Jagung Baru: Antibulai, Produktivitas Tinggi

Filed in Sayuran by on 01/09/2009 0 Comments

 

Itulah keunggulan varietas jagung hibrida unggul baru: bima 7 dan bima 8 yang akan diluncurkan pada akhir 2009. Menurut Dr Muhammad Azrai, pemulia jagung di Balai Penelitian Tanaman Serelia, Maros, Sulawesi Selatan, jagung tersebut dipanen dalam waktu 90-100 hari. Walau bertongkol tunggal tapi ukurannya besar: berbobot 1 kg.

Tak hanya berproduksi tinggi, bima juga tahan banting. Ia mampu beradaptasi di ketinggian 0-1.200 meter di atas permukaan laut dan toleran terhadap kekeringan, serta tanah masam seperti lahan tegalan. Menurut Azrai bima sangat cocok untuk pekebun jagung karena sebanyak 79% jagung ditanam di lahan tegalan. Sementara yang ditanam di sawah tadah hujan hanya 10% dan di sawah beririgasi 11%.

Menurut Ir Bambang Setiadji MT, ahli tanah dari Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, jenis tanah tegalan biasanya tanah podzolik merah kuning yang dicirikan oleh kadar asam tinggi, miskin unsur hara, dan kapasitas tukar kation rendah. Keasaman tanah yang baik bagi pertumbuhan jagung adalah pH 5,6-7,5. Tanah yang keasaman di bawah 5,5 biasanya mengalami kejenuhan aluminium.

Tahan bulai

Munculnya bima 7 dan bima 8 sendiri melengkapi deretan jagung unggul yang lebih dulu hadir seperti bima 1, 2, 3, 4, 5, dan 6. Keunggulan bima dirasakan oleh Daeng Lengu di Sulawesi Selatan. Pada 14 Agustus 2009, pekebun di Desa Tanrara, Kecamatan Bontonompo Selatan, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, itu menuai 9 ton jagung pipil kering berkadar air 17%. Dengan luas lahan 6 ha dan harga Rp1.900/kg omzet pria 42 tahun itu Rp102,6-juta. Bandingkan dengan varietas unggul lokal sebelumnya, Daeng hanya mampu menuai 4-5 ton per ha.

Masih di Tanrara, Daeng Naeng malah bisa menuai 14 ton/ha jagung pipil kering. Daeng Naeng menanam bima di lahan seluas 1 ha. Itu artinya produktivitas bima 2-3 kali lipat dari produksi jagung varietas lain. Menurut data dari Departemen Pertanian, rata-rata produksi jagung nasional 3-4 ton/ha. Sejak awal pertumbuhan bima memang telah menunjukkan keunggulan. Batang kokoh, tegap, serta perakaran tumbuh baik.

Tak hanya produktivitas yang tinggi, varietas bima pun tahan bulai downy mildew. Menurut Azrai jika intensitas serangan 100%, maka bima maksimal terserang hanya 20%. Penyakit yang disebabkan oleh cendawan Peronosclerospora maydis dan P. philippinensis itu masih menjadi momok menakutkan bagi pekebun jagung. Menurut Dr Wasmo Wakman, ahli penyakit jagung dari Balai Penelitian Tanaman Serelia, serangan bulai dapat menggagalkan panen. ‘Jika intensitas serangan mencapai 100%, itu artinya petani gagal panen,’ tutur doktor mikrobiologi alumnus Universitas Queensland, Australia itu.

Jagung yang terserang daunnya menguning, kaku, dan sisi bawah dilapisi spora cendawan berwarna putih. Daun tak mampu lagi melakukan proses fotosintesis akibat rusaknya klorofil alias klorosis. Lama-kelamaan menyerang titik tumbuh dan berakibat timbulnya spora cendawan pada setiap daun baru. Tanaman terganggu pertumbuhannya dan jika menyerang tanaman dewasa, tongkol tak berbiji. Cara pengendaliannya, tanaman yang terserang dicabut dan dimusnahkan.

Keunggulan lain dari keluarga bima adalah daun berwarna hijau meski tanaman telah memasuki umur matang fisiologis alias siap panen. ‘Daun dan batang yang masih hijau itu bisa dimanfaatkan sebagai pakan ternak,’ tutur Azrai, doktor alumnus pemuliaan tanaman Institut Pertanian Bogor. Bandingkan dengan varietas lain, misalnya anoman 1, yang umumnya mengering begitu jagung memasuki umur panen.

B-99 Bima 7 dan 8 hanyalah salah satu varietas unggul yang siap dirilis. Ada varietas unggul lain yang menjadi favorit pekebun. Sebut saja jagung hibrida B-99 yang dikeluarkan oleh PT Mitra Kreasi Dharma (MKD). Sunarko pekebun di Desa Sumberkepuh Kecamatan Tanjunganom Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, menanam jagung hibrida tersebut di lahan seluas 1 ha. Dengan jarak tanam 75 cm x 30 cm, ia mampu memanen 9 ton jagung kering pipilan.

Dengan tingkat harga Rp1.600/kg, omzet Sunarko mencapai Rp14,4-juta. Menurut Ir B achtiar Kusuma, manajer pengembangan benih jagung MKD, bentuk kanopi daun B-99 yang tegak dan helaian daun yang lebar menyebabkan proses asimilasi lebih optimal. Akibatnya pembungaan lebih awal, 55 hari setelah tanam. Dengan masa panen 100 hari, proses pengisian biji menjadi lebih panjang. Tak heran bobot 1000 butir dengan kadar air 15% mencapai 322 g.

Balitsereal pun tak ketinggalan. Untuk menggairahkan pekebun, balai itu pun tengah merakit jagung hibrida yang berumur genjah: dapat dipanen 85 hari pascatanam dengan potensi hasil mencapai 10 ton/ha. Umur genjah menghindarkan jagung dari kekeringan. Mafhum saja jagung banyak dibudidayakan sebagai tanaman selingan, sehingga pekebun bisa memanfaatkan sebagai tanaman antarmusim. Jagung baru genjah ini siap dirilis awal 2010. Kehadiran jagung-jagung baru berproduktivitas menjulang dan antibulai itu memperkaya pilihan pekebun. (Faiz Yajri)

Bima potensi hasil 11-12 ton jagung pipil kering per ha

B-99 produktivitas 9 ton jagung pipil kering per ha dan tahan bulai

Hibrida genjah belum bernama berumur 85 hari diluncurkan awal 2010

Dr Muhammad Azrai, pemulia bima

Foto-foto: Balai Penelitian Tanaman Serealia

 

Powered by WishList Member - Membership Software