Jemput Minyak Lebih Banyak

Filed in Laporan khusus by on 02/12/2012 0 Comments

Teknik andal menyuling nilam dengan rendemen 3%. Tiga penyuling di Bogor dan Kuningan (Jawa Barat) serta Klaten (Jawa Tengah) sudah membuktikan.

Bertahun-tahun menyuling nilam, Sugiarto di Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah, hanya menuai rendemen maksimal 2% saat menyuling pada musim kemarau. Pada musim hujan, penyuling berpengalaman 7 tahun itu malah hanya mendapat rendemen 1,6-1,7%. Sugiarto menggunakan teknik konvensional dengan ketel setinggi 4 m berdiameter 1,5 m. Ketel itu mampu menampung 4 kuintal daun layu.

Menurut Suwandi dari PT Djasula Wangi, eksportir minyak asiri di Jakarta, rata-rata rendemen suling nilam di tingkat penyuling tradisional maksimal 2%. Angka itu berarti dari 100 kg bahan baku daun nilam layu penyuling memperoleh 2 kg minyak. Jika penyuling mampu menaikkan rendeman 1% saja maka dengan bahan baku sama penyuling memanen 3 kg. Dengan harga nilam pada November 2012 sebesar Rp350.000 per kg, maka peningkatan rendemen 1% berarti kenaikan pendapatan penyuling senilai Rp350.000.

Daun layu

Dra Yulfi Zetra MS, pengajar di Jurusan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya, Provinsi Jawa Timur, menuturkan istilah rendemen pada penyulingan minyak asiri merujuk pada rasio jumlah minyak yang dihasilkan dibanding bahan baku yang masuk ke dalam ketel. “Jadi bukan dari daun segar, ini yang sering masyarakat awam keliru,” kata Yulfi.

Umumnya menurut Dr Ir Rosihan MS, peneliti nilam di Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Bogor, Provinsi Jawa Barat, penyusutan daun layu berbagai varietas nilam sekitar 25% dari daun segar. Artinya, 100 kg daun layu Pogostemon cablin berasal dari 400 kg daun segar. Kadar minyak pada daun layu mencapai 5%.

Dengan teknologi tepat Nano Wijayatno di Kuningan, Provinsi Jawa Barat, Sugono di Bogor, Provinsi Jawa Barat, dan Haryanto di Klaten, Provinsi Jawa Tengah mampu menuai rendemen 3%. Nano, penyuling minyak asiri selama 3 tahun, mampu menuai minyak nilam berendemen 3% dengan mengatur tekanan dan suhu pada mesin penyuling.

Nano menggunakan ketel berkapasitas 1 ton. Sekali menyuling ia menggunakan 600 kg bahan baku berupa daun nilam layu dari Kuningan. Bahan baku daun nilam segar berasal dari hasil penanaman di dataran rendah dan kering; bukan daerah banyak air. Pada awal proses penyulingan Nano mengatur tekanan alat suling pada 0-0,5 bar. Setelah hasil sulingan berupa air bercampur minyak (disebut destilat, red) mulai menetes, ia menaikkan tekanan secara bertahap menjadi 1-1,5 bar.

Atur tekanan

Setelah minyak mengalir lancar, di tengah-tengah proses penyulingan Nano menaikkan tekanan menjadi 2 bar. Durasinya cukup 15-30 menit untuk menguapkan komponen minyak dengan titik didih tinggi. Penggunaan tekanan tinggi dengan durasi lebih lama menyebabkan kualitas minyak menjadi jelek: warnanya keruh. Setelah 30 menit, Nano mengembalikan pada tekanan 1-1,5 bar.

Menurut alumnus Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor itu di dalam daun nilam terdapat beberapa komponen minyak dengan titik didih di atas 1000C, bahkan mencapai 2000C. Saat penyulingan, komponen minyak daun nilam “dipaksa” menguap bersama air yang titik didihnya hanya 1000C pada tekanan 1 atm (setara 1,01325 bar). “Artinya butuh manipulasi tekanan agar minyak dalam daun ikut terlepas bersama air yang titik didihnya hanya 1000C,” kata Nano.

Nano mengubah tekanan dengan mengatur jumlah uap yang masuk ke saluran berupa pipa berbentuk leher angsa di alat suling. Untuk menaikkan tekanan, Nano mengatur keran pada ujung saluran agar bukaannya kecil sehingga kecepatan semburan uap meningkat. Prinsipnya seperti ketika kita menyemprot tanaman menggunakan selang secara manual. Begitu kita memencet ujung selang, jalur keluar air mengecil, tapi tekanan air lebih besar. Demikian sebaliknya.

Perubahan tekanan terbaca di manometer. Semakin tinggi tekanan, suhu pun kian panas. Dengan cara itu, Nano mampu memperoleh rata-rata 18 kg minyak dari 600 kg bahan baku alias rendemen 3%. Penyuling tradisional hanya 12 kg. Sudah begitu, prosesnya lebih cepat: 5-6 jam hingga destilat bebas minyak. Pada penyulingan tradisional lazimnya membutuhkan waktu hingga 12 jam. Nano membuktikan hasil itu selama 3 bulan berturut-turut pada 2009. Frekuensi menyuling 2-3 kali dalam seminggu.

Hingga 4%

Pengalaman Sugono, di Bogor, lebih spektakuler dengan hasil rendemen 4%. Untuk mendapat rendemen tinggi Sugono sangat memperhatikan kualitas bahan baku. Ia meminta pekebun memanen nilam maksimal pukul 08.00 pagi untuk menghindari laju fotosintesis yang sangat kuat. Daun yang dipetik pagi hari mengandung minyak lebih banyak. Sugono mengeringanginkan daun selama 2-3 hari agar layu dan berkadar air 15%. Setelah itu ia memasukkan daun dan ranting itu ke ketel berkapasitas 250 kg. Seluruh bagian alat suling berbahan baku besi nirkarat agar kualitas minyak bagus.

Sugono meriset, setiap menit proses penyulingan menghasilkan 1 kg uap panas yang ditampung di destilator. Dalam uap panas itu terdapat 0,5% minyak nilam. Jika ia ingin uap air membawa 1% minyak, maka ia harus menyediakan 2 kg uap panas per menit. Untuk itu kelahiran Cirebon 15 Mei 1960 itu menambah sumber kalori-dari gas industri-supaya uap panas meningkat 100%. Dengan meningkatkan kalori, uap panas yang dihasilkan boiler pun meningkat sehingga minyak cepat keluar. Maka waktu penyulingan lebih singkat: hanya 5-6 jam.

Pada 1,5 jam pertama, Sugono mempertahankan suhu 90-1000C dengan tekanan 0 bar. Tujuannya untuk mengeluarkan senyawa terpen. Baru kemudian ia meningkatkan suhu menjadi 1200C dan tekanan 1 bar pada jam berikutnya hingga penyulingan selesai. Tujuannya agar kadar patchouli alcohol (PA)-kandungan utama minyak nilam-dapat ditarik. Maklum, PA baru mendidih pada suhu itu. Dengan cara itu Sugono menghasilkan minyak nilam berkadar PA tinggi 35-40%. Dengan rendemen 4%, dari bahan baku daun nilam layu 250 kg ia memperoleh 10 kg minyak nilam.

Dengan teknik mirip Nano dan Sugono, Haryanto di Klaten, Jawa Tengah, mampu menjemput minyak nilam dengan rendemen 2,2%. Haryanto memilih daun nilam yang tebal dan sempit karena kaya minyak. Untuk itu ia berani membeli bahan baku berkualitas dengan harga tinggi. Misal daun yang tebal dan sempit Rp1.500 per kg; daun tipis dan lebar Rp1.300 per kg. Alat penyulingan berbahan baku pelat baja nirkarat.

Dari 90 kg bahan baku ia memperoleh 2 kg minyak alias rendemen 2,2%. Berkaca pada ketiganya pemilihan bahan baku, penggunaan alat suling berbahan baku besi nirkarat, serta kontrol suhu dan tekanan selama proses penyulingan menjadi kunci menjemput minyak nilam lebih banyak. (Ridha YK, kontributor Trubus di Kalimantan Selatan/Peliput: Argohartono Arie Raharjo)

 

Tiga Cara Tinggi Rendemen

Keterangan Foto :

  1. Minyak nilam kualitas baik didapat dari bahan baku baik dan cara suling tepat
  2. Haryanto, pilih bahan baku daun nilam yang tebal dan sempit karena lebih banyak mengandung minyak
  3. Penyulingan dengan pengaturan tekanan secara bertahap mampu menjemput minyak yang titik didihnya di atas air
  4. Nani Wijayatno, suling minyak nilam dengan rendemen 3% di Kuningan, Jawa Barat
  5. Dibutuhkan 3 manometer di bagian bawah, tengah, dan atas ketel untuk memantau tekanan ketel sepanjang penyulingan
  6. Sugono, suling minyak nilam hingga 4% dengan memantau waktu panen nilam dan meningkatkan kalori selama penyulingan
  7. Rendemen dihitung dari jumlah daun layu yang dimasukkan ke dalam alat suling, bukan dari daun segar
 

Powered by WishList Member - Membership Software