Ir. Edhi Sandra, M.Si. : Berkibar Lewat Kuljar

Filed in Buah, Majalah by on 05/08/2019

Mengembangkan teknologi kultur jaringan rumahan dengan teknologi sederhana, tanpa mengabaikan kualitas.

Ir. Hapsiati (kiri) dan Ir. Edhi Sandra, M.Si. konsisten memberikan pendidikan kultur jaringan sejak 2004.

Ribuan botol kaca setinggi telapak tangan orang dewasa itu tersusun rapi di rak-rak kaca transparan. Dalam botol itu tumbuh tanaman pisang berukuran mini di media agar-agar. Itulah pemandangan di laboratorium Esha Flora di Perumahan Taman Cimanggu, Kelurahan Kedungwaringin, Kecamatan Tanahsareal, Kota Bogor, Jawa Barat. Ir. Edhi Sandra M.Si., dan istrinya Ir. Hapsiati mendirikan tempat pelatihan kultur jaringan Esha Flora pada 2004.

Ahli fisiologi tumbuhan, Ir. Edhi Sandra M.Si., mengembangkan beragam tanaman dengan teknologi kultur jaringan di rumahnya di atas lahan seluas 1.500 m². Selama ini perusahaan besar mengembangkan teknologi itu di laboratorium yang canggih dan luas. Bukan hanya pisang, Edhie juga mengembangkan spesies lain seperti tanaman air, tanaman hias, tanaman obat, hingga tanaman hutan. “Total ada 150 jenis tanaman dalam botol kultur di Esha Flora,” ujar Hapsiati.

Kultur

Edhi mengatakan, produksi beragam bibit tanaman itu mencapai 3.750 kultur tumbuhan per bulan. Adapun permintaan jenis bibit terbanyak adalah aglonema rotundum mencapai 1.000 kultur, dan pisang cavendish 20 botol atau setara 100 kultur. Pria 53 tahun itu menjual bibit berukuran 4—10 cm masih dalam botol kultur. Konsumen tersebar di berbagai kota seperti Bandarlampung, Provinsi Lampung, Medan, Provinsi Sumatera Utara, dan Bogor, Provinsi Jawa Barat. Hingga kini ia tidak membatasi pembelian minimal.

Periset itu pernah memperbanyak beberapa speies tumbuhan langka seperti bunga bangkai Rafflesia arnoldi, Amorphophallus, dan kemaitan atau sanrego Lunasia amara blanco. Perbanyakan tanaman itu atas permintaan instasi pemerintahan dan ragam komunitas pencinta tanaman. Edhi mengatakan, kelebihan perbanyakan tanaman dengan kultur jaringan adalah cepat, massal, sehat, dan terukur.

Tren permintaan bibit hasil perbanyakan kultur jaringan pisang meningkat seiring meningkatnya kebutuhan bibit pisang unggul.

Sebagai gambaran untuk menghasilkan 4.000 bibit pisang cavendish saja hanya perlu 6 bulan. Itu jika kecepatan multiplikasi kultur 20 kali dalam 3 bulan. Jika pada awal mulai 10 botol, 3 bulan pertama jumlahnya menjadi 200 botol, maka 3 bulan berikutnya menjadi 4.000 botol. Bandingkan dengan perbanyakan vegetatif dengan pemisahan anakan yang memerlukan energi berlebih dan waktu lama. Selain itu pemotongan anakan pisang berpotensi terserang cendawan fusarium.

Pada 2004 Edhi memberanikan diri membuka pelatihan kultur jaringan. Itu cocok karena keduanya alumnus Jurusan Biologi, Institut Pertanian Bogor. Semula bekerja sama mengadakan pelatihan di laboratorium Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor.

Enkas sebagai alternatif laminar air flow dalam melakukan inisiasi.

Namun, komoditas terbatas hanya tanaman hutan. Sementara permintaan di lapangan komoditas lebih beragam seperti tanaman hias, buah, dan perkebunan. Barulah Edhi dan istri membuat laboratorium sendiri di kediamannya. Mengembangkan kultur jaringan di rumah relatif sulit karena tingkat kontaminasi tinggi. Sepekan setalah inisiasi atau penanaman, cendawan juga ikut berkembang.

Lazimnya kontaminasi cendawan yang ikut terbawa saat penanaman atau kurang steril saat membuat media tanam. Namun, seiring bertambah pengalaman Edhi mampu menanggulangi kontaminasi. Ia menerapkan cara sederhana, yakni memasukkan media pada plastik lalu mengikat erat. Pencegahan kontaminasi setelah inisiasi atau penanaman dengan mengisolasi jaringan botol dan menutup rapat.

Cara itu lebih repot dibandingkan dengan standar laboratorium. Di laboratorium produsen hanya menutup botol dengan alumunium foil pascainisiasi. Suhu pun menghendaki di bawah 18℃. Dengan mengisolasi tambahan menggunakan plastik dan diikat erat tanaman dalam botol sentosa tanpa kontaminasi pada suhu 21—22℃.

Inovasi

Cavendish komoditas pisang yang digemari konsumen.

Esha Flora terus berinovasi menyederhanakan teknologi kultur jaringan agar lebih mudah diadaptasikan. Salah satunya melakukan inisiasi dengan kotak enkas. Semula enkas adalah kotak alternatif pengganti laminar air flow (LAF) untuk inisiasi anggrek. Kemudian Edhi memodifikasi kotak menggunakan kaca agar memudahkan inisiasi. Menurut Edhie keberhasilan lebih bergantung pada keterampilan pelaku inisiasi. Jika skil inisiasi masih rendah, menanam dalam LAF pun bisa saja terkontaminasi.

Menurut Edhi salah satu yang memberi inspirasi dalam berinovasi adalah Majalah Trubus. Edhie yang menjadi pembaca setia Trubus sejak SMA kerap terinspirasi melakukan inovasi setelah membaca majalah pertanian yang terbit perdana pada 1969 itu.

Dosen Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor itu menuturkan, Majalah Trubus juga kerap membuat sebuah tren tersendiri. Ia mengamati tren tanaman hias dan tren kurma tropis berkat publikasi Majalah Trubus. Beberapa kali Majalah Trubus bekerja sama dengan Esha Flora menyelenggarakan pelatihan kultur jaringan sejak 2008. Hingga kini Esha Flora konsisten melakukan edukasi kultur jaringan. (Muhamad Fajar Ramadhan)

Tags: , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software