Ikan Dewa Sumber Laba

Filed in Majalah, Profil by on 16/07/2019

Endang Mumuh membesarkan ikan dewa sejak 2000.

 

Pembudidaya dan pebisnis ikan dewa senior di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, meraup omzet belasan juta sebulan.

Patung ikan dewa di depan kediaman dan rumah makan milik Endang Mumuh.

Patung ikan dewa sepanjang 2,5 m di halaman depan rumahnya makin meneguhkan eksistensi Endang Mumuh sebagai pembudidaya ikan air tawar itu. Saat ini peternak di Kecamatan Cimalaka, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, itu salah satu pembudidaya dan pebisnis ikan dewa terbesar di Kabupaten Sumedang, bahkan mungkin se-Pulau Jawa. Endang memiliki sekitar 900 ikan dewa berbobot minimal 1 kg.

“Saya tertarik memelihara ikan dewa karena banyak orang yang mencari ikan itu,” kata peternak sejak 2000 itu. Oleh karena itulah, Endang membeli benih ikan kancra—sebutan lain ikan dewa—di peternak pada 2000 dan berlanjut hingga kini. Masyarakat Kabupaten Sumedang turun-temurun membudidayakan ikan dewa di kolam. Endang membesarkan ikan dewa berbobot 200 g hingga mencapai minimal 1 kilogram.

Pembesaran

Endang Mumuh tidak membeli ikan dewa berukuran lebih besar karena harganya pun lebih mahal. Masa budidaya yang lama tidak menjadi penghalang bagi Endang. Ia memerlukan sekitar 1 tahun untuk membesarkan ikan dewa berbobot 200 gram menjadi 1 kilogram.

Itulah sebabnya harga ikan dewa pun selangit. Dahulu harga ikan dewa hanya Rp150.000 per kg. Kini Endang melego ikan dewa mulai dari Rp800.000 per kg. Itu harga fantastis untuk ikan air tawar. Bandingkan dengan harga ikan air tawar lainnya seperti gurami yang hanya dibanderol Rp42.500 per kg. Jadi, ikan dewa yang dijual Endang bukanlah tangkapan alam, tapi hasil pembesaran.

Pasar ekspor menunggu pasokan ikan dewa dari Indonesia.

Naiknya harga menunjukkan pasar ikan dewa berkembang. Restoran dan masyarakat Batak konsumen ikan dewa di kolam Endang. Beberapa pejabat pun membeli ikan dewa berukuran lebih dari 2 kg sebagai penghuni kolam. Selain dikonsumsi, ikan dewa pun cocok sebagai ikan hias. Memiliki ikan dewa menjadi kebanggan tersendiri karena harganya mahal. Kini Endang rutin menjual 6 ikan dewa ke restoran di Bali per 2 bulan sejak 2018.

Ia mematok harga sekitar Rp1,1 juta per kg termasuk ongkos kirim sehingga omzetnya Rp6,6 juta. Setelah dikurangi ongkos produksi 50% dari omzet, maka Endang mengantongi laba Rp3,3 juta. Ia juga rutin menjual 5—10 ikan dewa berbobot 0,7—1 kg untuk keperluan adat masyarakat Batak. Harga jual ikan Rp850.000 sehingga ia mendapatkan omzet minimal Rp3 juta. Konsumen dari etnis Batak menghendaki ikan dewa berdasarkan panjang dan jumlah tertentu.

Selain ukuran konsumsi, Endang pun menjual benih ikan dewa sejak April 2018. Saat itu ia bisa memijahkan induk ikan dewa. Pengetahuan itu berasal dari dua peneliti ikan dewa di Balai Riset Penelitian Budidaya Air Tawar dan Penyuluh Perikanan (BRPBATPP) Bogor, Drs. Jojo Subagja, M.Si, dan Ir. Otong Zenal Arifin M.Si. Sebelumnya Endang hanya mengandalkan benih dari peternak sekitar dan BRPBATPP Bogor. Kini ia menjual sekitar 2.000 benih per bulan berukuran 8—15 cm.

Harga benih sepanjang 8 cm mencapai Rp8.000 per ekor. Endang tidak menjual benih berukuran 2—3 cm karena rentan mati. Hasil perniagaan benih ikan dewa itu mencapai belasan juta rupiah per bulan. Peternak kelahiran Subang, Jawa Barat, itu menyarankan pembudidaya pemula untuk menekuni pembesaran. “Jika punya modal dan lahan, sebaiknya pilih pembesaran,” kata pemilik Rumah Makan Fish 88 itu.

Endang Mumuh
TTL : Subang, 19 Oktober 1956
Pendidikan : Jurusan Ilmu Politik Universitas Terbuka
Jejak Agribisnis :
1. Pembudidaya ikan mas dan nila 1998—sekarang
2. Pembudidaya ikan dewa 2000—sekarang
3. Anggota Perkumpulan Pengusaha Ikan Mahseer Indonesia (PPIMI) 2017—sekarang

Ekspor

Endang memanfaatkan kolam berarus sedang hingga besar untuk pembesaran ikan dewa. Budidaya ikan dewa tidak semudah membalik telapak tangan. Pada 2018 sekitar 30 induk berbobot 2—3 kg mati karena pemijahan gagal. Saat itu Endang dan kedua anaknya masih tahap belajar pemijahan. Ia menduga ikan stres karena ditangkap dan dibius. Pergantian musim ke musim hujan pun mesti diwaspadai.

Ikan berukuran kurang dari 7 cm kerap mati ketika air kolam terlalu dingin. Sebaiknya pindahkan ikan ke kolam yang airnya lebih hangat. Ikan berbobot 100 g relatif lebih tahan. Endang optimis peluang bisnis ikan dewa masih bagus. Potensi pasar dalam negeri terbuka meskipun harganya tinggi. “Saya berencana menambahkan ikan dewa dalam menu warung makan saya,” kata pria berumur 62 tahun itu.

Pasar ekspor pun memburu ikan dewa. Ketua Perkumpulan Pengusaha Ikan Mahseer Indonesia (PPIMI), Ir. Setra Yuhana, M.M., bersama rekan tengah menyiapkan permintaan pasar Hongkong melalui eksportir warga negara Malaysia sebanyak 1 ton per bulan. Di pasar internasional ikan dewa sohor sebagai ikan mahseer. Ikan dewa pun menjadi andalan Endang meraup laba. (Riefza Vebriansyah)

Tags: ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software