Janji Kedelai

Filed in Uncategorised by on 03/09/2012 0 Comments

Petani enggan tanam kedelai karena harganya murahBeberapa hari menjelang Agustus 2012, tahu dan tempe menghilang dari banyak meja makan keluarga Indonesia. Kalau pun ada harganya mahal. Sasmiyarsi Sasmoyo, tokoh kebudayaan dan istri wartawan senior, Aristides Katoppo, mengirim pesan: semua jadi mahal. Padahal, kita harus TST: tahu sama tempe! Bagaimana caranya? Pindah ke desa, tanam cabai dan sayuran sendiri. Bikin balong, pelihara ikan. Pelihara ayam, kambing, atau kelinci. Boleh juga entok, itik, angsa, dan merpati.

Eka BudiantaKalau ingin tahu tempe? Tanam kedelai sendiri! Kecil-kecilan saja, kalau dikelola dengan baik, hasilnya lumayan. Kenyataannya, memasuki musim kemarau yang lalu, harga kedelai melonjak. Para perajin tempe memutuskan berhenti berproduksi serentak selama tiga hari. Para penyuka tahu dan penggemar tempe jadi tak enak makan. Bangsa tempe yang bahagia ini seperti tak putus dirundung malang. “Ini gara-gara Amerika Serikat mau menjadi raja kedelai di dunia,” kata Susann Permadi, pensiunan dosen pertanian dan aktivis lingkungan di Bandung.

Lahan menyusut

Sekitar 35% dari panen kedelai di bumi ini berasal dari Amerika Serikat. Akibatnya, ketika negeri itu dilanda kekeringan, semua pelanggan kedelai Amerika turut menderita. Padahal, bukan hanya Indonesia, China pun ikut menikmati melimpahnya kedelai bermutu tinggi dan murah itu. Sejak 1982 Asosiasi Kedelai Amerika (ASA) bekerja-sama dengan Asosiasi Kedelai China. Hasilnya apa? Setelah genap 30 tahun, neraca ekspor kedelai Amerika Serikat ke China menembus US$11-miliar setara Rp100-triliun.

Bagaimana dengan Indonesia? Nyaris 70% bahan baku tahu dan tempe kita berasal dari sana. Artinya, kalau satu tahun kita memerlukan 2,2 juta ton kedelai, hasil panen di negeri sendiri tak sampai separuhnya. “Hanya berkisar antara 800.000-850.000 ton,” kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). “Sejak awal kita tidak bisa bersaing dengan Amerika Serikat dalam hal kedelai,” kata Susann.

Pada 1980-an insinyur pertanian itu ikut percobaan bibit kedelai unggul dengan radiasi sinar gama. Sayang, percobaan itu dihentikan. Bukan hanya karena mahal, kalau berhasil pun, tidak bisa menyaingi produk Amerika. Singkatnya, kemudahan impor membuat petani enggan menanam kedelai di dalam negeri. Secara berangsur-angsur lahan untuk kedelai pun menyusut. Perhimpunan Sarjana Pertanian Indonesia (PSPI) mencatat, kebun kedelai kita menyusut dari 1,8-juta hektar pada 1992, tinggal 566.000 hektar pada 2012.

Pantaslah kalau Menteri Pertanian Dr Ir Suswono menyatakan tidak mungkin kita mencapai swasembada kedelai kalau lahan berkurang terus. Baru setelah Presiden SBY berseru agar penanaman kedelai digalakkan, cukup banyak pihak berjanji akan menanam kedelai lagi. Gubernur Kalimantan Tengah, Agustin Teras Narang meminta dukungan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk mempersiapkan lahan 150.000 ha bagi tanaman kedelai di bekas proyek lahan gambut sejuta hektar di Kabupaten Kapuas.

Pihak swasta, seperti perusahaan perkebunan Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) menjanjikan lahan 2.000 ha untuk kedelai. “Lahan yang kami siapkan adalah 1.500 ha di Sumatera Selatan, dan 500 ha di Majalengka, Jawa Barat,” ujar Direktur Utama PT RNI, Ismed Hasan Putro. Menteri BUMN, Dahlan Iskan, pun ikut mengerahkan ribuan hektar lagi lahan-lahan yang masih menunggu untuk ditanami kelapa sawit, dapat diisi kedelai.

Pamali kedelai

Bercocok-tanam kedelai hanya perlu waktu maksimal 120 hari. Namun, petani enggan menanam kedelai. Pertama, karena harganya murah dan hasil panennya kecil, 1,2 ton per ha. Harga paling mahal Rp6.000 per kilo. Padahal, kalau ditanami padi bisa panen 7 ton, meski harganya dipatok Rp4.200. Jika terpaksa menanam kedelai, biasanya hanya sebagai selingan. Selingan itu penting untuk menyehatkan lahan dan memutus mata rantai hama.

Kakek saya mengerti betul hal itu. Namun, ia lebih suka menanam ubi jalar, kacang tanah, kacang panjang, dan terong sebagai tanaman selingan. Mengapa tidak menanam kedelai? “Khusus untuk keluarga kita, sebaiknya tidak menanam kedelai, apalagi kedelai hitam,” pesan mendiang nenek tercinta saya, Mbah Nasipah. Keluarga kami punya pengalaman buruk dengan panen kedelai itu. Pernah suatu saat tumpukan kedelai dipakai bersembunyi maling. Malamnya ia keluar sambil mencuri sapi dari kandang.

Pada musim panen lainnya, entah bagaimana tumpukan kedelai kami terbakar, dan menghabiskan seluruh lumbung.  Padahal, itu adalah kedelai hitam, bahan utama untuk kecap manis yang sangat laku di Malang dan Blitar, Provinsi Jawa Timur. Sejak itu, anak-cucu nenek kami mendapat pesan agar tidak menanam kedelai lagi. Kalau mau susu kedelai, tahu atau tempe silakan beli. Impor saja. Nyatanya harga kedelai dunia juga sangat murah.

Perluasan kebun kedelai sesungguhnya sangat merusak lingkungan. Berhektar-hektar hutan di Brasil ditebangi untuk menanam kedelai dan dibuat padang rumput untuk beternak sapi. Kalau kerusakan lingkungan itu mengganggu ekosistem, bukan tidak mungkin perkebunan kedelai menjadi pamali nasional. Dalam skala mikro, sebetulnya urusan ekosistem juga menjadi pertimbangan keluarga kami. Sawah kami di Jawa Timur mempunyai sistem irigasi yang bagus.

Airnya segar dan cocok untuk memelihara ikan emas. Hasil sampingan padi adalah ikan bandeng air tawar, belut, siput bundar yang kami sebut kul, dan kepiting darat. Kalau ditanami kedelai, semua pengairan itu harus dihentikan. Kedelai cocok di daerah kering dan tidak terlalu, bukan di lahan yang tergenang air. Yang penting luasnya mencukupi. Kalau kurang dari satu hektar seperti sawah keluarga kami, sayang sekali ditanami kedelai.

Lebih cocok padi berikut ikutannya seperti cabai, kacang panjang, dan kadang talas atau keladi kalau masih bisa tumbuh di pematang. Meski begitu, kenyataannya, dunia memerlukan banyak kedelai. Amerika Serikat menjadi makmur di antaranya juga karena kedelai. Perkebunan kedelai dilakukan turun-temurun sejak 1700-an, dan membuat negeri itu mempunyai bibit terbaik dan mengembangkan teknologi paling unggul dalam manajemen kedelai dunia.

Apresiasi edamame

Perubahan iklim dan pemanasan global memang sedang menggangu tanaman apa saja di berbagai belahan dunia.  Meski kedelai suka lahan kering, tentu jangan sampai terlalu kering dan kekurangan air sampai berlarut-larut. Musim kemarau ini konon paling buruk dalam kurun 50 tahun terakhir. Amerika Serikat, Brasil, dan Argentina juga terpengaruh. Skenario paling buruk, kita mendapat peringatan bisa terjadi krisis pangan tahun depan.

Jalan keluarnya, mungkin setiap keluarga harus berpikir menjadi solusi. Bisa menanam sendiri, bisa juga menjadi ahli dalam pengolahan pangan. Untuk menghadapi kekeringan itu, tentu berbagai upaya telah dilakukan. Di bidang kedelai, kita perlu menemukan benih yang cocok di daerah terkering kita. Pemulia kedelai di Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian, Muchlish Adie, pada akhir Juli 2012, mengumumkan benih baru. Varietas baru itu persilangan kedelai jenis davros dengan plasma nutfah 2984 yang diberi nama kedelai toleran kekeringan.

Banyak daerah di Indonesia yang sebenarnya cukup kering dan bisa dijadikan lumbung kedelai pada masa depan. Kalau kita mengunjungi Nusa Tenggara, sepintas terbayang kedelai cocok di kembangkan di sana. Bahkan, di Pulau Jawa, banyak tempat kurang air seperti di daerah Gunungkidul dan lingkungan pantai selatan. Di daerah perbukitan antara Ngawi sampai Pacitan, kita melihat kebun-kebun kedelai terhampar luas sampai ke kaki langit. Sayangnya, hasil panen kedelai terlalu rendah, sehingga petani kurang bergairah.

Usul untuk mendongkrak harga kedelai lokal sampai Rp7.500 per kilo jelas perlu didengarkan. Usul lainnya adalah mengedukasi petani untuk menanam edamame, kedelai jepang yang harganya bisa tiga sampai empat kali harga kedelai lokal. Di negara-negara maju, tempe termasuk makanan sehat yang dijual di farmasi. Artinya, kalau benar kita mencintai tahu dan tempe apakah sampai hati menekan harga semurah-murahnya. Benarlah ibu-ibu kreatif, yang jika mau menikmati tahu dan tempe, bangsa ini harus menanam sendiri kedelainya. Sudah waktunya kita memandang tahu, tempe, dan kecap sama penting dengan ikan dan daging.***

 

Keterangan Foto :

  1. Eka Budianta*
  2. *) Budayawan, pengurus Tirto Utomo Foundation, konsultan Jababeka Botanic Gardens dan kolumnis majalah Trubus.
  3. Petani enggan tanam kedelai karena harganya murah

 

 

Powered by WishList Member - Membership Software