Inovasi untuk Negeri

Filed in Majalah, Topik by on 01/08/2019

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman (ke-3 dari kiri, berbaju batik), menyaksikan rilis traktor pintar tanpa awak.

 

Berbagai inovasi karya anak negeri untuk kemajuan negeri.

“Selama manusia tetap makan, maka selama itu pula pertanian, terutama pangan tetap dibutuhkan,” tutur guru besar Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran, Prof. Dr. Ir. Ganjar Kurnia, D.E.A. Apalagi kebutuhan pangan makin meningkat seiring bertambahnya penduduk. Menurut Ganjar jika dihitung menggunakan rumus eksponensial, dengan laju pertumbuhan penduduk 1% saja, jumlah penduduk menjadi dua kali lipat dalam waktu 70 tahun. Jika sekarang jumlah penduduk Indonesia 250 juta jiwa, pada 2090 menjadi 500 juta jiwa.

Ironisnya ketergantungan pangan Indonesia kepada negara lain cukup tinggi. “Padahal Indonesia negara agraris,” ujarnya. Bahan pangan seperti beras, jagung, kedelai, tepung terigu, gula pasir, garam, bawang, dan daging sapi masih impor. Pada kurun 2003—2013 saja, impor produk pertanian meningkat 4 kali lipat.

Berbasis internet

Menurut Ganjar beragam hambatan, termasuk rendahnya produktivitas, menjadi tantangan yang harus diselesaikan. “Jawabannya adalah teknologi yang bersifat ‘revolusioner’, yang betul-betul dapat bermanfaat bagi masyarakat,” kata mantan rektor Universitas Padjadjaran itu. Belum lagi tantangan menghadapai era Revolusi Industri 4.0 yang kini digaungkan berbagai kalangan, termasuk di sektor pertanian.

Inovasi budidaya di kotak tanam, memungkinkan “bercocok tanam” di dalam ruangan.

Menurut Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. Arif Satria, S.P., M.Si., teknologi 4.0 adalah keniscayaan yang sulit dibendung. Ganjar menuturkan beberapa negara di Benua Eropa sepakat bahwa Agriculture 4.0 Feeding Next Generation atau Pertanian 4.0 sebagai arah industri pertanian ke depan. Agenda utama dari Pertanian 4.0 adalah transformasi digital di sektor pertanian, pengembangan dan pemanfaatan teknologi digital di bidang pertanian, yang mengerucut pada pertanian pintar (smart farming), pertanian terukur (precision farming), dan bioteknologi (gene editing).

Kementerian Pertanian menyambut era Pertanian 4.0 dengan melahirkan berbagai inovasi seperti traktor pintar tanpa awak. Traktor itu mampu beroperasi meski tanpa dikendalikan seorang operator di belakang kemudi. Kendali traktor cukup dari jarak jauh mengandalkan koneksi internet melalui gawai.

Pascapanen

Menurut Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, mekanisasi pertanian sangat penting untuk mendongkrak produktivitas pertanian. “Tanpa teknologi kita tak mungkin bisa bersaing dengan negara lain,” tuturnya saat memberikan sambutan pembukaan acara peluncuran alsintan hasil penelitian Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian (BBP Mektan). Berkat inovasi petani memangkas biaya tenaga kerja. “Dulu untuk biaya menanam Rp2 juta per hektare, sekarang dengan mekanisasi hanya Rp1 juta per hektare,” kata Amran.

Sebagian besar inovasi berbasis teknologi 4.0 lebih fokus di sektor budidaya dan pemasaran. Padahal, inovasi juga diperlukan untuk pascapanen. Salah satunya inovasi untuk meningkatkan daya simpan buah. Selama ini para pekebun kerap menanggung risiko hasil panen busuk karena karakteristik produk pertanian yang mudah rusak. Itulah beberapa peneliti juga terdorong untuk menciptakan inovasi yang dapat membantu mengawetkan buah dan sayur.

Isu lingkungan pun tidak bisa lepas dari dunia pertanian. Dunia pertanian diharapkan dapat berperan memproduksi bahan alam yang menjadi bahan baku produk ramah lingkungan. Contohnya isu bahaya plastik. Selama ini bahan baku sintetis seperti plastik menjadi ancaman serius karena sulit terurai di alam. Hal itu mendorong beberapa inovator memproduksi bioplastik berbahan tepung singkong yang ramah lingkungan. Bioplastik dapat terurai di alam hanya 90 hari.

Menurut Ganjar dari segi kemampuan, negara kita pasti siap dengan penciptaan dan pemanfaatan teknologi dan inovasi. Beragam inovasi anak bangsa itu juga untuk negeri yang kini genap berusia 74 tahun. Ia berharap penerapan teknologi dan berbagai inovasi itu mampu meningkatkan efesiensi, efektivitas, dan juga produktivitas usaha tani. “Namun, yang terpenting harus mampu meningkatkan kesejahteraan petani,” kata Ganjar. (Imam Wiguna)

Tags: , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software