Ilmu Kopi

Filed in Rubrik Tetap, seputar agribisnis by on 08/09/2020

Indonesia penghasil kopi nomor empat di dunia. Kualitas dan kuantitas panen masih rendah.

September sudah datang. Harusnya kita ramai-ramai minum kopi di Jakarta Coffee Week (Jacoweek), ajang minum kopi yang sangat bergengsi. Sayang Covid-19 membuat Jacoweek tutup tahun ini. Padahal, pada 2019 pesertanya lebih dari 120 gerai dengan pengunjung lebih dari 25.000 orang. Nilai bisnis tercatat dari transaksi dua tahun sebelumnya melebihi Rp38 triliun. Baiklah kita menghadiri diskusi kopi, seminar kopi, atau apa pun acara daring seputar kopi untuk menutup rasa kecewa.

Sustainable Coffee Platform of Indonesia (Scopi) contoh lembaga yang menggelar serial Disko–diskusi kopi—secara reguler. Berbagai kalangan dari pengepul kopi tingkat desa sampai eksportir raksasa mengikuti diskusi daring. Pengepul kopi tingkat kabupaten, Satben Rico, melaporkan. “Dulu pada 2010, Simalungun penghasil kopi terbanyak dan terbagus kualitasnya di Sumatera Utara. Sekarang panennya paling sedikit dan kualitasnya rendah sekali.” Mengapa begitu?

Kopi kemerdekaan

Ketika harga kopi bagus dan panen besar, para petani menyekolahkan anak ke kota, bahkan ke luar negeri. Setelah sukses menjadi sarjana, anak-anak itu tidak mau lagi kembali ke desa. Akibatnya banyak kebun menjadi telantar, kekurangan pekerja dan pohon-pohon kopi makin tua. Oleh karena itu, selalu diperlukan program pendampingan petani dan inovasi. Itulah sebabnya Scopi aktif memberikan pelatihan di 15 provinsi.

Intinya regenerasi pemain kopi perlu dijamin berlanjut dan ditingkatkan kinerjanya. Tentu bukan hanya pekebun yang dilatih, tapi juga pengepul hasil panen. Maklum, Indonesia termasuk negara penghasil kopi nomor 4 terbesar di dunia. Sayangnya, baik kualitas maupun kuantitas panennya belum bisa dibanggakan. Sekadar bandingan, Brasil menghasilkan 1.900 kg per hektare. Vietnam bahkan 2.600 kg per hektare. Indonesia bertahan di 581 kg per hektare.

Mengapa begitu? “Karena sebagian besar produsen kopi kita adalah petani kecil. Belum tentu sistem yang sukses di Vietnam cocok kalau diterapkan di Indonesia,” kata Dr. Jamal Gawi, pendekar kopi dari Aceh. Saya hadir dalam seminar daring yang digelar LEAD Indonesia– Leadership for Environment And Development. Topiknya masalah kopi dan perubahan iklim. Pemanasan global mendorong perkebunan kopi arabika makin naik ke pegunungan.

“Ada masalah lingkungan di sana. Naiknya nilai kopi membuat perkebunan kopi perlu diperluas. Di beberapa tempat, pembukaan kebun kopi sudah merambah taman nasional,” kata Ali Sofiawan. Peneliti Keanekaragaman Hayati (Kehati) ini mencatat sejumlah taman nasional yang dirambah perluasan kebun kopi. “Yang paling parah terjadi di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan dan Taman Nasional Kerinci Seblat,” kata Ali.

Eka Budianta

Itulah sebabnya pendampingan untuk petani kopi perlu dipergiat. Bersama timnya yang terdiri atas 10 orang, Ali juga melakukan pendampingan di Taman Nasional Batanggadis, Taman Nasional Gunung Leuser, dan beberapa taman nasional lainnya. Ia mengampanyekan produk-produk kopi lokal untuk konsumen kopi di perkotaan. “Kami membagikan paket 750 cangkir kopi kemerdekaan untuk merayakan ulang tahun ke-75 proklamasi,” katanya.

Harga fantastis

Akibat krisis virus korona, bukan hanya penjualan di gerai kopi turun, harga kopi pun cenderung melemah. Harga kopi arabika bahkan bisa turun sampai 40 persen. Robusta cenderung lebih kuat. Kalau turun pun paling banyak 20 persen. Peneliti kopi di Flores, Renata Puji Sumedi, dalam presentasinya menampilkan kopi arabika yellow cattura. Buahnya berwarna kuning segar dan harganya memang lebih mahal.

“Harga biji kopi green bean sekitar Rp150.000 per kilogram,” katanya. Kalau sudah dipanggang (roasted) bertahan di Rp300.000 per kg,” kata Renata. Itulah harga ekspor untuk kopi arabika, yang hanya 20 persen dari produksi kopi Indonesia. Selebihnya, yang 80 persen adalah robusta, di dalamnya termasuk kopi exelsa dan varietas liberika. “Kalau kita beli di pasar Ruteng, Nusa Tenggara Timur, cukup Rp25.000 dapat satu kilogram green bean,” cerita F. Rahardi yang pandai mengolah kopi, meski bukan termasuk barista profesional.

Dunia kopi berkembang mulai abad ke-16, ketika pedagang Timur Tengah berusaha membendung arus anggur dari Barat dan limpahan teh dari Timur. Sejak itu, kopi menyebar ke berbagai penjuru dunia. Bahkan nenek-moyang kita sukses mengenalkan “java” yang wajib diminum sejak Chicago Wold Fair pada 1892.

Apa itu java? Ya kopi jawa alias robusta! Dr. Jamal Gawi, pejuang kopi dari Aceh berkata, “Perniagaan kopi itu nomor dua terbesar setelah minyak bumi.” Dia mengutip pernyataan itu dari buku Theories of Food and Social Meaning of Coffee karya Rouse dan Hopkins (2004). Kami pernah ke Jepang bersama dan melihat secangkir kopi dihargai US$24 di Okinawa. Sekarang di Jakarta, kami juga mendengar kopi luwak dibanderol Rp 300.000 secangkir saja.

Seperti 2019 Jacoweek yang dijadwalkan pada September 2020 pun mestinya menampilkan barista-barista kelas dunia. Namun, kita tidak perlu menyesal, sudah saatnya kita belajar menanam, memproduksi, hingga meracik dan menyeduh kopi sendiri dengan sebaik-baiknya. ***

Tags: , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software