Ia Pindah dengan Sentosa

Filed in Topik by on 04/11/2010 0 Comments

Itu bukan pertanyaan iseng tanpa alasan. Pegawai PT Waskita Karya, badan usaha milik negara yang bergerak di bidang konstruksi, itu tengah memperhitungkan strategi pemindahan baobab Adansonia digitata berumur 58 tahun yang tumbuh di Subang, Jawa Barat, ke kampus Universitas Indonesia di Depok, Jawa Barat. ‘Kami pindahkan baobab dari Subang untuk keperluan riset dan pendidikan,’ ujar  Prof Dr der Soz Gumilar R Somantri, rektor Universitas Indonesia.

Edison berencana mengangkut baobab dengan trailer lowbed. Ia satu-satunya jenis kendaraan yang bisa mengangkut baobab berbobot 30 ton. Trailer lowbed biasanya dipakai mengangkut alat berat seperti beko atau traktor. Lebar trailer mencapai 3,5 m, lebih lebar ketimbang truk biasa yang hanya 2,5 – 3  m. ‘Saya khawatir trailer tidak bisa masuk pintu tol karena terlalu sempit,’ ujar Edison. Apalagi percabangan baobab sangat lebar sehingga tinggi pintu tol harus diperhitungkan.

Tabungan air

Sayang, tidak semua petugas lapangan mengetahui ukuran pintu tol yang bisa dilewati truk. Jawaban baru diperoleh di kantor PT Jasa Marga yang mengelola jalan tol. Lebar pintu tol yang bisa dilewati truk 4,5 m. Dengan ukuran itu trailer bisa melewati pintu tol dengan jarak ke bibir mulut tol hanya 50 cm.

Setelah melalui perhitungan akurat tentang sarana pengangkutan dan penggalian, pemindahan baobab pun dimulai pada 27 Agustus 2010. Hari itu UI memindahkan 2 baobab: dari pinggir jalan raya Manyingsal, Kecamatan Cipunagara, Kabupaten Subang, dan di kebun tebu milik Rajawali II Rayon Manyingsal.  Agar baobab tetap hidup, pihak universitas menggandeng M Yanto, konsultan pemindahan pohon-pohon besar asal Bogor, Jawa Barat.

Sebanyak 12 pekerja dikerahkan untuk menggali lubang beradius 1 m dari pangkal batang baobab. Akar serabut dipangkas hingga gundul.  Sementara akar besar dipertahankan untuk menahan pohon agar tidak roboh saat penggalian.  Bersamaan dengan itu dilakukan pemangkasan cabang. ‘Beberapa cabang besar terpaksa dipotong karena harus menyesuaikan dengan lebar dan panjang trailer,’ ujarnya.

Tak disangka hanya butuh waktu 2 hari untuk menggali kedua baobab yang berlingkar batang 9 – 12 m itu. ‘Tadinya diperkirakan memakan waktu 3 – 4 hari,’ ujar Yanto. Dugaan awal akar baobab menghunjam ke dalam ke bumi sehingga sulit digali. Ternyata perakarannya didominasi akar serabut. Pohon baobab berdiri kokoh dengan hanya mengandalkan akar-akar besar yang tumbuh menyamping, bukan akar tunjang yang menghunjam ke dalam tanah. Pohon pun lebih mudah tercabut.

Mesti hati-hati

Tiga hari berselang pohon baobab siap diangkut. Dua trailer dan dua katrol berdaya angkat 50 ton sudah siap memboyong ki tambleg – sebutan baobab di Manyingsal. Sebelum diangkut, luka bekas pemotongan cabang dan perakaran disemprot fungisida dan bakterisida untuk mencegah kontaminasi cendawan dan bakteri. Luka bekas potongan cabang dibalut karung goni. Ratusan karung sekam padi ditata di permukaan trailer sebagai alas untuk meminimalkan luka benturan pohon pada badan  trailer.

Pukul 21.00 pengangkatan baobab berakhir. Kedua trailer lalu meninggalkan Manyingsal menuju Depok. Delapan jam berselang, pada pukul 05.00 keesokan harinya kedua baobab tiba di kampus UI. Kini baobab tertanam kokoh di universitas terkemuka di tanahair. (Imam Wiguna/Peliput: Ari Chaidir)

 

Powered by WishList Member - Membership Software