Irigasi Pintar Via Telepon

Filed in Majalah, Sayuran by on 13/12/2019

Paprika dari lahan yang menggunakan Encomotion berbuah banyak dalam satu tanaman.

 

Menyiram tanaman di lahan sembari ngopi di rumah. Cukup menekan simbol di telepon pintar.

Perangkat sensor-sensor lingkungan.

Durma membutuhkan waktu dua jam untuk menyiram 1.000 tanaman selada di lahannya. Petani di Desa Ciburial, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, itu menyiram dengan ujung selang. Ia memberikan kira-kira 0,5 liter air per tanaman. Padahal, mengandalkan perasaan saat menyiram pangkal mubazir air. Selain boros air, ketidakmerataan pemberian air mengakibatkan pertumbuhan tanaman tidak merata.

Itu cerita lampau bagi Durma. Sejak April 2019 Durma menggunakan sistem irigasi otomatis yang lebih presisi. Sistem itu bernama Encomotion kreasi PT Biops Agrotekno Indonesia. Ia hanya perlu membuka telepon genggam pintarnya. Lalu ia membuka aplikasi Encomotion yang terhubung sistem irigasi menggunakan internet dan memasukkan jumlah volume air untuk menyiram di lahannya.

Makin presisi

Durma menentukan jumlah air berdasarkan pengalaman bertaninya selama 20 tahun. “Tergantung jenis, umur tanaman, dan musim,” jelas petani yang kini menanam letus dan selada di lahan 1.500 m² itu. Durma mengatur penyiraman pada pukul 07.00 dan 16.00. Sistem irigasi otomatis akan bekerja sesuai “perintah” Durma. Volume air mengalir di setiap lubang tetes. Durma senang menggunakan teknologi itu karena praktis dan terukur.

Pria 51 tahun itu juga menggunakan Encomotion di rumah kaca seluas 200 m². Di sana ia menanam tomat dan bit. Penyiraman tanaman itu melalui aplikasi telepon genggam pintar. Alat yang digunakan Durma memang dilengkapi dengan flow meter—alat pendeteksi jumlah dan kecepatan air yang melewati saluran pengairan. Sewaktu-waktu Durma mengubah pengaturan jumlah dan waktu penyiraman.

Ketua Petugas Teknologi PT Biops Agrotekno Indonesia, Nugroho Hari Wibowo.

Menurut Kepala Petugas Teknologi PT Biops Agrotekno Indonesia, Nugroho Hari Wibowo, pengairan yang digunakan oleh Durma bersifat semimanual. Padahal, sistem Encomotion dapat dirakit otomatis penuh. “Kami dapat mengindera kondisi-kondisi lingkungan untuk tahu berapa kebutuhan air yang dibutuhkan tanaman,” ujar Wibowo.  Encomotion juga memiliki sensor-sonsor lingkungan berupa sensor suhu udara, kelembapan udara, intensitas cahaya, curah hujan, serta arah dan kecepatan angin.

Sensor-sensor itu mengambil data-data lingkungan dan mengirimkan data ke pangkalan data atau server. Pengolahan data sesuai algoritma untuk menentukan kebutuhan air di lahan. Keputusan jumlah kebutuhan air di lahan sesuai data lingkungan oleh algoritma server memprogram penyiram otomatis. Itulah cara kerja sistem Encomotion otomatisasi penuh. Sistem yang makin lengkap perangkatnya akan lebih presisi atau makin tepat.

Bisa sewa

Wibowo menuturkan, “Ada yang semiotomatis dalam penyiraman, ada yang menggunakan sistem otomatis penuh dalam rumah kaca sehingga beberapa sensor lingkungan seperti curah hujan, kecepatan dan arah angin tidak perlu dipasang.” Pemuda 27 tahun itu mengarahkan petani di daerah sulit sinyal seperti Durma untuk menggunakan sistem Encomotion nondaring.

Perbedaannya dengan sistem Encomotion daring data-data lingkungan atau pengeluaran air tidak dapat dipantau secara waktu sebenarnya sehingga harus diunduh secara berkala. Wibowo dan rekanan mengambil data perbandingan hasil panen komoditas paprika yang menggunakan dan tak menggunakan sistem Encomotion. Tujuan perbandingan itu untuk membuktikan keunggulan Encomotion.

Hasilnya total panen kebun yang memanfaatkan Encootion lebih tinggi 25,4% ketimbang yang tanpa Encomotion. Petani yang menggunakan peranti canggih itu menuai 1,4 ton per 500 m². Bandingkan dengan petani tanpa peranti itu hanya menuai 1,1 ton per 500 m². “Dari jumlah buah per tanaman juga berbeda. Kalau yang dengan Encomotion bisa memanen 5 buah, kalau yang konvensional paling hanya 1—2 buah,” kata Wibowo.

Perangkat penyiram otomatis dan presisi yang dapat mendeteksi pengeluaran air.

Sejak Encomotion dipasarkan pada awal 2018, lebih dari 20 sistem telah terpasang. Para pengguna Encomotion tersebar di Jawa Barat tak perlu khawatir akan mahalnya harga. Wibowo dan tim menawarkan tiga jenis sistem pembayaran. Petani bisa membeli peranti itu Rp3 juta, sistem sewa alat (Rp300.000), atau sistem bagi hasil sesuai dengan perjanjian di antara kami dan petani.

Menurut Sarjana Teknik Fisika alumnus Institut Teknologi Bandung (ITB) itu pengguna pun tak perlu pusing dengan biaya operasional alat seperti paket data telepon genggam pintar dan listrik. Encomotion hanya menggunakan 1 kb data per menit untuk mengirim data ke pangkalan data dan 1 watt daya listrik ketika sistem dalam mode siaga. Satu perangkat penyiram otomatis penuh Encomotion dapat mencakup area 2.000 m².

Tanya Dokter Tania

Tanaman Anda sakit? Bingung menangani? Beruntung kini hadir aplikasi di telepon genggam pintar bernama dr. Tania. Aplikasi itu layaknya dokter untuk sekitar 70 tanaman di Indonesia dan 150 jenis tanaman secara global. Kecanggihan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) membuat “dokter” mampu mengidentifikasi 33 jenis hama dan penyakit tanaman dalam 30 detik.

Pengguna mengambil foto satu daun dari tanaman yang terserang penyakit secara dekat atau close up. Setelah itu pengguna mengunduh foto dan kecerdasan buatan dr. Tania akan menganalisis foto. Tiga puluh detik kemudian dr. Tania memberikan rekomendasi-rekomendasi hasil analisis penyakit yang diurutkan berdasarkan persentase kepastian terhadap jenis penyakit. Pengguna mengeklik hasil rekomendasi dan membaca ensiklopedi terkait penyakit itu, mulai penyebab hingga cara penanganan.

Jika tidak puas dengan rekomendasi dr. Tania, pengguna silakan mengakses fitur “Tanya Ahli”. Fitur itu memungkinkan pengguna untuk mengajukan pertanyaan melalu obrolan daring dengan tim ahli dr. Tania. Menurut kepala riset dan pengembangan dr. Tania, Lintang Kusuma Pratiwi, belum semua tanaman dianalisis oleh kecerdasan buatan dr. Tania. “Baru 15 komoditas tanaman di Indonesia. Karena itu pekerjaan rumah kami masih banyak,” kata Lintang.

Harap mafhum, dr. Tania baru “dilahirkan” pada 2017 dan diluncurkan pada 2018. Meskipun dr. Tania anak kemarin sore, pengguna aktif mencapai 2.000 orang. Pengunduh fitur itu bukan hanya penduduk Indonesia, tetapi juga India, Pakistan, dan Bangladesh. Peranti serupa ada dua: satu dari negara Jerman yang perdana merilis aplikasi berbasis kecerdasan buatan pengidentifikasi hama penyakit pertanian dan yang lainnya dari negara Israel. (Tamara Yunike)

 

Tags: , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software