Janji Laba Porang

Filed in Majalah, Topik by on 03/03/2020

Dr. Ir. Fadjry Djufry, M.Si., Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan), Kementerian Pertanian.

Porang membetot perhatian masyarakat Indonesia sejak beberapa tahun terakhir. Puncaknya pada medio 2019 ketika salah satu stasiun televisi swasta menayangkan profil pekebun porang asal Desa Kepel, Kecamatan Kare, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, Paidi. Masyarakat tercengang mengetahui omzet Paidi mencapai miliaran rupiah dari budidaya dan penjualan umbi tanaman anggota famili Araceae itu.

Kementerian Pertanian pun mulai melirik komoditas ekspor itu. Bagaimana kebijakan Kementerian Pertanian berkaitan dengan porang? Bagaimana pula prospek porang? Berikut ini hasil wawancara Wartawan Majalah Trubus, Riefza Vebriansyah, dengan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan), Kementerian Pertanian (Kementan), Dr. Ir. Fadjry Djufry, M.Si., untuk mengetahui jawaban atas beragam pertanyaan tentang porang.

Bagaimana posisi porang di Kementerian Pertanian saat ini?

Porang menjadi komoditas strategis dalam peningkatan ekspor komoditas pertanian di Indonesia. Badan Litbang Pertanian telah melakukan karakterisasi morfologi porang untuk pelepasan varietas lokal porang Klangon-1 Madiun yang rencananya dirilis pada April 2020. Selain itu dilakukan penelitian hama dan penyakit, teknologi budidaya spesifik lokasi, eksplorasi sumberdaya genetik, aspek sosial, ekonomi, dan budaya, serta rintisan teknologi chip, tepung dan produk turunan lainnya. Sementara untuk percepatan penyediaan benih, tim peneliti tengah menupayakan perbanyakan porang melalui kultur jaringan.

Bagaimana tren perkembangan bubidaya porang di Indonesia? Apakah terus berkembang?

Tren budidaya porang makin berkembang. Harga umbi porang yang relatif tinggi yakni Rp9.000—Rp11.000 per kg umbi segar pada 2019 memicu petani untuk mengembangkannya. Beberapa daerah yang membudidayakan porang antara lain Pekanbaru, Provinsi Riau, Jambi, Pandeglang (Banten), Magelang (Jawa Tengah), Gowa (Sulawesi Selatan), dan Nusa Tenggara Timur. Porang dapat ditanam di bawah naungan jati, cengkih, dan pinus. Dengan begitu pemanfataan lahan ternaungi menjadi tempat potensial untuk pengembangan porang. Bisa juga ditanam berdampingan dengan kopi dan kakao.

<script data-ad-client=”ca-pub-4696513935049319″ async src=”https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js”></script>

Apa keunggulan porang dibandingkan dengan komoditas umbi lokal lain seperti garut dalam berbagai aspek seperti budidaya dan kualitas umbi?

Budidaya porang lebih mudah dibandingkan dengan garut dan umbi potensial lainnya. Dari aspek kualitas umbi, kadar glukomanan porang lebih tinggi daripada umbi potensial lainnya seperti garut.

Budidaya porang menjanjikan untung.

Mengapa tren ekspor porang baru muncul belakangan ini?

Tren permintaan dunia mempengaruhi tren ekspor porang secara tidak langsung. Permintaan porang makin meningkat belakangan ini karena nilai jual komoditas itu meningkat.

Mengapa pasar mancanegara meminati porang?

Kandungan glukomanan dalam porang yang relatif tinggi merupakan magnet bagi para konsumen. Manfaat glukomanan antara lain sebagai bahan baku pangan sehat, kosmetik, terapi kesehatan, dan industri pengobatan. Glukomanan digunakan sebagai bahan pengental dan pengemulsi dalam beberapa produk makanan seperti jeli, permen karet, dan cokelat. Meningkatnya permintaan obat antidiabetes pun mendorong naiknya permintaan glukomanan di pasar global. Jadi peluang pengembangan porang sangat menjanjikan.

Bagaimana prospek porang 5—10 tahun mendatang untuk pasar dalam negeri dan mancanegara?

Prospek porang 5—10 tahun mendatang diprediksi meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah ekspor porang pada 2015—2019 melalui Balai Besar Karantina Surabaya. Indonesia mengekspor 2.773 ton irisan porang kering pada 2014. Adapun ekspor pada 2019 mencapai 6.671 ton. Artinya terjadi peningkatan volume ekspor dua kali lipat dalam lima tahun. Apalagi usaha tani porang menjanjikan untung. Keuntungan bersih pada tahun ketiga jika budidaya menggunakan bulbil mencapai Rp328 juta per hektare. Sementara laba tahun ketiga dengan memakai umbi senilai Rp243 juta per hektare.

Apa harapan Bapak untuk porang di masa depan?

Mari kita mengamankan porang sebagai komoditas masa depan agar dapat memberikan manfaat dan nilai kehidupan sebesar-besarnya kepada rakyat Indonesia, khususnya petani yang tergabung dalam Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) dan petani yang membudidayakan porang di luar habitat aslinya. Budidaya porang dari usaha masyarakat tani menuju agribisnis memerlukan dukungan berbagai inovasi seperti varietas porang dengan kandungan glukomanan tinggi dan rendah oksalat. Dukungan lainnya bisa berupa teknologi perbanyakan benih melalui bioteknologi serta budidaya rendah input kimia hingga teknologi irisan porang kering, tepung, dan aneka produk turunannya. Jadi, teknologi inovasi terobosan anak bangsa akan segera kami hasilkan.***

Tags: ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software