Jagung Panen Besar di Tanah Bencana

Filed in Majalah, Sayuran by on 04/03/2020

Jagung berumur 115 hari siap panen. Kadar air biji jagung hasil panen rata-rata 12%.

 

Setelah gempa dan likuefaksi, petani di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, menanam jagung dengan produksi optimal.

Petani jagung di Desa Kalawara, Kecamatan Gumbasa, Kabupaten Sigi, Krispian Sarimin.

Krispian Sarimin tak putus dirundung malang. Gempa dan likuefaksi—hilangnya kekuatan lapisan tanah akibat beban getaran gempa—menghantam huniannya di Desa Kalawara, Kecamatan Gumbasa, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah itu pada September 2018. Bencana alam itu mengakibatkan saluran irigasi terputus. Total 13.499 lahan pertanian di Kabupaten Sigi gagal berproduksi karena kekeringan.

Pada periode tanam berikutnya, Krispian dan petani lain tidak bisa menanam padi karena sawah kering. Setahun berselang pada 24 Januari 2020 Krispian berhasil memanen jagung Zea mays. Jagung salah satu komoditas pangan alternatif pilihan selain padi saat ketersediaan air terbatas. Petani berumur 45 tahun itu menuai rata-rata 7,9 ton per hektare. Produksi itu lebih tinggi daripada rata-rata nasional yang hanya 3—4 ton per hektare.

Produksi dan mutu

Kualitas jagung pun baik dengan kadar air 12%. Harga jual mencapai Rp3.700 per kg. Harga jagung berkadar air 18% hanya Rp3.000 per kg. Total 25 hektare lahan jagung di Desa Kalawara siap panen bertahap. Krispian bisa memanen jagung berkat bantuan berupa pompa air dan pembinaan budidaya pertanian oleh PT Bayer Indonesia dan Mercy Corp Indonesia. Menurut Krispian sebelum gempa dan likuefaksi petani di Desa Kalawara terbiasa menanam padi, bukan jagung.

Krispian mengatakan, bantuan berupa pompa air dan pembinaan dari PT Bayer menyebabkan panen jagung pun optimal. Menurut Area Sales Manager Sulawesi PT Bayer Indonesia, Wawan Hidayat, jagung dipilih karena termasuk tanaman C4. Artinya jenis tanaman yang tahan panas dan lebih tahan kekeringan dibandingkan dengan padi. Tanaman anggota famili Poaceae itu cocok untuk Kabupaten Sigi yang tepat di bawah garis khatulistiwa.

Menurut Wawan petani yang menerima bantuan pompa air masih awam dalam budidaya jagung. Oleh karena itu, butuh pendampingan agar hasil optimal. Setelah pendampingan mutu panen jagung berkualitas premium berkadar air 12%. Lazimnya kadar air jagung saat panen cara konvensional berkisar 18—22%. Harga jual pun lebih tinggi, selisih Rp700 per kilogram. Pembeli jagung rata-rata produsen pakan ternak tidak perlu mengeringkan jagung sebelum mengolahnya.

Keenam dari kiri berturut-turut Direktur PT Bayer Indonesia, Mohan Babu, Bupati Sigi, Muhammad Irwan Lapata, dan Direktur Mercy Corp Indonesia, Ade Soekadis.

Wawan menuturkan, faktor benih berpengaruh terhadap kualitas dan hasil panen. Potensi hasil menggunakan benih konvensional hanya 3,5—4 ton per hektare. Krispian dan petani lain memanfaatkan benih hasil pemuliaan Bayer. Artinya potensi panen meningkat 3,9—4,4 ton per hektare. Pembinaan lain yang dilakukan Bayer adalah penentuan waktu panen. Lazimnya petani memanen jagung pada umur 90—100 hari setelah tanam sehingga kadar air tinggi.

Imbasnya harga jual rendah. “Petani kerap membutuhkan biaya tambahan untuk pengeringan,” kata Wawan. Rekomendasi panen benih hasil pemuliaan PT Bayer pada umur 100—120 hari. “Idealnnya 115 hari, terlalu lama pun potensi tanaman bisa rebah,” kata Wawan. Petani yang mengadopsi teknologi Bayer memperoleh faedah berupa peningkatan produksi dan peningkatan kualitas panen.

Bantuan

Bantuan pompa air untuk irigasi pertanian.

Direktur PT Bayer Indonesia, Mohan Babu, menuturkan, Bayer sebagai perusahaan life science tergerak membantu pemulihan setelah bencana likuefaksi di Kabupaten Sigi. Perusahaan itu memberi bantuan Rp2,3 miliar. Bantuan berasal dari anggota korporasi Bayer di Asia Tenggara, Swiss, dan Meksiko. Pengalokasian bantuan bekerja sama dengan Yayasan Sosial Mercy Corps Indonesia.

Menurut Direktur Yayasan Mercy Corps Indonesia, Ade Soekadis, bantuan pascabencana meliputi 2 tahap. Tahap darurat berupa sarana kesehatan, pangan, air bersih, dan pakaian. Tahap kedua untuk pertanian berupa pemberian 48 pompa air dangkal untuk irigasi pertanian di 9 desa di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Beberapa desa itu antara lain Desa Maku, Maranatha, Jonooge, Sidondo III, Desa Sidondo IV, Desa Sibalaya Barat, dan Desa Kalawara.

Pompa air itulah yang digunakan para petani di Kabupaten Sigi untuk budidaya jagung. Menurut Mohan bantuan lain berupa edukasi pertanian, benih, hingga pemasaran. Bayer terus membina petani setempat dengan membuat pusat pelatihan, sehingga petani bisa melihat langsung budidaya pertanian yang baik. Tujuannya meningkatkan kualitas dan hasil panen petani.

Bupati Kabupaten Sigi, Muhammad Irwan Lapata, yang turut hadir pada acara panen jagung pun menyambut baik bantuan dari Bayer dan Mercy Corp Indonesia. Bupati berharap Bayer bisa terus berkolaborasi dengan pemerintah daerah dalam berbagai bidang. Terutama menjaga harga jual produk pertanian agar tetap stabil. (Muhamad Fajar Ramadhan)

Tags: ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software