Jali Demi Hipertensi

Filed in Laporan khusus by on 01/02/2013 0 Comments

Jali membantu menyembuhkan hipertensi dan asam urat sekaligus sumber pangan bergizi. Potensial untuk kanker.

Asep Bahtiar berangkat ke Etiopia, bukan hanya membawa paspor dan perlengkapan lain. Ia juga memasukkan mi instan, 2 kg biji jali, dan tensimeter ke dalam koper. Selama 2 tahun ia mengelola ladang pertanian di negara yang dahulu disebut Abisinia itu. Biji jali amat penting baginya. Sebelum berangkat ke Etiopia ia memperoleh informasi bahwa biji jali manjur mengatasi hipertensi. Asep memang mengidap hipertensi.

 

Sebelum berangkat ke Etiopia, pada 2010 Asep Bahtiar memeriksakan diri pada dokter karena sakit kepala berkepanjangan. Pemicu sakit kepala hebat itu adalah tekanan darahnya mencapai 190/100 mmHg; normal 120/80 mmHg. “Saya sudah menduga kalau hipertensi,” kata pria 40 tahun itu. Keluarga Asep memang memiliki riwayat hipertensi. Tekanan darah ibunda Asep, misalnya, 180/80 mmHg.

Menurut dr Sidi Aritjahja, dokter dan herbalis di Yogyakarta, 60% penyebab hipertensi adalah keturunan. Faktor lain, umur, jenis kelamin, dan gaya hidup. Sejak 2010 Asep semakin akrab dengan alat pengukur tekanan darah digital dan obat penurun tekanan darah pemberian dokter. Belakangan Asep ketakutan efek samping konsumsi obat-obatan terhadap ginjal. Oleh sebab itu Asep kemudian mencoba pengobatan alternatif.

Bubur jali

Seorang rekan kerja, menyarankan Asep Bahtiar mengonsumsi bubur jali. Bubur yang dibuat dengan merebus segelas jali yang terlebih dahulu digiling itu berasa gurih. Asep mengonsumsi bubur jali itu tiga kali sehari. Sepekan rutin mengonsumsi penganan itu Asep mulai merasakan perbaikan. Kondisi tubuhnya lebih segar dan yang menggembirakan tekanan darahnya turun hingga 140/80 mmHg.

Nah, ketika kondisinya membaik itulah ia mendapat tugas ke Etiopia selama 2 tahun. Meski kondisinya membaik, Asep berhasrat menjaganya dengan cara konsumsi rutin bubur jali. Ia khawatir tak menemukan komoditas itu di negara yang posisinya di tanduk Benua Afrika itu. Oleh karena itulah Asep membawa jali sebagai bibit.

Pria berselera humor tinggi itu mempertahankan konsumsi bubur jali selama bertugas ke Afrika. Saat ini tekanan darah Asep ajek di angka 135/80 dengan rutin mengonsumsi bubur jali setiap 2 hari. Bukan hanya Asep Bahtiar yang berikhtiar sembuh dengan jali. Rianida Fatmawati-bukan nama sebenarnya-juga memanfaatkan biji Coix lacryma-jobi untuk membantu mengatasi asam uratnya yang mencapai 13 mg/dl (baca: Hanjeli Gempur Asam Urat halaman 88-89).

Belum ada riset yang menjelaskan duduk perkara jali membantu proses penyembuhan hipertensi seperti pengalaman Asep Bahtiar. Namun, menurut Sidi Aritjahja jali dapat memperbaiki elastisitas pembuluh darah yang bisa membuat tekanan darah turun.

Hanjeli-sebutan jali di Jawa Barat-memang tidak populer sebagai herbal, kecuali merupakan tanaman pangan seperti padi. Masyarakat awam bahkan lebih mengenal biji jali sebagai bahan manik-manik dan tasbih. Harap mafhum biji tanaman anggota famili Poaceae itu di kedua ujung berlubang sehingga mudah diselipkan benang. Biji jali sebenarnya buah yang berwarna abu-abu hingga merah tua.

Multifaedah

Menurut ahli gizi dan peneliti pangan dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Gizi dan Makanan Kementrian Kesehatan, Prof Dr Mien Karmini Mahmud, MS, APU, jali termasuk salah satu tanaman serelia sumber karbohidrat. Unsur gizi jali antara lain kalsium, fosfor, besi, protein dan vitamin B. “Protein, zat besi, dan kalsium, paling banyak terkandung di jali,” kata Mien yang menyebutkan ketiga kandungan tersebut bagus untuk penderita anemia.

Menurut Grubben dan Partohardjono (1996) protein jali mencapai 14,1%. Bandingkan dengan sumber karbohidrat lain seperti beras (8,8%) atau  jagung (10,5%). Begitu juga kadar kalsium jali yang mencapai 54 mg lebih tinggi daripada beras, jagung atau sorgum. Sementara itu herbalis seperti Lina Mardiana di Yogyakarta juga meresepkan jali kepada pasien asam urat, rematik, dan gangguan lambung.

Lina mengatakan, “Biasanya 2 bulan pertama setelah mengonsumsi, badan terasa kaku dan  mudah terasa sakit. Setelah 2 bulan berlalu, peredaran mulai lancar dan rasa linu pada sendi-sendi mulai berkurang,” Khusus pasien gangguan lambung, Lina memakai biji jali yang masih hijau karena kandungan seratnya tinggi. Adapun herbalis di Kota Tangerang Selatan, Lukas Tersono Adi, mengatakan jali juga baik dikonsumsi sebagai makanan utama sebagai pendamping herbal untuk penderita kanker.

Riset sahih juga membuktikan bahwa kerabat sorgum itu juga berpotensi sebagai antikanker (baca boks: Bukti Jali halaman 69). Ahli pengobatan china, Prof Dr (HC) Muhammad Yusuf, berpendapat serupa. Yusuf mengatakan bahwa jali dipakai sebagai penganan pendukung bagi pasien penderita kanker atau penyakit lain yang berefek sulit buang air besar dan buang air kecil. “Itu karena jali banyak mengandung serat. Kalau tidak ada keluhan itu, pasien tidak diberi resep jali,” kata Yusuf. Sinse yang mengembangkan pengobatan ala Tiongkok itu meresepkan 30 g jali kupas sebagai bahan bubur untuk sekali konsumsi. Konsumsi bubur jali 2-3 kali sehari supaya lancar buang air besar dan kecil.

Berbagai literatur tentang kesehatan di Tiongkok berkesimpulan bahwa jali dapat menyembuhkan berbagai penyakit berkaitan dengan pencernaan. Literatur-literatur itu di antaranya adalah Medicinal Herb karya Chan Minyi yang terbit pada 1986, dan Chinese Medicated Diet (Zhang Wengao, 1988).

Komoditas lama

Di kalangan masyarakat jali juga mulai sohor. Menurut Ade Sri, produsen bubur jali di Punclut, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, banyak pembeli yang datang ke warungnya adalah penderita diabetes atau stroke. Meskipun belum terbukti, boleh jadi jali adalah harapan mereka menuju kesembuhan. Ade membuat bubur berdasarkan pesanan konsumen, rata-rata 5 orang per bulan.

Teuku Chaidil yang membuka gerai bubur jali di Kota Depok, Jawa Barat, Cibubur (Jakarta Timur), dan Kelapagading (Jakarta Utara) menjual rata-rata 40-50 mangkuk per malam. Itu berasal dari 2 kg bahan baku berupa biji jali giling. Harga semangkuk bubur jali di kedai Teuku Rp15.000.

Ketika popularitas jali sebagai herbal atau pangan fungsional, permintaan pun melesat. Triono Untung Piryadi di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, umpamanya, mendapatkan permintaan rutin 500 kg per bulan dari herbalis di Jakarta. Namun, tak serta-merta ia mampu melayaninya karena keterbatasan benih. Yang ia lakukan adalah berkeliling ke sentra-sentra pertanian di Cianjur, memborong jali, menyortir, menanam ulang, dan melakukan seleksi.

Dari ladang Triono jali kemudian menyebar ke berbagai daerah. Herbal air mata itu menjadi harapan bagi penderita penyakit tertentu untuk mengakhiri deraian air mata sebelum menjadi mata air. Bagi yang ingin hidup sehat pun, jali pilihan tepat. Jali memang seperti tembang lawas khas Betawi, lagunya enak, lagunya enak enak sekali… Jali rasanya enak, berkhasiat obat pula. (Dian Adijaya Susanto/Peliput: Bondan Setyawan, Khais Prayoga, Pressi Hapsari, Riefza Vebriansyah, & Sardi Duryatmo)

 

Bukti Jali

Peneliti dari China paling banyak mempublikasikan hasil penelitian jali. Berikut beberapa riset mengenai tanaman anggota famili Poaceae itu.

ü       Y Bao dan kawan-kawan dalam jurnal Gastroenterol Hepatol pada 2005 menyimpulkan jaringan cadangan makanan pada biji atau endosperm jali memiliki aktivitas antikanker (melalui mekanisme apoptosis) dengan kadar toksisitas rendah.

ü       Penelitian WC Hung dan kawan-kawan yang tertuang dalam Journal of Agricultural and Food Chemistry pada 2003 memperlihatkan ekstrak metanol biji jali mengurangi perkembangan sel kanker pada tikus percobaan dengan menghambat produksi enzim COX-2 melalui mekanisme tumorigenesis atau perlindungan melawan perkembangan tumor.

ü       JH Woo dan kawan-kawan dalam jurnal Cancer Biology Theraphy 6(12) pada 2007 mengungkapkan ekstrak jali berperan sebagai antineoplasia. Neoplasia merupakan pertumbuhan sel abnormal yang memicu kanker. Pada  percobaan tersebut JH Woo memakai sel kanker payudara MDA-MB-231. Hasilnya memperlihatkan ekstrak jali menghambat pertumbuhan sel kanker payudara.

ü       Riset SO Kim dan kawan-kawan yang tertuang dalam The American Journal of Chinese Medicine pada 2007 memperlihatkan ekstrak biji jali dapat mencegah obesitas atau kegemukan. Ekstrak jali dapat mengatur aktivitas neuroendokrin di otak. Neuroendokrin adalah sel saraf dalam sistem saraf yang bisa memicu perubahan metabolisme di tubuh melalui hormon.

Keterangan Foto :

  1. Berbagai riset memperlihatkan jali potensial untuk kanker
  2. Asep Bahtiar konsumsi bubur jali untuk hipertensi
  3. Prof Dr (HC) Muhammad Yusuf
  4. Jali merupakan tanaman pangan sumber karbohidrat yang kaya protein, zat besi, dan kalsium
  5. Jali bisa dikonsumsi sebagai makanan pendamping herbal untuk penderita kanker
  6. Gerai bubur jali mulai banyak dikunjungi masyarakat
 

Powered by WishList Member - Membership Software