Intensifikasi Menjadi Solusi

Filed in Inspirasi, Majalah by on 13/08/2020

Luas panen padi di Indonesia pada 2019 turun 6,15%.

Intensifikasi lahan dengan memanfaatkan pupuk hayati. Peningkatan hasil hingga 5—20%.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) luas panen padi di Indonesia pada 2019 hanya 10,68 juta hektare. Bandingkan dengan luas panen pada 2018 mencapai 11,38 juta hektare 2018. Penurunan mencapai 6,15%. Luas panen itu dapat menghasilkan 31,3 ton beras. Sementara itu kebutuhan nasional minimal 29 juta ton. Saat ini konsumsi beras 111,58 kg per kapita setahun.

Petani di Rancasanggal, Cinangka, Kabupaten Serang, Banten, Fauzul Khakim.

Jumlah penduduk Indonesia 265 juta jiwa. Namun, luas panen dan lahan baku sawah pada 2014-2018 cenderung menurun. Menurut Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian, Kementerian Pertanian, satu juta sawah di Indonesia berkurang pada tahun 2018. Persentase penurunan pada 2018 yakni 12,97%. Tren penurunan juga terjadi di Jawa pada 2015—2017 meski pada 2018 terdapat kenaikan luas sawah 8,64%.

Pupuk hayati

Upaya memenuhi kebutuhan pangan nasional dengan intensifikasi. Harap mafhum, sawah di jawa sangat subur. Pembukaan sawah di Jawa tidak memungkinkan karena keterbatasan lahan. Menurut peneliti padi di Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. Ir. Sugiyanta, M.Si., intensifikasi dapat menjadi solusi berkurangnya luas sawah dan menurunnya produktivitas padi.

Upaya intensifikasi antara lain penggunaan varietas unggul dengan potensi produktivitas lebih dari 10 ton per ha, perbaikan lahan dengan meningkatkan bahan organik, pemupukan dan pengairan presisi, pengendalian hama dan penyakit tanaman terpadu, serta aplikasi pupuk hayati. Menurut doktor Agronomi alumnus IPB itu upaya itu dapat meningkatkan hasil 10—20%.

Petani menempuh berbagai upaya untuk mendongkrak produksi. Petani di Desa Rancasanggal, Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang, Banten, Fauzul Khakim, memanfaatkan pupuk hayati. “Hasil panen hanya 3 ton per hektare padahal dosis pupuk anorganik sudah ditambah,” kata Fauzul. Sejak 2014 ia rutin memberikan pupuk hayati.

Petro Biofertil meningkatkan hasil 12—35%.

Tentu saja ia juga rutin memberikan pupuk kandang fermentasi sebagai pupuk dasar dan pupuk anorganik sebagai pupuk susulan. Produktivitas padi meningkat lebih dari 5 ton per hektare. Ia memberikan pupuk hayati setiap sepuluh hari sejak pengolahan tanah hingga dua hari menjelang panen. Khakim mengencerkan seliter pupuk hayati dalam 20 liter air bersih untuk sekali penyemprotan di lahan sehektare.

Ecofert dapat meningkatkan hasil 20—30%.

Setelah pengenceran, ia mendiamkan larutan selama dua hari. Pada musim tanam kedua 2020, petani padi sejak 2013 itu berhasil panen 10 ton per hektare dari varietas trisakti. Pemupukan dasar berupa pupuk kandang fermentasi sebanyak 1—2 ton per ha. Ia memberikannya saat mengolah tanah. Pemupukan susulan masih menggunakan pupuk anorganik sekitar 400 kg.

“Penggunaan pupuk hayati dalam jangka panjang dapat memperbaiki kualitas tanah,” kata laki-laki berusia 30 tahun itu. Ia menggunakan pupuk hayati yang mengandung mikrob. Sugiyanta yang menjabat ketua Departemen Agronomi dan Hortikultura, IPB itu mengatakan pupuk hayati yang beredar di pasaran umumnya mengandung mikrob Bacillus sp., Azospirillum sp., Azotobacter sp., dan Pseudomonas sp.

Mikrob berperan meningkatkan ketersediaan unsur hara bagi tanaman karena mampu mengikat unsur hara nitrogen dari udara, melepaskan fosfat dan kalium. Beberapa riset sebelumnya menunjukkan pemberian pupuk hayati dapat mengurangi penggunaan pupuk NPK anorganik dan meningkatkan produktivitas. Sugiyanta mengatakan, hasilnya bisa berbeda bergantung pada tingkat kesuburan tanah. Secara umum, penggunaan pupuk hayati dapat meningkatkan 5—20 % hasil padi.

Pembenah tanah

Ketua Departemen Agronomi dan Hortikultura, Institut Pertanian Bogor, Dr. Ir. Sugiyanta, M.Si.

Di pasaran banyak tersedia pupuk hayati seperti Petro Biofertil dan Ecofert. Petro Biofertil produksi PT Petrokimia Gresik. Menurut Vice President Promosi & Perencanaan Pemasaran PT Petrokimia Gresik, Andri Puji Handoyo, S.P., pupuk hayati itu berfungsi mengefektifkan penyerapan pupuk anorganik.

Selain itu adanya mikroorganisme positif dalam Petro Biofertil berfungsi meningkatkan kesuburan tanah. Menurut Andri Puji Handoyo secara umum ada tiga komponen penyubur tanah yakni dari segi kimia, fisik, dan biologis. Petro Biofertil fokus membenahi komponen biologis itu. Mikrob yang terkandung yakni bakteri Azospirillum sp., Azotobacter sp., dan Pseudomonas sp. sebagai penambat nitrogen dan penghasil zat pengatur tumbuh. Ada pula cendawan pelarut fosfat Aspergillus sp. dan Penicillium sp. serta bakteri perombak bahan organik Streptomyces sp.

Pemberian Petro Biofertil bersamaan dengan pupuk anorganik dengan ditabur. “Kalau dicampur pupuk lain, sebaiknya diaplikasikan pada hari itu juga,” kata Andri. Dosis rekomendasi untuk padi 50—100 kg per hektare. Petani dapat menggunakannya baik sebagai pupuk dasar maupun susulan 3—4 pekan pascapindah tanam.

Pupuk hayati Ecofert produksi PT Pupuk Kaltim. “Ada produk untuk perlakuan benih, pembenah tanah, dan pupuk penambah unsur hara,” kata Ajang Christianto, anggota staf pelayanan dan komunikasi produk Pupuk Kaltim. Ecofert (Eco-friendly Fertilizer) tergolong produk pembenah tanah untuk sawah irigasi. Aplikasinya saat pengolahan lahan sehingga diharapkan tanah sudah siap untuk pindah tanam.

Ecofert mengandung bahan aktif cendawan yang dapat melarutkan fosfat Aspergillus niger serta bakteri penambat nitrogen seperti Bacillus subtilis, B. flexus, dan Pseudomonas mendocina. Dosis aplikasi 20 kg per hektare dan bisa dicampur dengan pupuk organik lain. Pemberian Ecofert dapat meningkatkan hasil 20—30%. Ajang mengatakan sebaiknya Ecofert diberikan sepekan sebelum pindah tanam saat pengolahan lahan. Selain Ecofert, ada pula Biotara untuk lahan rawa dan Biosalin untuk lahan salin seperti wilayah pesisir. (Sinta Herian Pawestri/Peliput: Hanna Tri Puspa Borneo Hutagaol)

Tags: , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software