Jelmaan Delima Spanyol

Filed in Buah, Majalah by on 08/01/2020

Perbandingan delima spanyol merah (kiri) dengan delima karst (kanan).

 

Delima karst merupakan penyimpangan delima spanyol. Cita rasa lebih manis dan ukuran lebih besar.

Buah delima karst masih menggantung di pohon delim halaman Budi.

Budi Kuncoro girang bukan main ketika delima spanyol di halaman rumahnya berbuah. Pehobi tanaman buah di Wonosari, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta, itu mendapatkan pohon tanaman delima spanyol dari pasar daring. Pada umur 10 bulan setelah tanam, pohon itu magori atau berbuah perdana. Budi memetik buah matang dan mengumpulkan bijinya.

Kemudian pria 47 tahun itu menyemai biji-biji delima di pot bermedia tanam campuran sabut kelapa dan sekam bakar. Dari 400 semaian biji berhasil tumbuh sekitar 300 tanaman. Alumnus Pendidikan Ahli Usaha Perkebunan (PAUP) Yogyakarta itu merawat tanaman. Ia rutin memberi satu sendok teh pupuk NPK 16-16-16 per tanaman. Interval pemberian pupuk 1 bulan. Setahun berselang 300 tanaman delima itu berbunga untuk kali pertama.

Lebih manis

Menurut Budi pertumbuhan salah satu tanaman aneh. Pohon delima spanyol itu memiliki bunga berwarna merah muda. Lazimnya bunga tanaman anggota famili ‎Lythraceae itu berwarna merah terang. Setelah sepekan buah-buah Punica granatum dengan ciri khas berbiji lunak mulai mencuat dari tajuk pohon. Ia memantau pohon berbunga aneh. Buah yang muncul dari pohon berbunga merah muda itu juga berbeda dari buah di tanaman-tanaman lainnya.

Delima cocok dijadikan tabulampot.

Kulit buah berwarna kuning dan ukuran buah lebih besar ketimbang delima spanyol merah. Sayangnya Budi tidak pernah menimbang bobot buah. Namun, budi memperkirakan dari ukuran buah, bobot delima karst 1,5 kali lebih besar ketimbang delima spanyol. Butiran daging buah delima pun berwarna putih. Keanehan berlanjut setelah Budi mencicipi daging buah yang ternyata lebih manis. Delima spanyol merah cenderung agak masam.

Budi menamai pohon delima itu delima karst lantaran kediamannya di Wonosari terdapat kawasan Gunungsewu yang menjadi bagian UNESCO Global Geopark. Rekan Budi, Wahyu Wibowo, mencicipi delima karst berwarna putih dan berbentuk lebih besar. Ia membandingkan dengan delima lokal yang juga disuguhkan oleh Budi, rasanya lebih manis dan bulir buah langsug bisa dimakan secara utuh karena berbiji kecil.

Bunga delima spanyol lazimnya berwarna merah.

Buah delima karst hampir sempurna. Sayangnya, penampilan buah kurang menarik lantaran daging buah tak merah seperti delima spanyol pada umumnya. Kini Budi memiliki 3 pohon anakan delima karst yang berasal dari indukan berumur 2 tahun. Pria kelahiran Gunungkidul itu memperbanyak delima karst secara vegetatif melalui cangkok. ”Sebulan saya memproduksi 10—20 cangkokan delima karst,” kata Budi.

Tabulampot

Budi Kuncoro pehobi tanaman buah di Wonosari, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta.

Budi menanam delima karst di pot atau tabulampot. Menurut Budi perawatan dan produktivitas tanaman sama saja dengan jenis delima sponyol. “Malah delima karst memiliki bobot buah lebih besar. Artinya produktivitas delima karst lebih baik,” ujar Budi. Pohon delima karst tabulampot, seperti delima spanyol, akan berbuah setelah 1 tahun ditanam dari cangkokan.

Tanaman delima karst menghasilkan buah perdana sebanyak 3—5 buah per tanaman pada pembuahan pertama. Tentu saja delima karst juga dapat ditanam langsung di tanah. Menurut Budi tidak ada perawatan khusus delima karst. Ia hanya perlu memangkas untuk menghilangkan cabang-cabang kecil, tidak produktif, atau terlalu panjang. Pekerja harian lepas di Balai Penyuluhan Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan (BP3K) Wonosari itu memperkirakan harga delima karst lebih mahal daripada delima spanyol. (Tamara Yunike)

Tags: , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software