya pekebun membudidayakan 400—500 pohon jeruk per hektare. Sutopo melipatgandakan populasi hingga 4 kali lipat, yakni hingga 1.600 pohon per hektare. Sutopo menguji coba sistem tanam rapat di Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur. Produksi mencapai 20 ton per hektare. Padahal, umur pohon baru 17 bulan. “Itu setara dengan sistem tanam biasa pada jeruk usia dewasa umur lima tahun ke atas,” ujar Sutopo.

Periset jeruk di Balai Penelitian Jeruk dan Buah Sub Tropika, Ir. Sutopo, MSi (kiri)

Produksi pohon anggota famili Rutaceae berumur 17 bulan rata-rata 5 kg per pohon. Sementara di Banyuwangi produksi mencapai 20 kg per pohon. Ir. Sutopo, MSi periset di Balai Penelitian Jeruk dan Buah Sub Tropika (Balitjestro) menyebut inovasi itu sitara akronim dari sistem tanam rapat. “Populasi ditingkatkan hasil otomatis mengikuti,” ujar master Ilmu Tanah alumnus Institut Pertanian Bogor itu.

Biaya produksi

Sutopo terinspirasi dengan sistem tanam jeruk di Tiongkok berpopulasi 1.800—2.000 tanaman per ha. “Wajar kalau bisa ekspor karena biaya produksi lebih efisien dibandingkan dengan tanam konvensional atau jarak renggang,” ujar Sutopo. Menurut Sutopo biaya produksi per hektare lahan populasi 500 tanaman dan 1.000 tanaman tidak jauh berbeda. “Jadi, tinggal kita efisienkan biaya tenaga kerja, pupuk, dan pestisida,” ujarnya.



Ringkasnya sitara merupakan pertanaman jeruk yang ditanam dengan populasi tinggi dari populasi normal, yang menggunakan teknologi spesifik. Tujuannya meningkatkan produktivitas lahan dengan mutu buah yang baik agar diperoleh keuntungan maksimal. Oleh karena itu, Ir Sutopo, MSi dan tim dari Balitjestro menyiapkan teknologi pendukung sitara. Perbedaan sitara dengan sistem tanam konvensional tak hanya pada jarak tanam.

“Sitara lebih murah biaya produksi per pohon, plus modal cepat kembali. Namun pemeliharaan lebih susah dibandingkan dengan sistem tanam konvensional. Di situ tantangannya,” ujar Sutopo. Model tanam sitara menggunakan baris ganda yang membujur dari arah utara ke selatan. Tujuannya agar semua tanaman terkena sinar matahari secara merata. Populasi per hektare menyesuaikan keinginan pekebun.

“Per hektar bisa 956 pohon, 1.201 pohon, atau 1.601 pohon,” ujar Sutopo. Jika pekebun menginginkan populasi 956 pohon per hektare jarak tanam 4 m x 5 m baris pertama, baris kedua 2,5 m x 4 meter. Adapun untuk populasi 1.201 pohon per hektare, jarak tanam baris pertama 4 m x 4 m, baris kedua 2 m x 4 m. Jika populasi 1.601 pohon per hektare, jarak tanam baris pertama 3 m x 4 m, sementara baris kedua 1,5 m x 4 m.

Selain jarak tanam, pada sistem sitara, Ir Sutopo mengerdilkan tanaman jeruk. “Tujuannya agar pekebun mudah merawat sehingga menghasilkan buah berkualitas,” ujarnya. Tekniknya dengan memangkas sejak tahun pertama penanaman. Tahun pertama pangkas tunas yang tumbuh pada batang bagian bawah. Pangkas pula cabang-cabang yang tumbuh di bidang okulasi.

Sitara butuh perawatan intensif.

“Pada tahun pertama pemangkasan sudah dimulai, tetapi jangan berlebihan,” ujarnya. Pada tahun kedua, pangkas cabang sejajar, cabang yang muncul dari satu tempat, cabang yang tumbuh pada ketinggian yang sama, cabang sakit, dan cabang yang tumbuhnya dominan. Pada tahun ketiga, pangkas seperti pada tahun kedua plus pilih 4—5 cabang ideal sebagai calon cabang utama. “Nantinya terpilih 3—4 cabang utama dan tinggi tanaman maksimal 2 meter,” ujar lelaki kelahiran 10 Desember 1965 itu.



Setelah pemangkasan, yang tak kalah penting adalah manajemen pemupukan. “Nutrisinya harus lengkap baik makro maupun mikro. Formulanya disesuaikan dengan tanaman jeruk. Balitjestro menyiapkan pupuk lambat urai dengan komposisi 15—22% Nitrogen, 5—10% P2O5 (fosfor), 5—10% K2O (kalium), 5—10% Ca (kalsium), 3—7% Mg (magnesium), 5—7% S (sulfur), 0,05—0,1% Fe (besi).

Unsur hara lain berupa 0,01—0,05% Mn (mangan), 0,02—0,05% Zn (seng), 0,021—0,05% Cu (tembaga), dan 0,01—0,05% B (boron). Pemberian nutrisi yang cukup sejatinya mampu menahan serangan hama dan penyakit karena tanaman lebih kuat. “Keberhasilan jeruk sitara bergantung pada kemampuan mengatasi persaingan nutrisi dalam tanah dan persaingan tanaman di atas tanah,” ujarnya. (Bondan Setyawan)

Tags: , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software