Hulu Hilir Cokelat

Filed in Majalah, Perkebunan by on 21/03/2016

Pelesir sembari belajar tentang cokelat sejak dari kebun sampai jadi sajian nikmat.

Kampung Coklat, wisata pendidikan yang menyajikan pengenalan cokelat dari hulu hingga hilir.

Kampung Coklat, wisata pendidikan yang menyajikan pengenalan cokelat dari hulu hingga hilir.

Khoirul Huda mengamati benih kakao untuk memastikan calon bibit itu sehat. Sejurus kemudian ia membenamkan biji itu dalam media tanam. Ia menghentikan kegiatan itu untuk menikmati chocolate dipped fruit—potongan buah berbalut cokelat cair di meja-meja yang tertata rapi di bawah tajuk pohon Theobroma cacao. “Suasananya sejuk, nyaman, sekaligus bisa belajar budidaya kakao plus cara membuat cokelatnya,” ujar Irul—sapaan akrabnya.

Hari itu Irul bersama 150 rekannya mahasiswa Universitas Tulungagung, Jawa Timur, melakukan studi wisata di Kampung Coklat di Desa Plosorejo, Kecamatan Kademangan, Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Itu merupakan tempat wisata sekaligus belajar tentang cokelat. Menurut Manajer Operasional Kampung Coklat, Akhsin Al Fata, setiap hari 2.000—7.000 pengunjung memadati area seluas 2 hektare itu.

Mencari ilmu

Kholid Mustofa, pemimpin Kampung Coklat dan Gapoktan Guyub Santoso.

Kholid Mustofa, pemimpin Kampung Coklat dan Gapoktan Guyub Santoso.

Pada hari libur, jumlah pengunjung menembus belasan ribu orang. “Rekor jumlah pengunjung saat Tahun Baru 2016. Mulanya kami prediksi sekitar 12.000 orang dalam sehari, ternyata membeludak hingga 18.000 pengunjung,” kata Akhsin. Pengunjung bukan hanya dari domestik, melainkan juga dari mancanegara seperti Swiss, Belanda, dan Finlandia. Selain menikmati cokelat berkualitas langsung dari tempat pengolahan, wisatawan juga mendapat ilmu mengenai kakao dari hulu hingga hilir.

“Mahasiswa Teknologi Pangan asal Perancis sudah mendaftar untuk magang 4 bulan pada Mei 2016,” ujar Akhsin. Menurut lelaki kelahiran 28 Desember 1984 itu, minat mahasiswa asing untuk magang di Indonesia menjadi bukti pengakuan kakao Indonesia di mancanegara. Kampung Coklat bermula dari Gabungan Kelompok Tani Guyub Santoso pimpinan Kholid Mustafa yang kemudian mendirikan Koperasi Serba Usaha (KSU).

Alumnus Madrasah Aliyah itu menimba ilmu ke PT Perkebunan Nusantara XII sektor kebun Bantaran, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar dan Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslitkoka). Saat mencoba menjual langsung biji kakao di Pelabuhan Tanjungperak, Surabaya, Kholid mendapat harga Rp16.000 per kg untuk biji kakao kering. “Di tengkulak hanya Rp9.000,” ujar Akhsin.

Bahan bermutu

Pengeringan biji kakao di Kampung Coklat untuk pasar ekspor ke Malaysia.

Pengeringan biji kakao di Kampung Coklat untuk pasar ekspor ke Malaysia.

Kholid bersama anggota Guyub Santoso semakin bersemangat meningkatkan produksi serta menambah keragaman produk. Mereka mengolah sendiri biji kakao kering menjadi cokelat siap konsumsi untuk meningkatkan nilai jual.

Pada Agustus 2014, Kholid Mustofa dengan KSU Guyub Santoso mendirikan tempat wisata pendidikan bertema kakao dan cokelat dengan nama Kampung Coklat. Dengan menggunakan sarana promosi seadanya yaitu brosur fotokopi, Kholid mulai menawarkan paket wisata pendidikan ke sekolah-sekolah. “Saat itu pengunjung baru 5—7 orang saja per hari, tetapi dari pengunjung yang datang ke Kampung Coklat mereka akan bercerita ke teman-temannya.

 

Promosi

Para pekerja mengemasi cokelat siap makan.

Para pekerja mengemasi cokelat siap makan.

Para pengunjung juga banyak yang berswafoto (selfie) lalu mengunggahnya ke media sosial. Maka promosi Kampung Coklat menjadi masif. Peneliti kakao dari Puslitkoka, Jember, Jawa Timur, Dr Soekadar Wiryadiputra MSc, mengatakan, “Perkembangan Kota Blitar sebagai sentra baru kakao sangat cepat. Kakao dan cokelat sebagai objek wisata membuat orang penasaran dan ingin berkunjung. Itu nilai tambah Blitar dibandingkan sentra terbesar kakao tanah air seperti Sulawesi yang belum dapat menjadi tempat hiburan,” kata alumnus Universitas Gadjah Mada itu.

Inovasi itu turut mendongkrak pamor kakao sekaligus cokelat Indonesia di kancah Internasional. Menurut Soekadar, Indonesia hanya menempati posisi ke-3 produsen kakao dunia, di bawah Pantaigading dan Ghana. “Padahal di sini kita unggul dalam hal luas wilayah dan iklim yang sangat cocok untuk pengembangan kakao,” ujar anggota Dewan Pakar Puslitkoka itu.

Selain Blitar, mitra pekebun kakao Gapoktan Guyub Santoso juga tersebar di berbagai daerah seperti Trenggalek, Ponorogo, Madiun, Pacitan, Jombang, Mojokerto, Jember, Banyuwangi (semua di Jawa Timur), Batang, Pekalongan (Jawa Tengah), hingga Sorong (Papua). Total biji kakao kering yang Kholid pasarkan mencapai 15 ton per hari. “Sekitar 60% kami ekspor ke Malaysia, 40% untuk pasar dalam negeri,” ujar Akhsin Al Fata.

Pengunjung bisa menikmati menu makanan berbahan cokelat di bawah pohon kakao setinggi 3—5 meter.

Pengunjung bisa menikmati menu makanan berbahan cokelat di bawah pohon kakao setinggi 3—5 meter.

Daya tarik bagi pengunjung selain menikmati berbagai sajian berbahan cokelat sembari melihat proses produksi adalah tentu saja belanja produk olahan kakao itu. Setiap hari Kampung Coklat mengolah 300 kg bubuk kakao murni untuk diolah menjadi 35 jenis produk cokelat siap makan, antara lain cokelat hitam, cokelat susu, cokelat krispi, jenang cokelat, dodol cokelat, dan mi cokelat.

“Pengunjung domestik lebih menyukai cokelat krispi, campuran bubuk kakao murni dengan remahan kue opak gambir. Sementara pengunjung dari negara Eropa seperti Swiss lebih menyukai cokelat hitam yang terbuat dari 60% bubuk kakao murni, 40% sisanya lemak kakao dan lesitin,” kata lelaki asal Wlingi, Kaupaten Blitar, itu. Meski baru berumur 1,5 tahun, Kampung Coklat berkembang pesat dan menjadi perbincangan praktisi kakao, penikmat cokelat, hingga orang awam yang hanya sekedar ingin bertamasya.

“Kami akan menambah luasan 1 hektare untuk tempat wisata edukasi sehingga total luas Kampung Coklat menjadi 3 ha. Harapannya semakin banyak yang mengenal dan mengembangkan kakao tanah air sehingga kondisi kakao Indonesia semakin maju,” ujar Kholid Mustofa. Warisan suku Indian Aztec itu berkibar di Blitar melalui Kampung Coklat. (Bondan Setyawan)

Tags: , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software