Jagung: Jus Bumi Dongkrak Produksi

Filed in Sayuran by on 04/11/2010 0 Comments

Resepnya sederhana: ayah 3 anak itu memanfaatkan pupuk organik cair sebagai pengganti pupuk kimia. Tengok perubahan yang dilakoni Karnaidi. Dulu, untuk lahan 0,5 ha, ia membutuhkan 5 kg TSP, 15 kg NPK, 25 kg Urea, dan 5 kg KCl. Total jenderal Karnaidi mengeluarkan biaya Rp1,1-juta. ‘Itu masih belum menghitung biaya bibit dan tenaga kerja,’ kata Karnaidi yang mengebunkan jagung sejak 2007.

Dengan jarak tanam 50 cm x 70 cm setelah 70 hari ia mampu memanen 2.000 tongkol jagung. Harga pertongkol Rp700. Total jenderal omzetnya Rp1,4-juta. Karnaidi menghitung dengan biaya produksi Rp1,1-juta, keuntungan hanya Rp300.000 per 3 bulan. Belum lagi modal 8 kantong bibit jagung manis Rp424.000. Jika dihitung-hitung sebetulnya Karnaidi merugi. ‘Lebih baik ikut kampanye, enak dibayar,’ selorohnya.

Namun, cerita itu tinggal kenangan setelah ia menggunakan pupuk cair. Ia melarutkan 1 liter pupuk organik cair dalam 4 liter air dan menyiramkan ke tanaman sepekan pascatanam atau setelah muncul 2,5 helai daun. Pada pekan ke-2 hingga ke-5 konsentrasi dosis pupuk cair lebih pekat. Ia melarutkan 1 liter pupuk organik cair dalam 2 liter air. Setelah itu ia menghentikan pemupukan, dan  hanya sesekali menyiram tatkala lahan kering.

Meningkat

Hasilnya sungguh menggembirakan. Kualitas tanaman meningkat. Benih yang bertahan hidup di lahan mencapai 85%, dulu paling 75%. Musababnya, setelah dipupuk tanaman lebih sehat dan mampu bertahan dari serangan bulai. Menurut Dr Wasmo Wakman dari Balai Penelitian Tanaman Jagung dan Serealia Lain, Maros, Sulawesi Selatan, serangan bulai pada jagung menyebabkan cendawan melapisi sisi bawah daun sehingga daun menguning, dan kaku. Akibatnya daun tak mampu melakukan fotosintesis dan pertumbuhan terganggu. Jika menyerang tanaman dewasa, tongkol tidak berbiji.

Selain lebih tahan penyakit, kualitas tanaman pun meningkat. Tinggi tanaman mencapai 1,7 m, sebelumnya 1,4 – 1,5 m. Tongkol pun lebih panjang, berukuran

17 – 20 cm dengan biji penuh tanpa bolong. Dulu hanya 13 – 16 cm, biji pun banyak ompong. Produktivitas juga terdongkrak, setiap tanaman mampu menghasilkan 2 tongkol, dulu hanya 1 tongkol. Dari 0,5 ha, kini ia menuai 5.000 tongkol.

Dengan kualitas tongkol tinggi, tengkulak kini berani membeli Rp800/tongkol. Omzet Karnaidi pun melonjak menjadi Rp4-juta. Di sisi lain biaya pemupukan turun. Untuk luasan 0,5 ha, ia membutuhkan 120 liter pupuk cair dengan harga Rp6.000/liter atau Rp800.000. ‘Sekarang keuntungannya jadi Rp3,2-juta,’ kata ketua Kelompok Tani Setingkin Kota Jambi, Provinsi Jambi, itu.

Untuk memperoleh pupuk organik cair itu, Karnaidi tak perlu jauh mencari. Ia memproduksi sendiri di halaman rumahnya dengan memanfaatkan bioreaktor pembangkit pupuk cair (BPPC) hasil kreasi Ir Dede Martino MP. BPPC merupakan mesin pengolah sampah organik padat menjadi cairan. Menurut Dede hasilnya berupa pupuk organik yang mengandung 16 unsur hara makro dan mikro. Potensi senyawa organik terkandung di dalamnya: serat, karbohidrat, protein, lemak, asam amino, hormon tumbuh, vitamin, dan unsur hara.

Pupuk organik itu berguna meningkatkan kesuburan tanah dengan jalan meningkatkan kandungan bahan organik tanah dan kemampuan tanah untuk ‘memegang’ air. Dengan kondisi itu, mikroba baik dalam tanah pun meningkat. Ia membantu tanaman menyerap unsur hara dari tanah serta menghasilkan senyawa-senyawa yang berguna untuk merangsang pertumbuhan tanaman.

Sampah organik

Alat berbentuk silinder hitam itu bekerja menggunakan metode pengomposan tertutup dan pompa oksigen yang bergerak lewat sumber energi matahari. Makanya alat itu ditaruh di luar ruangan agar panel surya menyerap energi penggerak pompa oksigen. Cara pemakaiannya mudah. Produsen pupuk memasukkan bahan organik terlebih dulu sebelum biodegradator hasil kreasi Dede dicampurkan.

Produsen juga tak perlu mencacah bahan organik menjadi potongan kecil, sebab bioreaktor itu memakai pencacah alami. ‘Bahan organik akan mengundang serangga dan meletakkan telur pada lubang kecil di permukaan alat,’ kata kelahiran Jambi 30 Mei 1965 itu. Telur-telur itu akan berkembang menjadi ulat dan mencincang bahan organik. Produsen tinggal rutin memasukkan 1 – 3 kg sampah organik per hari.

Proses pengadukan tidak perlu karena terjadi secara alami. ‘Praktis, tinggal masukkan sampah, lalu tunggu 3 – 4 hari, pupuk organik cair dipanen,’ kata Karnaidi. Bahan organik apa pun, seperti tulang ayam atau sapi dapat hancur dan menjadi cair. Untuk memproduksi 1 liter pupuk cair perlu 1 kg sampah organik. Dede menyebut pupuk organik cairnya itu dengan nama jus bumi.

Warna pupuk yang dihasilkan alat yang terbuat dari drum plastik bekas, aluminium, panel surya, dan besi itu bergantung bahan organik yang digunakan. Jika menggunakan sampah buah, warna pupuk cokelat terang dan menghasilkan gas; limbah sayur, menghasilkan warna kehitaman. Keunggulan lain pupuk organik cair ini bersifat koloid, tanpa bahan padat sehingga bisa langsung digunakan tanpa  menyumbat alat semprot.

Menurut Dede potensi sampah organik menjadi pupuk organik sangat besar. Dede pernah menghitung pada 2007, kota Jambi dengan luas 205 km2  dan jumlah penduduk 470.902 jiwa menghasilkan 630.229 kg sampah per hari. ‘Jumlah itu potensial untuk memenuhi kebutuhan pupuk petani daripada hanya terbuang percuma,’ ungkap master Agronomi dari Universitas Andalas, Padang, Sumatera Barat, itu. Berkah jus bumi itulah yang membuat hasil bumi Karnaidi berlimpah. (Faiz Yajri/Peliput: Argohartono Arie Rahardjo)

 

 

Powered by WishList Member - Membership Software