Irwan Hidayat: Kunyit Atasi Iritasi Usus

Filed in Uncategorised by on 07/11/2013 0 Comments

Kandungan kurkuminoid kunyit memiliki efek antiinflamasi dan antimikrob sehingga baik untuk kesehatan pencernaanDokter di Jerman mendiagnosis Irwan Hidayat menderita sindrom iritasi usus (IBS). Dokter yang sama juga memberi tahu obatnya: kunyit.

Sore itu pada 17 Oktober 2013 Irwan Hidayat baru saja selesai memimpin rapat. Di meja rapat masih terlihat sebuah maket bangunan pabrik baru dan bertumpuk-tumpuk kemasan berbagai produk jamu. Di dekat itu berkas-berkas menumpuk menunggu persetujuan presiden direktur perusahaan jamu PT Jamu Sidomuncul itu.

Beberapa kali anggota staf perusahaan masuk ke ruangan menginterupsi wawancara. Sekali waktu dua staf membawa masuk gelas-gelas berisi produk jamu terbaru dan meminta pendapat pria berkacamata itu. Irwan menuang ke dalam gelas lebih kecil dan mencicip masing-masing. Irwan lalu menunjuk salah satu yang lebih disukai. Dalam usianya yang mencapai 66 tahun, pria kelahiran Yogyakarta 23 April 1947 itu masih energik mengurusi perusahaan.

 

Irwan Hidayat atasi gangguan sindrom iritasi usus (IBS) berkat konsumsi kunyitSulit BAB

Aktivitas mengurusi bisnis itu sempat sedikit terganggu ketika 6 tahun lalu Irwan terdiagnosis irritable bowel syndrome (IBS) alias sindrom iritasi usus. Itu diawali dengan gejala sulit buang air besar. “Rasanya mau buang air terus tapi ngga bisa,” tutur anak pertama dari 5 bersaudara itu. Padahal selama ini boleh dibilang aktivitas “ke belakang” Irwan tidak bermasalah. Perasaan tidak enak itu membuat Irwan tidak nyaman bepergian.

Irwan berupaya mencari tahu masalah kesehatannya itu dengan memeriksakan diri kepada beberapa dokter. Namun, hasil pemeriksaan di tanahair belum memuaskan Irwan. Pada sebuah perjalanan ke Jerman, Irwan direkomendasikan untuk memeriksakan diri pada seorang dokter asal Indonesia yang sudah puluhan tahun tinggal di Jerman. Dari dokter itulah Irwan mendapatkan diagnosis IBS.

Menurut dr Juke Rosilia Saketi SpPD-KGEH, ahli hepatologi dan pencernaan di Rumahsakit Hasan Sadikin, Bandung, Provinsi Jawa Barat, IBS merupakan sakit perut kronis alias berlangsung terus-menerus atau menahun. Biasanya pasien mengalami ketidaknyamanan perut, kembung, dan perubahan kebiasaan buang air besar. “Sebagai gangguan pencernaan fungsional (FGID), IBS memang tidak memiliki ciri yang pasti,” tutur Juke.

Ciri umum biasanya ditandai dengan diare atau justru sembelit. Diagnosis biasanya hanya berdasarkan keluhan gejala yang dialami pasien. Faktor lain dilihat dari segi usia (lebih dari 45 tahun), penurunan berat badan, tanda-tanda infeksi sistemik atau radang usus besar, atau dari riwayat keluarga yang pernah mengalami penyakit inflamasi usus. Perempuan berisiko 2—3 kali lebih tinggi mengalami IBS daripada laki-laki.

Menurut dr Prapti Utami di Bintaro Jaya, Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten, pada dasarnya IBS mengganggu gerakan peristaltik usus sehingga pengeluaran lendir dinding usus besar terganggu. “Padahal lendir itu yang nantinya berfungsi untuk melancarkan feses keluar,” papar Prapti. Pola makan yang kurang serat dan stres sering kali menjadi faktor penyebab seseorang menderita IBS.

Irwan mengakui pola makannya kurang serat. Ia juga kerap sulit tidur dan tidur tidak nyenyak. “Kalau orang tidak stres dan tidurnya nyenyak, dia akan mampu memanage tekanan,” kata pria yang mewarisi Jamu Sidomuncul dari sang nenek, Rakhmat Sulistio, itu. Keluhan sulit BAB menghampiri kala usianya memasuki 60-an. Untuk mengatasi IBS dokter di Jerman sama sekali tidak memberikan obat. Ia justru menyarankan Irwan untuk memperbaiki pola makan, tidur nyenyak, dan mengelola stres. “Harus menghindari makanan-makanan yang mengandung tepung,” kata Irwan. Selain itu dokter menganjurkan untuk mengonsumsi rimpang kunyit.

 

Pola makan minim serat salah satu penyebab IBS. Konsumsi makanan berbahan tepung-tepungan perlu dihindari penderita IBSCoba sendiri

Kunyit Curcuma longa rimpang yang sangat familiar buat Irwan. Sebagai pengusaha jamu, pria yang memegang tampuk kepemimpinan Jamu Sidomuncul sejak 1972 itu sudah memanfaatkan rimpang anggota famili Zingiberaceae itu sebagai bahan baku herbal. Jamu Sidomuncul misalnya memiliki produk minuman kunyit asam berbahan baku kunyit dan asam jawa Tamarindus indica yang baik dikonsumsi kaum hawa ketika haid.

Mengikuti saran dokter Irwan lantas mengonsumsi air perasan rimpang kunyit yang diparut setiap hari. Irwan juga memperbaiki pola makan. Ia memperbanyak konsumsi makanan berserat misalnya mengganti beras putih dengan beras merah yang lebih kaya serat. Salad sayuran dan buah tanpa seasoning menjadi menu wajib harian. Selang 1—2 bulan kemudian berbagai keluhan karena IBS hilang sama sekali.

Hasil itu sejalan dengan riset Rafe Bundy PhD dari University of Reading, Inggris, tentang khasiat kunyit untuk IBS. Bundy menguji pada 207 penderita sindrom iritasi usus. Sebanyak 70% sampel berjenis kelamin perempuan dan berusia di atas 50 tahun. Bundy membagi mereka ke dalam 2 kelompok. Kelompok pertama (102 orang) mendapat perlakuan satu tablet ekstrak setara 72 mg. Sementara kelompok ke-2 (105 orang) mendapat 2 tablet setara 144 mg. Perlakuan itu selama 8 pekan. Hasilnya prevalensi IBS turun pada kedua kelompok. Kelompok pertama turun 53%; kelompok kedua 60%. Penurunan prevalensi itu ditunjukkan oleh berkurangnya rasa sakit di perut.

Bundy menduga kandungan kurkuminoid, senyawa aktif pada kunyit, memiliki aktivitas antiinflamasi dan antimikrob yang berperan memperbaiki gangguan saluran pencernaan. Julie S Jurenka MT (ASCP) dalam jurnal Alternative Medicine Review Volume 14, Nomor 2 2009 menyebut berdasarkan uji pada sel, satwa uji, dan klinis kunyit berpotensi sebagai agen terapi untuk IBS, pankreas, arthritis, dan kanker.

 

Saluran pencernaan

Menurut Juke memang tidak ada pengobatan khusus bagi penderita IBS. Untuk meredakan gejala pasien biasanya diminta untuk memperbaiki pola makan, terapi relaksasi, mengatur pola tidur, dan menghindari konsumsi obat-obatan penenang. Prapti Utami menuturkan kunyit merupakan antibiotik dan antiradang yang sangat kuat sehingga dapat memperbaiki dinding usus yang luka.

Herbalis di Jakarta, Maria Margaretha Andjarwati sepakat kunyit baik untuk mengatasi masalah pencernaan. Ia menganjurkan pasien untuk menyeduh 1 sendok makan ekstrak kunyit dengan segelas air putih dan konsumsi sebelum makan. Ramuan diminum 4 kali sehari. Pasien juga bisa memanfaatkan rimpang kunyit segar. Ambil 2—3 rimpang kunyit, parut, air perasannya dicampur dengan satu gelas air untuk sekali minum.

Irwan melanjutkan konsumsi air perasan kunyit hingga setahun lebih. Selanjutnya untuk menjaga kesehatan ia mengonsumsi dalam bentuk kapsul hasil produksi sendiri. Setiap kapsul mengandung 100 mg kurkumin, Konsumsinya 2 kali sehari satu kapsul, atau 1 kali sehari 3 kapsul. Sejak rutin mengonsumsi kunyit pria yang memelopori program mudik bareng untuk para pedagang jamu itu merasa tubuh bugar. Bagi Irwan kesembuhan itu gampang, ubah gaya hidup dan konsumsi kunyit. “Untuk orang seusia saya, saya tergolong sehat,” tuturnya mantap. (Evy Syariefa/Peliput: Rizky Fadhilah)

 

Powered by WishList Member - Membership Software