Jeli Kenali Pupuk Hayati

Filed in Topik by on 01/11/2009 0 Comments

Jumlah produk pupuk hayati yang beredar itu jauh lebih banyak ketimbang 2005 (5 merek). Menurut Prof Dr Ir Tualar Simarmata MS ini fenomena menarik. ‘Banyak beredarnya pupuk hayati menunjukkan semakin baiknya kepedulian masyarakat pada lingkungan,’ kata dosen Jurusan Tanah Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran di Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat.

Selain ramah lingkungan, seabrek manfaat melekat pada pupuk hayati. ‘Pupuk hayati membantu meningkatkan pengambilan hara oleh tanaman dari dalam tanah atau udara,’ kata Ibnu Widiyanto, direktur CUTani Sukses Sejahtera, produsen pupuk hayati di Bandung, Jawa Barat. Produsen lain menyebutkan produktivitas tanaman meningkat setelah memakai pupuk hayati. ‘Produk kami meningkatkan produksi tanaman minimal 25% lebih tinggi,’ ujar Hendri H dari PT Sinergy Sejahtera, distributor pupuk hayati Superfarm di Jakarta.

Satu mikroba

Klaim produsen yang menyatakan kenaikan produktivitas hingga 25% sesuatu yang luar biasa. ‘Hal itu mungkin, tapi perlu diingat peningkatan itu tak bisa lepas dari pemakaian pupuk organik,’ ujar Tualar. Harap mafhum mikroba pada pupuk hayati umumnya bersifat heterotrof-perlu senyawa organik untuk hidup. Pupuk hayati sendiri berperan memfasilitasi ketersediaan unsur hara.

Hal senada disampaikan Dr I Nyoman Pugeg Aryantha, dosen Jurusan Mikrobiologi Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati ITB. ‘Bahan organik membuat tekstur tanah gembur sehingga mampu menahan air dan menjaga kelembapan. Kelembapan penting bagi kehidupan mikroba, apalagi tubuh mikroba itu sebagian besar terdiri dari air,’ kata ahli mikroba dari Melbourne University di Australia itu.

Mikroba memang menjadi komponen utama di dalam pupuk hayati. Biasanya produsen akan mencantumkan jenis-jenis mikroba yang dipakainya di label produk. Mikroba yang lazim dipakai jenis nonsimbiotik seperti azotobacter dan azospirillum. Keduanya merupakan bakteri penambat nitrogen. Jenis lain yang digunakan adalah Streptomyces sp dan Lactobacillus sp. Yang disebut terakhir menghasilkan enzim selulosa yang membantu penguraian bahan organik sehingga unsur hara tanah meningkat.

Golongan mikroba pelarut fosfat termasuk yang dicampurkan pada pupuk hayati. Golongan ini penting karena tanaman tidak dapat menyerap fosfat anorganik tanah. Di sinilah peran mikroba mengubah fosfat menjadi unsur yang dapat diserap tanaman. Mikroba-mikroba pelarut fosfat itu antara lain datang dari golongan bakteri seperti Bacillus subtilis, B. cereus, dan flavobacterium. Tak ketinggalan golongan cendawan seperti Aspergillus niger.

Efektifkah penggabungan mikroba di satu media? Menurut Dr I Djatnika, periset Puslitbang Hortikultura Deptan, setiap pupuk hayati sebaiknya mengandung satu mikroba. ‘Riset kami menunjukkan pencampuran beberapa mikroba tidak signifikan dalam meningkatkan produksi. Yang terjadi mereka saling berkompetisi,’ ujar mantan kepala Balai Penelitian Tanaman Buah (Balitbu) Tropika Solok itu. Kompetisi yang dimaksud seperti persaingan ruang, saling menjadi parasit, atau antarmikroba mengeluarkan senyawa kimia yang dapat merugikan mikroba lainnya.

Boleh jadi kondisi itu pula yang mendorong Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia (BPBPI) membuat pupuk hayati berbentuk granular alias butiran. Menurut Dr Darmono Taniwiryono setiap mikroba pada pupuk hayati butuh media hidup berbeda. ‘Karena itu tiap-tiap mikroba dan media hidupnya pada produk kami diolah dulu dalam bentuk granul. Granul-granul itu kemudian disatukan,’ kata kepala BPBPI itu. BPBPI memakai mikroba seperti Aeromonas punctata, Aspergillus niger, Azospirillum lipoverum, dan Azotobacter beijerinckii. Asam organik yang dihasilkan keempat mikroba itu dapat meningkatkan kelarutan hara makro seperti N, P, K, Mg, Ca, dan S.

Kontrol

Meski demikian pencampuran mikroba dalam satu media tetap bisa dilakukan. Di sinilah peran formulator pupuk hayati diuji. Ia harus bisa menakar apakah penggabungan mikroba itu bersifat sinergi atau sebaliknya. ‘Hal ini tidak mudah. Idealnya memang satu mikroba untuk satu produk, tapi kenyataan di lapangan produk penggabungan mikroba itu seringkali memberi nilai positif. Masalahnya kemudian, sulit melacak mikroba mana yang paling berperan,’ kata Dra Selly Salma MSi, ahli mikrobiologi dari Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetika Pertanian di Bogor.

Beberapa produsen mungkin saja menambahkan hormon ke dalam produknya. Hal ini tidak disarankan karena memicu mikroba mogok menghasilkan hormon. ‘Mikroba secara alami akan menghasilkan hormon tumbuh,’ kata Darmono. Hormon itu antara lain auksin, giberelin, dan sitokinin.

Batas kedaluarsa mesti dicermati. Produsen pupuk mestinya mencantumkan batas waktu pemakaian pupuk. Itu tak lepas dari ketersediaan sumber pakan mikroba. ‘Pada media yang bagus, mikroba hidup sampai setahun,’ kata Djatnika. Sebaliknya media tak pas membuat mikroba mati dalam hitungan hari atau minggu.

Sebetulnya ada cara mudah mengetes pupuk hayati kedaluarsa terutama yang cair: botolnya tampak menggembung karena mikroba menghasilkan CO2.. Cara lain, tes pakai irisan kentang. Teteskan cairan pupuk di sana. Bila mikroba hidup, di atas irisan itu tumbuh noda-noda. Trichoderma, misalnya, tampak sebagai noda berwarna hijau. (Dian Adijaya S/Peliput: Faiz Yajri, Tri Susanti, dan Ari Chaidir)

^ Perlu kecermatan dalam memilih pupuk hayati

> Pupuk hayati diyakini mampu mendongkrak produksi tanaman hingga di atas 25%

Dr Darmono Taniwiryono, kepala Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia (BPBI)

^ Pemberian hormon pada pupuk hayati membuat mikroba berhenti memproduksi hormon tumbuh

< Alat kultur untuk membiakkan mikroba

 

Powered by WishList Member - Membership Software