Jeruk nusantara

Filed in Uncategorised by on 30/11/2012 0 Comments

Menyambut akhir tahun, biasanya buah berlimpah. Ada rambutan, matoa, mangga, delima, dan terutama jeruk. Saya beruntung, di bandar udara Nabire, seorang teman menghadiahkan satu kotak jeruk, hasil budidaya para transmigran. Jeruk nabire! Konon manisnya mengalahkan buah jeruk impor. Sambil menjinjing kotak jeruk itu, terbayanglah semua jeruk yang pernah kita nikmati dalam hidup ini.

Ada jeruk bali, jeruk garut, jeruk pontianak, jeruk banjar, jeruk kutai, jeruk jambi, dan mungkin jeruk setempat di kampung halaman Anda. Yang penting, kita sadari paling tidak Indonesia dengan 240 juta jiwa paling sedikit perlu 2,5 juta ton jeruk setiap tahun. Sekitar 250.000 ton masih harus diimpor. Itu sebabnya kita bertemu dengan jeruk mandarin, pamelo, dan jeruk siam di jalan-jalan.

Sepuluh besar

Perkenalan pertama saya dengan jeruk terjadi pada akhir 1950-an. Ketika itu almarhum kakek berkebun jeruk keprok Citrus sinensis di wilayah Kotamadya Batu, Provinsi Jawa Timur. Demikian enaknya jeruk keprok itu, sehingga kulitnya pun bisa dimakan sebagai penyedap trancam mentimun dengan bumbu kacang. Sayangnya, perkebunan jeruk tidak bertahan lama karena serangan penyakit, disusul introduksi bual apel manalagi pada awal 1970-an.

Namun, jeruk keprok tetap dapat dikonsumsi, teristimewa di tempat-tempat dengan elevasi di atas 600 meter di atas permukaan laut. Bahkan, kawasan tempat tinggal kakek sekarang terkenal sebagai lahan penelitian buah sub-tropis yang melahirkan pakar-pakar jeruk berkelas nasional dan internasional. Sampai 2012 lewat pun, keprok batu (varietas 55) masih memimpin perjerukan nasional bersama keprok SoE dari Nusa Tenggara Timur, keprok tawangmangu (Jawa Tengah), dan keprok garut (Jawa Barat).

Dari pusat penelitian jeruk di desa kelahiran ibu dan kakek saya, Junrejo, itulah, kini dilansir stategi keprokisasi untuk tingkat nasional. Ketika saya pulang dengan menjinjing satu kotak jeruk nabire dari Papua tengah, hati terasa berbunga-bunga karena jeruk dibudidayakan di berbagai pelosok Indonesia. Sayangnya, memang jeruk nabire dengan harga Rp8.000-Rp 10.000 tergolong murah bila dibanding jeruk medan dan jeruk pontianak yang Rp20.000 per kilogram.

Dengan rekor Rp20.000 per kilogram itu pun jeruk terbaik kita harus menghadapi jeruk mandarin impor yang turun ke jalan dengan harga Rp15.000. Dengan produksi nasional sekitar 2,2 juta ton, Indonesia termasuk sepuluh besar produsen jeruk dunia. Produsen terbesar adalah China (16,7 juta ton) disusul Amerika Serikat (8,2 juta ton). Teorinya, kalau produksi jeruk optimal, negeri kita tidak perlu impor. Bahkan, kita bisa mengekspor jeruk sampai 700.000 ton.

Namun, sejak lima tahun belakangan, kita melanggani jeruk kinnow impor dari Pakistan. Pada saat menyambut tahun baru, biasanya jeruk dari China, Thailand, membanjiri pasar. Teristimewa ponkam dan tankam dari Taiwan. Tercatat 16 negara ikut mengirim jeruk ke Indonesia, termasuk Australia dan Argentina. Zainuri Hanif dan Lizia Zamzami, staf peneliti di Balai Penelitian Jeruk dan Buah Subtropis, menyampaikan upaya menangkal impor jeruk.

Idealnya pemerintah memperketat larangan impor jeruk yang mengandung bahan pengawet seperti formalin. Langkah lain adalah mendorong kemudahan transportasi, distribusi, dan produksi jeruk dari berbagai daerah. Sebagai contoh, mengangkut jeruk dari Pakistan. Ketiga, tentunya menggiatkan program “keprokisasi nasional” termasuk promosi dan pengembangan jeruk di tiap daerah yang menunjukkan keunggulannya.

Masuk istana

Total kebun jeruk nasional mencapai 62.000 hektar. Jika setiap hektar menghasilkan 20 ton setahun, sedikitnya diperlukan 70.000 hektar. Begitu, perhitungan para ahli jeruk dari Batu. Hebatnya, Nabire menunjukkan produksi yang luar biasa. Luas lahan yang ditanami hanya 602 hektar dan yang berhasil dipanen baru 290 hektar. Berapa hasilnya? Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Nabire, Ir Purwati, mengatakan, produksi rata-rata 40 ton per hektar dengan dua kali panen raya dalam setahun.

Purwati juga lulusan dari Balai Penelitian Jeruk di dusun Junrejo, Batu. Pada kemasan jeruk 4 kg yang saya jinjing tertulis: produk Bumi Wonorejo! Astaga! Itu adalah nama desa nenek saya di Malang selatan. Sungguh pengalaman pribadi yang mengharukan. Jadi, dengan produk terbatas pun, jeruk nabire mampu mengambil hati penggemar, khususnya saya. Namun, jangan heran kalau Anda juga melihat kemasan serupa di seluruh penjuru Papua, termasuk Sorong, Manokwari, Jayapura, dan Biak.

Bagaimana hal itu bisa terjadi? Pada perayaan hari Proklamasi Kemerdekaan tahun 2010, sebanyak 250 kilogram jeruk nabire dibawa ke Istana Merdeka Jakarta, dan ternyata mendapat sambutan positif. Sejak saat itu, kemasan empat dan enam kilogram jeruk nabire banyak ditenteng di bandara. Sampai di bandara Soekarno Hatta pun saya melihat belasan kotak kardus serupa.

Mantan Bupati Nabire, Anselmus Petrus Youw, dengan bangga dan haru dalam berbagai kesempatan menceritakan produk agribisnis itu sebagai keistimewaan daerahnya. Pengurus Himpunan Pencinta dan Pengusaha Tanaman Hias (HP2TH) Nabire, Phlipus Radja Dalla, membenarkan hal itu. Ia hanya menyayangkan, pada saat produk berlimpah, harganya bisa anjlok sampai Rp6.000, bahkan Rp5.000. Padahal, manisnya tidak berkurang.

Benarlah yang dilukiskan Trubus tiga tahun silam, bahwa perjuangan jeruk lokal melawan jeruk impor, ibarat pertarungan David melawan Goliath. Untungnya, kita semua sudah tahu, siapa yang bakal menang. Kepala Balai Penenilian Jeruk, Dr, Ir. Hardiyanto, Msc berkata, “Balitjestro telah memproduksi 1072 tanaman jeruk dalam bentuk Blok Fondasi (BF) setara Benih Dasar dan 6706 tanaman jeruk sebagai Blok Penggandaan Mata Tempel (BPMT) setara Benih Pokok yang sebagai besar adalah pesanan dari beberapa Provinsi.”

Yang saya lihat di Nabire, satu di antara hasilnya yang luar biasa dan menembus tingkat nasional. Padahal, ditambahkan lagi, ”Hingga saat ini, telah dibangun BF maupun BPMT jeruk masing-masing di 16 dan 18 Provinsi melalui pemerintah pusat maupun pemerintah daerah yang sumber benihnya berasal dari Balitjestro. Keberadaan BF maupun BPMT jeruk merupakan kekuatan dalam memenuhi kebutuhan benih jeruk keprok di Indonesia.”

Semoga konsumsi buah bangsa Indonesia yang baru berkutat di angka 34 kg per kapita pertahun, bisa meningkat sampai 65 kg per kapita seperti yang digariskan Badan Pangan Dunia, FAO. Tetapi bagi kita, yang lebih penting, bagaimana bisa menenuhi jeruk untuk konsumsi nasional, sehingga tidak dilindas oleh impor. Bahkan dari desa-desa transmigran di Nabire, harapan besar tetap menyala, ***

Keterangan Foto :

  1. Jeruk keprok batu 55
  2. Eka Budianta*
 

Powered by WishList Member - Membership Software