JASA TEBU

Filed in Rubrik Tetap, seputar agribisnis by on 04/03/2019

Eka Budianta

Benarkah tebu mengubah Pulau Jawa? Gara-gara menanam tebu, pabrik gula datang ke pulau ini dua abad yang lalu. Pabrik-pabrik itu membawa serta peranti modern: listrik, telepon, kereta lori, bahkan mobil. Benarkah begitu? Pada Maret 2019 kita mendapat jawaban. Seorang wartawan ulung, J.A. Noertjahyo menulis empat buku mengenai industri gula. Itu adalah sebagian dari pengalamannya 50 tahun menulis masalah pertanian, utamanya tebu dari 1967 hingga 2017.

Maka sambil mensyukuri ulang tahun ke-80, buku-buku itu diluncurkan. Beruntung saya sudah mendapat dua di antaranya: “Gebrakan Gula dari Blora” dan “Romantika Industri Gula”. Dua lagi yang masih ditunggu: “Manusia Gendhis” dan “Pariwisata Gula”. Apa artinya? Panen utama dari setiap komoditas adalah informasi. Tebu memperkaya kehidupan manusia sejak 2.500 yang lalu. Tubuh kita perlu gula, maka dicari makanan dan minuman yang mengandungnya, termasuk madu.

Produk turunan

Sebetulnya Noertjahyo itu sarjana hukum. Namun, sebagai reporter ia memilih dunia pertanian. Dari menulis serba-serbi apel, jeruk dan belimbing, sampai menghadiri kongres madu sedunia di Swiss. Selama puluhan tahun ia membuktikan panen informasi agribisnis tidak pernah habis. Biografinya yang juga diluncurkan bulan ini berjudul “Aku Lahir Telanjang”. Di dalamnya dia mengulas perkebunan kedelai, hingga pembuatan tempe, keripik, dan mendol yang memerlukan label dan hak paten.

Dilaporkan juga bahwa hak paten untuk mengolah tempe menjadi kosmetik sudah di tangan Jepang. Adapun hak paten untuk memproses tempe dimiliki Amerika. “Kalau membaca buku saya dengan teliti, kita bisa melalukan budidaya tebu yang terbaik, hingga memproduksi gula berkualitas tinggi,” kata Noertjahyo. Wartawan yang akrab disapa dengan inisial NOT itu cepat menambah, “Tapi jangan salah, penghasilan tebu yang tertinggi bukan gula, melainkan produk turunannya termasuk spiritus.”

Tebu Sacharum officinarum mempengaruhi ketahanan pangan nasional.

Jasa pertama jurnalisme pertanian adalah memberi pertimbangan kritis. Berbagai macam ide, inovasi, dan disrupsi bermunculan dari reportase, analisis, dan renungan pertanian. Sejarah perkebunan tebu dan perniagaan gula membawa kita ke berbagai peristiwa. Bukan hanya masalah pangan dan ekonomi tapi juga politik, teknologi, dan budaya. Masih ingat berita 70.000 ton gula selundupan yang terkait dengan Pemilu 2004, misalnya? NOT tidak lupa mengulasnya sambil lalu dalam buku itu.

Lapangan diplomatik pun tidak lepas dari upaya pembangunan industri gula. Jangan lupa, ada 107 negara penghasil gula di dunia. Ada kisah Dubes Indonesia di Kairo menjalin kerja sama dengan Mesir untuk memutakhirkan industri pergulaan milik pemerintah (PTPN) dengan dana Islamic Development Bank (IDB). Ada pikiran dari Dubes Indonesia di Tokyo, Jepang untuk membantu 1,39 juta petani gula dengan varietas tebu unggul dan pabrik yang terbaik.

Belum lagi urusan di lapangan, yaitu Tebu Rakyat Mandiri (TRM) yang diplesetkan menjadi Tebu Rakyat Mondar-mandir, dan seterusnya. Pabrik Gula mencari dan membeli tebu dari petani di berbagai daerah. Jadi transportasi panen tebu di banyak kota menjadi bisnis tersendiri. Pabrik gula di Malang, Jawa Timur, memerlukan pasokan tebu dari Blitar, Gondanglegi, dan seterusnya.

Pabrik di Blora, Jawa Tengah, menampung tebu dari Sragen, Cepu, dan berbagai daerah sekitarnya. Bisnis turunan itu memberikan nuansa ekonomi, sosial, dan kultural yang tiada habisnya. Termasuk santunan untuk warga bila pabrik masuk ke musim giling. Beberapa pabrik gula memang sudah dijadikan museum. Lingkungannya dengan pohon-pohon tua, rel lori, dan lokomotif menjadi atraksi baik untuk wisatawan setempat maupun yang datang dari luar negeri.

Wisata tebu

Di Jember, Jawa Timur, Klaten, Jawa Tengah, Yogyakarta, dan di Cirebon, wisata industri gula sudah dibuka. Di Pabrik Gula Merican, Kediri, lokomotifnya bahkan masih difungsikan, meski hanya di seputar pabrik. Di Cirebon lebih mengingatkan kita pada perombakan undang-undang agraria dan penderitaan petani tebu pada zaman Tanam Paksa. Tentu lebih banyak peran sosial tebu yang menyenangkan.

Misalnya tebu pengantin yang dipasang di perhelatan maupun di mobil mempelai. Tebu ikut dipersandingkan agar memberi inspirasi positif. Bukan habis manis sepah dibuang, tapi mengaprresiasinya. Tebu mudah tumbuh di mana saja, menjadi bekal pangan dan kebahagiaan. Tebu Pengantin lain yang lebih atraktif adalah ijab nikah tebu pria (Kyai Sukro) dan tebu wanita (Nyai Manis) di Masjid An Nur, kawasan pabrik gula Madukismo, Yogyakarta.

Setiap mulai musim giling dengan kapasitas produksi 3.500 ton sehari, pabrik modern itu punya ritual di Hari Sabtu Legi. Masih banyak lagi peran tebu secara kolektif maupun pribadi, nasional, internasional, maupun lokal. Setiap orang memerlukan gula dan memperhatikan penggunaannya dengan bijak. Dalam hal inilah kita perlu banyak informasi dan berterima kasih kepada tebu.

Tebu hitam sering ditanam dekat rumah dengan kepercayaan agar terlindung dari pengaruh jahat, dan penghuninya kerasan. Itu contoh kebijaksanaan setempat. Jadi, kita perlu berterima kasih pada tebu sebagai sumber pangan, sumber ekonomi, bahkan sumber kebahagiaan bagi manusia yang mencintai dan menjadikannya inspirasi kehidupan. ***

*)Budayawan, kolumnis Trubus sejak 2001, aktivis Tirto Utomo Foundationdan kebun organik Jababeka, Cikarang.

Tags: , , , , , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software