Jasa Baik si Buruk Rupa

Filed in Uncategorised by on 01/06/2012 0 Comments

Setelah dua pekan konsumsi ekstrak mengkudu organik, kista 7,3 cm itu hilang.

 

Nes Rina terkejut mengetahui penyebab sakit perut pada awal Januari 2012 itu kista sepanjang 7,3 cm. Semula Rina menganggap itu gejala sakit perut biasa. “Selain itu saya kira juga tanda akan mengalami telat haid,” ujar Rina. Jadi, ia tidak meminum obat dan hanya dirasakan saja. Semakin hari keluhan di perut semakin menghebat. Khawatir berdampak buruk, Rina memeriksakan diri ke sebuah rumah sakit di Kota Karawang, Provinsi Jawa Barat.

Hasil pemeriksaan ultrasonografi (USG) menunjukkan terdapat kista 7,3 cm di rahim perempuan kelahiran 1978 itu. Menurut dokter sekaligus herbalis di Yogyakarta, dr Sidi Aritjahja, kista adalah tumor kelenjar. Namanya tergantung letak kelenjar. Misalnya bila kista muncul di ovarium, disebut kista ovarium, jika muncul di ketiak, kista aksial; di payudara, kista mame.

Noni

Menurut ahli kandungan di Rumah Sakit PGI Cikini, Jakarta Pusat, dr Tagor Sidabutar SpOG, kista di kandungan berasal dari indung telur. Bila dibiarkan kista ovarium akan membesar sehingga membahayakan penderita karena mendesak sel telur dan menimbulkan nyeri. Dokter menyarankan Rina untuk menjalani operasi bila setelah enam bulan mengonsumsi obat tidak ada perubahan berarti. “Saya sangat sedih mendengar diagnosis itu,” ujar Rina.

Kesedihan itu Rina pendam sendiri. Ia menyembunyikan penyakitnya dari keluarga, terutama ibunya. “Saya tidak ingin membebani dia,” tutur Rina. Namun, kegelisahan yang memuncak membuat Rina tertekan. Dua hari kemudian ia akhirnya menceritakan penyakitnya itu kepada sang bunda. “Ibu menyarankan saya mencari obat herbal untuk mengatasi kista,” kata perempuan 33 taun itu.

Untuk meyakinkan saran sang ibu, Rina menelusuri dunia maya untuk mencari informasi herbal yang dapat membantu menyembuhkan kista. Ia menemukan beberapa herbal untuk mengatasi penyakit menakutkan itu. Ia juga berkonsultasi dengan terapis bekam, Kaspin Nur, yang ia kenal sejak 2004 agar lebih yakin. Kaspin menyarankan agar Rina mengonsumsi ekstrak mengkudu organik. Kaspin juga menganjurkan Rina agar banyak mengonsumsi buah dan berolahraga.

Rina menuruti saran Kaspin. Ia mengonsumsi 30 cc sirop ekstrak buah noni-sebutan lain mengkudu-organik tiga kali sehari. Ia juga menghindari konsumsi daging dan makanan yang mengandung penyedap rasa. Lima hari pertama ia mengonsumsi ekstrak noni berdampingan dengan obat dokter. Sejam setelah minum noni ia kemudian mengonsumsi obat dokter. Setelah obat dari dokter habis, Rina tidak menebus obat dokter lagi karena merasa keadaannya lebih baik.

Hari demi hari kondisi tubuh Rina mulai membaik. “Perut tidak terasa kencang lagi dan berasa ringan,” ujar Rina. Sebelas hari setelah konsumsi buah anggota famili Rubiaceae itu, dari rahim Rina keluar gumpalan darah seukuran buah salak berwarna merah pekat. Ia lalu menghubungi Kaspin dan menceritakan peristiwa itu. “Gumpalan darah itu menunjukkan telah sembuh dari kista,” ujar Kaspin seperti ditirukan Rina.

Organik

Untuk memastikan hal itu, Rina memeriksakan diri ke dokter di rumahsakit yang sama saat pertama kali didiagnosis kista. Hasil pemindaian USG menunjukkan kista yang bersarang di rahim Rina hilang sama sekali. Perubahan yang signifikan itu membuat heran dokter yang dahulu memeriksa Rina. “Dokter mengatakan saya telah sembuh dari kista,” ujarnya.

Padahal, dugaan dokter kista yang bersarang di rahim Rina paling tidak sembuh setelah 6 bulan. Rina pun tak henti mengucap syukur karena kista hilang lebih cepat daripada perkiraan dokter. “Cukup dengan mengonsumsi noni organik selama dua pekan, kista hilang tak berbekas,” ujar Rina.

Menurut konsultan kesehatan di sebuah perusahaan farmasi di Jakarta, dr Mulyadi Tjahnadi, noni mampu mematikan sel kista sehingga dalam waktu tertentu kista hilang. Selain itu, buah kerabat kopi itu juga meningkatkan antibodi. Kesembuhan lebih cepat karena Rina mengonsumsi ekstrak noni yang dibudidayakan secara organik. “Mengkudu hasil budidaya organik mengurangi dan meniadakan kandungan logam berat,” ujar Mulyadi.

Menurut periset Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik, Endjo Djuhariya, mengkudu untuk bahan herbal sebaiknya dibudidayakan secara organik. Pasalnya, mengkudu tergolong andal menyerap polutan. Celakanya polutan seperti logam berat itu juga terserap buah. Oleh karena itu jika hendak mengonsumsi ekstrak mengkudu, pastikan buah dari pohon yang jauh dari sumber polutan dan tumbuh alamiah.

Contoh kebun mengkudu organik itu milik Darna di Desa Tanjungan, Kecamatan Cikeusik, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten. Untuk mencapai lokasi itu mesti menempuh perjalanan bermobil 7 jam dari Jakarta dan 1,5 jam berjalan kaki. Harap mafhum kendaraan memang tak dapat melewati jalan menuju kebun sehingga harus berjalan kaki. Jalan menuju kebun berair dan berlumpur sehingga mesti menggunakan sepatu bot.

Darna yang mengelola 13 ha terdiri atas 7.800 pohon berumur 2-16 tahun itu menjamin kebun mengkudunya tidak menggunakan pupuk dan pestisida kimia. “Setiap tahun kebun ini menjalani sertifikasi organik dan selalu lulus uji,” kata Darna. Bahkan, proses sertifikasi itu diawasi langsung kepala Pusat Penelitian Mengkudu Tokyo, Toshiaki Nishigaki PhD. Ahli toksikologi dan patologi itu menuturkan jenis mengkudu di Indonesia yang terbaik di antara jenis buah buruk rupa lain di dunia. Itu terbukti dari keampuhannya menggerus kista di rahim Rina. (Riefza Vebriansyah)

Kista Ovarium

Kista di kandungan berasal dari indung telur. Bila dibiarkan kista ovarium akan membesar sehingga membahayakan penderita karena mendesak sel telur dan menimbulkan nyeri. Noni mematikan sel kista dan meningkatkan antibodi.

 

Keterangan Foto :

  1. Mengkudu mendongkrak antibodi sehingga andal menggerus tumor kelenjar
  2. Nes Rina sembuh dari kista berkat noni organik
  3. Darna, pekebun mengkudu organik di Pandeglang
  4. Makanan cepat saji dapat memicu munculnya kista
  5. Kista ovarium lazim menyerang wanita di usia produktif

 

 

Powered by WishList Member - Membership Software