Jambore Capung

Filed in Rubrik Tetap, seputar agribisnis by on 13/07/2019

Eka Budianta

Ada peristiwa menarik di Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur, pada akhir Juli 2019.  Jambore Capung nasional ketiga! Serombongan ahli Biologi, fotografer, petani, dan aktivis lingkungan berkumpul lagi untuk membahas masa depan, jasa, dan peranan capung alias keluarga Odonata. Penyelenggaranya Himpunan Mahasiswa Pendidikan Biologi Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi.

Globalisasi berlanjut pada eksploitasi terhadap lingkungan hidup, kata mereka.  Maka, sebagai solusi ditawarkan membela eksistensi “Capung dalam upaya pelestarian budaya dan lingkungan hidup,” tulis Faridzatul Maqfiroh, ketua panitianya. Acara itu juga mendapat dukungan dari Indonesia Dragonfly Society (IDS). Inisiatornya Wahyu Sigit Rahadi yang sukses memasyarakatkan cinta capung di berbagai daerah.

Etnoekologi

Sentra-sentra studi capung muncul di mata air Wendit, Malang, Jawa Timur dan Telaga Cihuni, Tangerang, Banten.  Adapun jambore capung paling meriah berlangsung di Danau Rawapening, Provinsi Jawa Tengah. Apa hubungan capung dengan agribisnis?  “Kepik, laba-laba, dan capung terkait erat dengan sawah.  Hubungannya tidak langsung dengan panen.  Tapi mereka indikator lingkungan yang sehat dan seimbang,” kata Prof. Dr. Yunita T. Winarto.  Antropolog terkenal itu dekat dengan petani, dan hampir selalu berada di sawah.

“Kalau petani menyemprotkan pestisida, kasihan para capung itu terbang berhamburan,” ceritanya.  Padahal, capung adalah predator untuk bermacam hama. Capung melahap serangga  yang merusak padi dan lalat buah.  Selama populasi capung mencukupi, sawah dan kebun buah aman dari pengganggu. Jadi capung menjamin produk agribisnis organik yang sangat sehat.

Lebih dari itu, capung juga mencegah berjangkitnya demam berdarah.  Apabila capung punah, nyamuk pembawa malaria dan demam berdarah berkembang tanpa kontrol.   Jangan heran kalau capung dikenal sebagai pahlawan pertanian di berbagai negara. Kepercayaan rakyat Tiongkok pada masa silam, capung adalah lambang kemakmuran. Di banyak negara capung bahkan menjadi inspirasi kebudayaan.

Institut Teknologi Delf di Belanda terkenal menjadikan capung sebagai simbol kehormatan para “Delfy”.  Tentu bukan hal baru di Bumi.  Sejak abad ke-7, capung perlambang kecepatan, kecermatan, dan akurasi yang dijunjung tinggi oleh para samurai di Jepang. Patutlah mereka bangga bila ada ornamen capung disematkan pada kimono tradisionalnya.  Di negeri kita, capung dipercaya berjasa bisa menyembuhkan anak agar berhenti pipis dalam tidurnya (ngompol).

Beberapa suku bangsa menghormati capung sebagai pembawa pesan dari nenek-moyang. Etnoinsektologi memendam kekayaan yang luar biasa dalam masyarakat kita. Di sinilah terbuka peluang untuk mengembangkan ilmu lingkungan (ekologi) dan ilmu kehidupan (biologi) yang seluas-luasnya. Indonesia Dragonfly Society (IDS) pada 2018—2019 mengidentifikasi 65 macam capung di kawasan selatan Danau Toba, Sumatera Utara.

Mengapa identifikasi dan inventarisasi ragam capung itu penting?  Identifikasi terkait langsung dengan kualitas air sebagai sumber kehidupan.  Bukan hanya air untuk minum manusia dan hewan, tapi juga untuk buah-buahan. “Semakin banyak capung di langit, semakin bagus panen mangga di Probolinggo.” Begitu tertulis di buku Capung Teman Kita.  Banyaknya capung menjamin kualitas air yang bagus dan menjaga kebun dari hama, terutama lalat-buah.

Capung indikator lingkungan yang seimbang, predator bagi hama, dan mencegah demam berdarah dengue.

Capung hadir sebagai indikator ekologi, inspirator kebudayaan, dan sarana pendidikan. Sedikitnya ada lima buku penting tentang capung terbit sejak 2014.  Selama itu, beberapa kali para aktivis capung Indonesia tampil dalam kongres capung sedunia.  Saya ikut melepas delegasi IDS ke Jepang dan ke Bavaria, Jerman.  Dalam kongres di Eropa itu, Indonesia membawa temuan baru yaitu capung malam, yang aktif setelah magrib di sejumlah kawasan.

Odonatologi

Juli memang bulan penting untuk capung.  Sebelum acara di Banyuwangi, ada Kongres Odonatologi Sedunia di Austin, Texas, Amerika Serikat.  Texas dipilih karena tercatat terdapat 115 spesies capung di sana. Pada musim panas, berbagai jenis dragonfly  (capung besar) dan damselfly (capung jarum) keluar semua. Kongres diawali dengan kunjungan ke lembah Sungai Rio Grande dan mengamati bermacam fauna dalam iklim neotropis.

Pertanyaan kita: mengapa capung penting?  Bagaimana mendapatkan uang untuk, atau dengan capung?  Pengalaman saya berawal dari mengikuti peluncuran buku “Capung Teman Kita” di Malang. Para pencinta capung mengumpulkan dana dari berbagai program yang terkait capung sebagai inspirator. Ada album lagu-lagu bertema capung, tari-tarian capung, film kehidupan capung, mitologi capung, legenda capung, dan karya capung di berbagai belahan dunia.

Jangan heran, kalau Anda ingin mendaftar sebagai anggota pencinta capung dunia, registrasinya bisa US$400 untuk seumur hidup.  Atau berlangganan majalah capung cukup US$30 setahun, dan karcis menghadiri pertemuan tahunan US$50 untuk nonanggota.  Di Inggris, organisasi pencinta capung (British Dragonfly Society) berkibar pada 1968. David Attenborough yang terkenal dengan serial film fauna itu termasuk patronnya.

Capung memang tidak seperti lebah atau tawon yang langsung menghasilkan komoditas, yaitu madu, lilin, dan obat-obatan.   Namun, capung terkait erat dengan kehidupan manusia. Pertama, capung adalah sumber ilmu pengetahuan.  Ilmu tentang capung disebut Odonatologi.  Ilmu itu mempelajari peri kehidupan capung, morfologi, fungsinya di alam semesta.

Peranan kedua capung di berbagai bangsa adalah sebagai inspirator.  Manusia mempelajari teknologi pesawat terbang dan helikopter dari capung.
Figur capung mengisi desain tekstil, aksesori, dan berbagai peralatan, benda sakral maupun profan dari capung.  Ketiga, peran capung dalam pendidikan. Capung memberikan inspirasi tentang ketangkasan, ketepatan waktu, ketelitian, bahkan hal-hal yang mistis dalam kesusasteraan. Contoh, di Hungaria ada kepercayaan capung adalah mata-mata setan yang menunjukkan siapa koruptor dan pembohong. Jadi, jangan heran kalau capung bisa ikut membangun Indonesia menjadi bangsa serius, maju, sehat, dan cerdas. ***

*) Budayawan, kolumnis Trubus sejak 2001, aktivis Tirto Utomo Foundation dan kebun organik Jababeka, Cikarang.

Tags: , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software