Jalan Mereka Raih Laba

Filed in Fokus by on 02/05/2013 0 Comments

Hemat biaya dan tinggi produksi berkat pupuk organik.

Petani padi di Kabupaten Indramayu,  Provinsi Jawa Barat, Khaedar NT, panen 10 hari lebih cepat, persis 80 hari setelah tanam. Padahal, biasanya ia baru panen padi ciherang pada umur 90 hari. Percepatan panen itu setelah Khaedar memanfaatkan pupuk hayati. Untuk luasan 1.400 m2, ia memerlukan 2 liter pupuk hayati. Sayangnya, produksi padi sedikit turun,  hanya 1.200 kg gabah; biasanya, 1.300 kg.

Produktivitas boleh turun, tetapi omzet Khaedar justru meningkat. Sebab, harga jual gabah organik lebih tinggi, yakni Rp500.000 per 100 kg gabah basah. Bandingkan dengan harga jual gabah anorganik hanya  Rp340.000 per kg. Dengan demikian omzet budidaya padi organik dengan pupuk hayati mencapai Rp6-juta. Sementara biaya produksi termasuk sewa lahan, membeli benih, dan pupuk hanya Rp1,3-juta.

Tren pupuk hayati

Biaya produksi Khaedar relatif kecil setelah menggunakan pupuk hayati.  Menurut Dr Rasti Saraswati, ahli mikrobiologi tanah dari Balai Penelitian Tanah, pupuk hayati adalah biang hara berbahan mikroorganisme hidup yang bermanfaat bagi tanaman. Mikroorganisme itu menyediakan sumber hara bagi tanaman, merangsang sistem perakaran, dan memperpanjang umur akar.

Para pekebun beragam komoditas di berbagai daerah memang banyak yang menggunakan pupuk hayati. Supriyadi di Kabupaten Ponorogo, Provinsi Jawa Timur, juga menangguk untung. Pekebun melon itu menghemat biaya produksi hingga Rp12,5-juta untuk membudidayakan 20.000 batang melon. Biaya produksi relatif kecil karena pria berusia 47 tahun itu memadukan pupuk kimia dan pupuk hayati cair berbahan baku utama Lactobacillus sp.

Kebutuhan pupuk untuk 20.000  batang melon 250 kg pupuk kandang,    200 kg ZA, 160 kg TSP, 200 kg Nitrabor, dan 400 kg NPK mutiara. Ia hanya menambahkan 12 liter pupuk hayati cair senilai Rp25.000 per liter. Untuk biaya perawatan tanaman seperti pembelian pestisida, mulsa, lanjaran, dan upah tenaga kerja, Supriyadi mengeluarkan biaya Rp60-juta. Total jenderal biaya yang digelontorkan sebanyak Rp65,8-juta. Sementara itu, saat bertanam melon menggunakan pupuk kimia, Supriyadi menghabiskan Rp78,3-juta.

Harap mafhum, Supriyadi memerlukan 250 kg pupuk kandang, 1 ton ZA, 2,1 ton TSP, 200 kg Nitrabor, dan  400 kg NPK mutiara ketika membudidayakan 20.000 batang melon tanpa pupuk hayati. Produksi dari kedua cara budidaya itu memang relatif sama, yakni 35 ton per 20.000 batang. Meski demikian, itu bukan  masalah. “Saya tetap untung sebab biaya yang dikeluarkan lebih rendah,” kata Supriyadi.

Matusi pekebun terung di Tangerang, Provinsi Banten mengandalkan pupuk organik berbentuk tepung berbahan baku agar-agar. Lima hari sebelum tanam ia memberikan 1,25 ton pupuk. Begitu juga sepekan setelah tanam, ia kembali memberikan pupuk organik. Dosisnya   250 gram per tanaman atau total 1,25 ton. Matusi  yang mengebunkan 5.000 batang terung ungu itu memerlukan total 2,5 ton pupuk setara Rp2,25-juta.

“Saya memang sengaja bertanam terung organik,” kata Matusi. Enam puluh hari setelah tanam, Matusi panen perdana. “Biasanya butuh 80 hari untuk panen,” katanya. Hingga petikan kedua puluh, ia menuai 500 kg terung ungu. Meski begitu, tanaman masih segar dan hijau. Padahal, lazimnya setilah petikan kesepuluh, tanaman mulai layu.

Selain itu, Matusi memperoleh buah berkualitas tinggi, warna kulit cerah dan bobot 1,7 ons per buah. Wajar harga jual juga lebih tinggi, Rp3.000, lazimnya Rp2.000 per kg. Total jenderal Matusi mampu meraup omzet Rp15-juta. Pengalaman ketiga petani itu membuktikan keandalan pupuk organik dan hayati.

Pembenah tanah

Peneliti pupuk organik dari Universitas Padjadjaran Bandung, Dr Ir Tualar Simamarta menuturkan selain mampu meningkatkan produksi, pupuk organik diharapkan dapat memulihkan kondisi lahan yang rusak. Di dalam tanah, pupuk organik berperan sebagai makanan bagi bakteri perombak. Aktivitas bakteri itu membuat tanah gembur sehingga akar bebas bergerak dan gampang menembus tanah. Jadi, akar lebih mudah menyerap air dan hara.

Menurut Dr Toto Himawan, dosen Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya, pupuk organik yang baik adalah berkadar karbon minimal 12%. “Karbon organik berperan sebagai sumber energi bakteri perombak, seperti nitrobacter,” katanya. Bahan baku pupuk organik yang ditawarkan di pasaran pun beragam.      PT Agarindo Bogatama, produsen pupuk organik Plantagar di Tangerang, Provinsi Banten, misalnya, menggunakan bahan campuran 70% rumput laut Gracilaria sp, sisanya pupuk kandang dan tanaman yang terfermentasi.

“Plantagar memiliki kadar karbon organik sebanyak 27,9%, nitrogen 1,7%, dan fosfor 1,76%,” kata Suryanto, direktur perusahaan. Sementara untuk pupuk hayati sebagian besar komposisinya terdiri atas bahan organik dari tanaman atau hewan yang telah melalui proses rekayasa. Menurut Yos Sutiyoso, praktikus hortikultura di Jakarta, mikrob yang ditambahkan ke dalam tanah itu berperan mempercepat pelapukan, bukan memasok hara.

Salah satu produk pupuk hayati yang ada di pasaran adalah Monodon. Pupuk cair itu diproduksi oleh            CV Mangkubumi Perkasa sejak tiga tahun lalu. “Bahan baku utama Monodon adalah bakteri Lactobacillus sp,” kata Sartono, pemimpin umum perusahaan.  Baik pupuk organik maupun hayati, keduanya sohor sebagai pembenah tanah. Namun, Yos Sutiyoso menganjurkan penggunaan pupuk organik sebaiknya dipadu dengan anorganik supaya saling melengkapi. “Hasilnya lebih optimal,” tuturnya. (Andari Titisari)

 

FOTO:

Rumput laut Gracillaria sp, salah satu bahan baku pupuk organik

Meski hasil panen padi sedikit turun, omzet meningkat lantaran harga jual gabah organik tinggi

“Pupuk organik mempercepat proses pelapukan bahan organik di dalam tanah,” kata Sartono

 

Powered by WishList Member - Membership Software