Jalan Selamat Nunukan

Filed in Satwa by on 30/11/2011

Selama 68 tahun tinggal di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Timur, Arifin belum pernah melihat ayam nunukan. Jangankan memandang, mendengar namanya  pun tak pernah.  Bukan hanya Arifin, beberapa warga Nunukan yang ditemui wartawan Trubus, juga banyak yang belum pernah melihat ayam buras unggul itu. Ayam nunukan hilang di tanah leluhurnya?

Menurut penelitian Imam Sulistyono MP dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Kalimantan Timur, semula para peternak memelihara ayam nunukan dan ayam buras lain. Akibatnya sering terjadi kawin campur antarjenis ayam itu sehingga mutu genetik dan produktivitas ayam nunukan turun. Produktivitas nunukan (murni) 130-140 butir per ekor setahun. Penurunan mutu genetik itu mengancam kelestariannya.

Terancam punah

Sejak 1980-an, populasi ayam nunukan merosot karena tergusur oleh ayam ras. Sayang, tak ada catatan pasti jumlah penurunan itu. Pantas jika banyak warga setempat, tidak mengetahui keberadaannya. Untunglah ada Unit Pengembangan dan Pelestarian Ayam Nunukan dari Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Peternakan Kabupaten Nunukan yang memurnikan galur dan memperbanyak ayam itu. “Jika tidak dilestarikan, bukan tidak mungkin suatu saat bisa punah,” kata Joni Ishak dari lembaga itu.

Kekhawatiran Joni cukup beralasan. Menurut peneliti di Balai Penelitian Ternak, Bogor, Jawa Barat, Prof (Riset) Dr Sofjan Iskandar, dari 40 jenis ayam lokal di Indonesia, beberapa jenis di antaranya punah. Contoh ayam aduan lokal ciparage dari Kabupaten Karawang, Jawa Barat yang tergusur  oleh ayam bangkok.

Joni mengatakan ayam nunukan patut dilestarikan karena termasuk tipe ayam dwiguna, penghasil daging sekaligus telur. Bobot ayam nunukan jantan dewasa mencapai 2,2-3,5 kg; bobot ayam kampung rata-rata 1,5-1,8 kg per ekor. Selain itu, ayam nunukan betina mampu bertelur 130-140 butir per ekor setahun. Bandingkan dengan produksi telur ayam kampung yang rata-rata hanya 100 butir per ekor setahun.

Unit Pengembangan dan Pelestarian Ayam Nunukan mengembangbiakkan ayam berbulu merah dan kaki kuning itu di kandang-kandang baterai. Ayam siap berkopulasi menghuni kandang berukuran 1 m x 2 m dengan komposisi 1 pejantan dan 4 betina berumur 150-160 hari. Joni lalu menetaskan telur dengan mesin tetas berkapasitas 80 butir untuk mengoptimalkan daya tetas.

Telur ayam nunukan menetas setelah 20-22 hari. “Dari 30 telur rata-rata 25-26 butir yang menetas,” tutur Joni. Ia lantas memindahkan ayam umur sehari (DOC, day old chick) ke kandang berukuran 1 m x 0,5 m berkapasitas 30 ekor. Sebulan berselang, ia memindahkan anak ayam ke kandang baterai.

Rahasia pakan

Begitulah upaya Unit Pengembangan dan Pelestarian Ayam Nunukan menyelamatkan ayam unggulan. Hingga 2009 institusi itu memelihara 200 ekor yang kemudian dibagikan secara gratis kepada warga Desa Binusan, Kecamatan Nunukan, Kabupaten Nunukan.

Menurut Joni, Desa Binusan menjadi percontohan budidaya ayam nunukan karena lokasinya berdekatan dengan Unit Pengembangan dan Pelestarian Ayam Nunukan.  Ia berharap dengan pengembangan itu populasi ayam nunukan terus meningkat. Kini ayam nunukan tak hanya berkembang di masyarakat yang mendapatkan indukan dari institusi itu. Beberapa warga lain pun tertarik memelihara. “Saya membeli 1 ekor anakan jantan dan 2 ekor anakan betina umur 3 bulan seharga Rp10.000/ekor,” ujar Abdul Kahar, warga Binusan yang membeli anakan dari warga lain.

Menurut Imam, biaya pemeliharaan ayam nunukan terbesar adalah pakan, mencapai 80%. Oleh karena itu Imam menyarankan penggunaan bahan lokal seperti cangkang udang dan kulit kakao sebagai campuran pakan. Joni membuktikannya dengan memberikan campuran jagung, dedak, azolla, dan cangkang udang berkomposisi  1 : 1 : 1 : 1 sebagai pakan ayam nunukan.

Ia memilih azolla karena mengandung nutrisi cukup tinggi dan gampang dibudidayakan. Menurut Ir Dian Kusumanto, yang membudidayakan A. microphylla, azolla mengandung protein dan asam amino. “Kandungan protein kasar azolla mencapai 27%, sementara asam amino lisin 0,42%,” ujar Dian yang juga kepala Bidang Ketahanan Pangan, Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan Daerah (BKP3D) Nunukan.

Kandungan asam amino esensial itu bahkan lebih tinggi daripada dedak dan konsentrat jagung. Ia memberikan ransum yang mengandung azolla kepada ayam nunukan sesuai umurnya. Untuk anakan hingga umur 3 bulan, pemberian pakan 80 gram, ayam dara berumur 3-5 bulan, 100 gram,  ayam dewasa 120 gram per ekor sehari. Pertumbuhan ayam nunukan relatif seragam dengan rasio konversi pakan (FCR) 3-3,5. Artinya, untuk menghasilkan 1 kg daging memerlukan 3-3,5 kg pakan. (Tri Susanti/Peliput: Dian Diani Tanjung)

 

 

Powered by WishList Member - Membership Software