Jangan Lagi Berulah, Nilaparva!

Filed in Inspirasi, Majalah by on 21/05/2020

Serangan wereng tingkat sedang mengakibatkan terdapat spot-spot kering di sawah.

Bakteri endofit untuk mengendalikan hama wereng cokelat.

Petani di Kalensari, Kecamatan Widasari, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, Masroni cemas bila cuaca tak menentu. Pada siang hari yang panas terik tiba-tiba turun hujan mengakibatkan kelembapan udara meningkat. Kondisi itu mendukung perkembangbiakan hama wereng batang cokelat. Itulah sebabnya Masroni waswas hama wereng merusak tanamannya.

Wereng cokelat Nilaparvata lugens hama utama pada komoditas padi. Serangga itu mengisap cairan padi dari bagian pelepah daun. Akibatnya tanaman anggota famili Poaceae itu kering, layu, dan akhirnya mati. Masroni mengatakan, pada kondisi produktif produksi mencapai 7—8,5 ton per hektar. Namun, akibat serangan serangga anggota famili Delphacidae itu produksi padi melorot, hanya 5 ton per hektare.

Cendawan endofit

Masroni mengatakan, luas sawah produktif di desanya mencapai 192 hektare. Saat ini 10% terserang wereng. Artinya potensi kehilangan hasil mencapai 27,5 ton. Sejak 2018 Musroni lebih bijak mengendalikan hama wereng cokelat, sehingga kerugian yang dialaminya sedikit. Ia berhenti menyemprotkan insektisida kimia yang pengaplikasiannya hanya mengikuti kebiasaan petani lain.

Menurut Masroni kebiasaan yang salah antara lain mengoplos beberapa merek pestisida menjadi satu. Beberapa pestisida itu memiliki bahan aktif yang berbeda. Petani melakukan hal itu berharap efeknya makin kuat sehingga serangan hama terhenti.  Menurut peneliti hama di Kementerian Pertanian, Prof. Ika Djatnika, hama yang mampu bertahan ketika penyemprotan pestisida akan makin resisten dan adaptif pada satu jenis pestisida.

Itulah sebabnya petani memberikan pestisida bervariasi secara bergantian. Petani harus memperhatikan bahan aktif dan cara kerja insektisida untuk mencegah hama resistensi. Petani berusia 48 tahun itu menuturkan, “Sekarang punya prinsip sendiri.” Ia memanfaatkan cendawan endofit Lecanicillium lecanii. Ia memperoleh informasi itu dari kegiatan Safari Klinik Pertanian Nusantara Institut Pertanian Bogor.

Padi yang sehat tidak menunjukkan kejala kering dan layu.

Sebelum pembibitan, Masroni merendam benih dalam larutan cendawan endofit. Konsentrasi hanya 50 gram per 5liter. Durasi perendaman 22 jam. Kebutuhan benih untuk sawah satu hektare mencapai 15 kg. Petani kelahiran Agustus 1972 itu hanya menghabiskan 50 gram cendawan dalam bentuk serbuk berwarna putih. Masroni memperbanyak cendawan itu sendiri sehingga tidak membutuhkan biaya tambahan. Manfaat Lecanicillium lecanii mematikan serangga termasuk wereng.

<script async src=”https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js”></script>
<ins class=”adsbygoogle”
style=”display:block; text-align:center;”
data-ad-layout=”in-article”
data-ad-format=”fluid”
data-ad-client=”ca-pub-4696513935049319″
data-ad-slot=”5685217890″></ins>
<script>
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
</script>

Fahimatul Khoiroh dan rekan dari jurusan Biologi Universitas Negeri Surabaya mengujikan efektivitas Lecanicillium lecanii untuk mengendalikan wereng cokelat. Hasilnya L. lecanii itu efektif terhadap mortalitas wereng. Hal itu terbukti dari reaksi cendawan dengan konsentrasi kerapatan konidia 1010 konidia/ml, mampu mengakibatkan mortalitas wereng hingga 78,33%.

Petani dan Kepala Desa Kalensari, Kecamatan Widasari, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, Masroni.

Selain itu Masroni juga memanfaatkan cendawan yang sama untuk mengendalikan hama wereng cokelat. Masroni menyemprotkan pestisida nabati yang berasal dari cendawan endofit pada 25 hari setelah tanam (HST) dan 50 HST. Konsentrasi 150 gram per tangki berkapasitas 17 liter. Itu cukup untuk padi di sawah 1 hektare. Penyemprotan sebaiknya pada pagi hari sebelum pukul 09.00

Selama masa budidaya padi Masroni dua kali menyemprotkan cendawan dan sekali merendam benih. Petani itu mersakan mafaatkan cendawan karena padi di sawahnya selamat dari serangan wereng cokelat. Ketika padi di sawah petani lain terserang hama itu, padi di sawah Masroni tetap produksi. Keruan saja itu bukan satu-satunya perlakuan. Masroni menjaga pertumbuhan padi agar tetap optimal dengan pemupukan berimbang sesuai kebutuhan tanaman.

Dalam satu musim tanam, Masroni memberikan 90 kg pupuk nitrogen serta masing-masing 70 kg pupuk fosfat dan sulfur per bau ketika tanaman berumur 18 hari. Satu bau setara 7.000 m2. Pemupukan kedua ketika padi berumur 45 hari. Pada umur itu, kebutuhan unsur nitrogen lebih sedikit, sehingga dosis berkurang, 50 kg per bau. Ia juga memberikan 50 kg pupuk belerang serta masing-masing pupuk fosfat dan sulfur 20 kg per bau.

Pada umur yang sama, Masroni memberikan masing-masing 50 kg pupuk kalium dan klorida 50 kg per bau. Pemberian unsur kalium dan klorida melalui pupuk kerap terhambat. Harga tergolong mahal sehingga memberatkan petani. Masroni menyiasati dengan mengembalikan jerami utuh—tanpa pembakaran—setelah panen ke lahan. Beragam cara itu menyebabkan produksi padi di sawah Masroni melambung.

Saat ini Masroni sedang menuai padinya secara bertahap. Meskipun belum ditimbang, ia optimis panen meningkat dibandingkan dengan sebelumnya pada Agustus 2019 yakni 8,4 ton per hektare. Oleh karena itu, petani yang menjabat kepala desa itu akan menerapkan inovasi serupa pada musim tanam mendatang. (Hanna Tri Puspa Borneo Hutagaol)

Tags: , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software