Irit Pakan Hingga 30%

Filed in Ikan konsumsi, Satwa by on 03/07/2013
Flok merupakan sumber pakan alami yang terbentuk akibat aktivitas bakteri heterotrof

Flok merupakan sumber pakan alami yang
terbentuk akibat aktivitas bakteri heterotrof

Para peternak menghemat pakan lele hingga 30%. Produksi tetap tinggi.

Ini ritual baru Eko Suwirno sebelum memakai kolam lele. Peternak di Ulujami, Kabupaten Pekalongan, Provinsi Jawa Tengah, itu memberikan 100 ml larutan molase atau limbah tetes tebu per m3.  Luas kolam Amir 12 m2 setinggi 80 cm sehingga ia memerlukan total 1 liter molase. Setelah itu ia membiarkan air selama  1—2 hari untuk menstabilkan komposisi kimia. Ritual berikutnya, ia memberi 16 ml cairan probiotik berupa mikroorganisme penting untuk luasan sama. Dalam luas lahan 60 m2, Eko memiliki 5  buah kolam lele masing-masing berukuran 12 m2.

Peternak lele sejak 2011 itu baru menebar benih pada hari ke-10 sejak pemberian molase. Padat tebar mencapai 6.000 ekor per m3. Ia kembali menebarkan probiotik sepekan setelah tebar dengan dosis sama.  Penebaran probiotik berikutnya dengan interval lima hari  sekali. “Pada hari ke-24 menjadi 4 hari sekali dan  2 kali,” ujar Eko. Sebelum memberikan probiotik itu, peternak berusia 32 tahun itu tidak memberikan apa pun kepada lele. Lele perlu “berpuasa” dua hari agar bisa beradaptasi dengan baik.

Perlu pompa

Penambahan probiotik itu menurunkan rasio konversi pakan (FCR) menjadi 0,7,  semula 1,0—1,2. Artinya untuk memperoleh satu kilogram lele, peternak menghabiskan 0,7 kilogram pakan. Dengan kata lain, Eko lebih hemat pakan, tanpa mempengaruhi bobot panen 8—10 ekor per kg selama masa budidaya.  Teknologi yang Eko terapkan itu disebut bioflok. Para peternak udang vanamei di Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, lebih dahulu mengadopsi inovasi itu.

Menurut penelitian Nova Maulani, dari Program Studi Mikrobiologi, Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati, Institut Teknologi Bandung (ITB), Penerapan teknologi bioflok pada komoditas udang vannamei mampu menghemat pakan hingga 25%. Menurut Muhamad Amir Sobirin, petani sekaligus penggagas budidaya bioflok lainnya di Kecamatan Comal, Pekalongan, penerapan teknologi bioflok untuk padat tebar 5.000 lele berukuran 5—7 cm dapat memangkas biaya pakan Rp800.000 selama pembesaran.

Amir 4 kali panen lele dalam setahun. “Biaya pakan menjadi Rp3,2-juta dari sebelumnya Rp4-juta,” kata anggota Forum Komunikasi Mina Pantura (FKMP) itu. Menurut Drs Nur Bambang Prioutomo MSi dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor,  pada teknologi bioflok bakteri pengurai seperti Lactobacillus sp mendaur ulang amonia dan nitrit pada kotoran serta sisa pakan.

Setelah syarat tumbuh bakteri terpenuhi, bakteri itu mengundang  mikroorganisme lain seperti alga dan fitoplankton  membentuk gumpalan yang disebut flok. Alga dan fitoplankton merupakan pakan alami lele. Pantas penggunaan pakan buatan jadi lebih hemat.

Flok yang tumbuh itu selanjutnya disebut bioflok. Supaya tumbuh, bioflok juga perlu pakan tambahan berupa sumber karbon (C) dalam bentuk karbohidrat seperti tetes tebu (molase) atau terigu.  Penambahan molase mencegah proses nitrifikasi dan membentuk protein. “Terurainya amonia dan nitrit  menjadi protein akan meminimalkan pergantian air saat memperbanyak bioflok,” kata Bambang.

Bambang menjelaskan bahwa bakteri bioflok dalam pertumbuhanya membutuhkan oksigen yang cukup. Oleh sebab itu, pada budidaya lele dengan sistem bioflok perlu pompa aerasi. Untuk kolam bundar berdiameter 3 m sedalam 1 m memerlukan sebuah pompa aerasi berdaya 25 watt. Fungsi lain  pompa adalah mengaduk air agar pakan tambahan untuk bioflok tercampur merata.

Garam

Peternak yang menerapkan budidaya bioflok pada intinya adalah membuat lele hidup nyaman di lingkungannya. Itulah sebabnya, “Sebelum mulai proses budidaya selalu lakukan sterilisasi kolam,” ujar peternak  lele dengan sistem  bioflok di Kota Depok, Jawa Barat, Legisan Samtasfir. Kolam harus bersih dari serangan mikroorganisme patogen. Legisan memberikan larutan 30 ppm kaporit 7 hari sebelum penebaran benih lele. Ia juga menaburkan 3 kg garam  per m2 untuk menyamakan tekanan di dalam tubuh ikan dengan air. Selain itu penggaraman menekan populasi organisme patogen dan parasit.

Menurut Amir sistem bioflok lebih stabil dibandingkan dengan probiotik biasa. Sebab,  bakteri bioflok  tidak berdiri sendiri, melainkan berbentuk flok  atau kumpulan beberapa mikroorganisme  yang saling bersinergi. Pada sistem probiotik biasa bakteri di kolam merupakan sel-sel bakteri yang berdiri sendiri secara terpisah di air. Bila terjadi gangguan lingkungan, maka bakteri akan cepat hilang.

Keuntungan lain menerapkan bioflok adalah meningkatkan padat tebar benih. Menurut Amir penerapan bioflok meningkatkan padat tebar hingga 1.000 ekor per m3. “Populasi itu dicapai sampai lele berukuran 125 gram per ekor,” ujar Amir. Berdasarkan riset Pascal  G. Van De Nieuwegiessen, peneliti dari Wageningen University, Belanda,  padat tebar untuk golongan catfish seperti lele memungkinkan hingga 3.000 ekor per m3. Itu dengan bobot benih rata-rata 10 gram per  ekor dan peternak memakai sistem budidaya resirkulasi.

Sistem resirkulasi adalah mendaur ulang air dengan proses mekanisasi, biologi, serta reaksi kimia. Riset itu menguraikan bahwa dampak dari tingginya padat tebar dapat memicu stres ikan yang berujung pada kematian. Supaya itu tidak terjadi jauhkan lele dari gangguan seperti suara dan sentuhan fisik. Meski ada kekurangan, banyak peternak menerapkan bioflok karena hemat pakan. (Nurul Aldha Mauliddina Siregar).

 

Powered by WishList Member - Membership Software