Hilang Karena Ganggang

Filed in Obat tradisional by on 02/05/2013 0 Comments
"Penyebab hipertiroid belum diketahui secarapasti.” ujar Dr dr Nyoman Kertia SpPD-KR

“Penyebab hipertiroid belum diketahui secara
pasti.” ujar Dr dr Nyoman Kertia SpPD-KR

Gondok Elmawati selama 6 bulan sembuh dengan ganggang.

Elmawati  tidak pernah mengira bisa menderita penyakit gondok. Penyakit akibat gangguan tiroid itu mulai mengganggunya pada pengujung 2010. Awalnya benjolan gondok tidak terlalu besar. “Kira-kira seukuran tomat ceri,” kata perempuan 26 tahun itu. Berikutnya benjolan di leher itu semakin membesar dan membuat Elmawati menjadi pusat perhatian teman dan rekan sekantornya. “Saya merasa sungkan dengan berbagai pertanyaan mereka,” ujar Elmawati.

Gondok menyebabkan Elmawati mudah kelelahan. Bobot tubuhnya pun melorot dari semula 60 kg menjadi 53 kg hanya dalam satu bulan. Kombinasi rasa lelah dan bobot tubuh yang turun itu membuat Elmawati sering kali tak sanggup menaiki anak tangga di kantornya. “Tangan saya sampai gemetaran,” ujar Elmawati yang  tidak merasakan nyeri akibat gondok itu.

Perempuan  yang  berdomisili di Pangkalanbaru, Pangkalpinang, Provinsi Bangka Belitung itu, sudah dua kali memeriksakan penyakitnya pada dokter. Namun, tak banyak perubahan berarti. Padahal, Elmawati sampai berobat ke sebuah rumahsakit di negeri jiran, Malaysia. Khawatir terjangkit tumor, ia  memeriksakan  diri ke sebuah rumahsakit di Jakarta dan menjalani uji laboratorium. Hasilnya, dokter menyebutkan ia mengalami hipertiroid.

Hipertiroid

Elmawati, konsumsi cryptomonadalesmenyembuhkan hipertiroid serta membantumendapatkan bobot tubuh ideal

Elmawati, konsumsi cryptomonadales menyembuhkan hipertiroid serta membantu mendapatkan bobot tubuh ideal

Menurut Dr dr Nyoman Kertia SpPD-KR dari RSUD dr Sardjito, Yogyakarta, hipertiroid terjadi karena kelenjar tiroid memproduksi hormon di atas batas normal  yaitu 0,4-4,5 mIU/l. Akibat produksi hormon tiroksin yang berlebih itu menyebabkan  peningkatan laju metabolisme di dalam tubuh. “Fungsi  hormon tiroksin yang dihasilkan kelenjar gondok atau tiroid ialah mengatur metabolisme di tubuh. Apabila jumlahnya berlebih menyebabkan proses metabolisme meningkat,” ujar  Nyoman.  Belum diketahui secara pasti penyebab gangguan hipertiroid itu.

Menurut Frederik S. Woworuntu MSc HH, dari Rumahsehat di Desa Warukapas Tateli, Kabupaten Minahasa Utara, Provinsi Sulawesi Utara, pembengkakan di kelenjar tiroid pada penderita hipertiroid bisa terjadi karena peradangan atau inflamasi.  “Inflamasi pada kelenjar tiroid bisa berbeda gejalanya,  ada yang disertai rasa nyeri dan tanpa nyeri,” kata Frederik. Gejala yang tampak seperti gelisah, susah tidur, penurunan bobot badan, peningkatan suhu tubuh, produksi keringat berlebih, dan tangan gemetar. Gejala lainnya seperti jantung berdebar, badan lemah, kekuatan otot menurun, dan kondisi mata melotot. “Tidak selamanya gangguan  hipertiroid ditandai dengan timbulnya benjolan di sekitar leher tapi orang yang terlihat normal bisa saja mengalami gangguan ini,” ujar Nyoman.

Sejauh ini obat-obatan  untuk  mengatasi hipertiroid sifatnya  terbatas mencegah dan menanggulangi  penyakit secara sementara, tapi belum menjamin kesembuhan total. Bahkan, pada banyak kasus konsumsi obat-obatan yang mengurangi kinerja tiroid justru mengakibatkan penderita hipertiroid menjadi hipotiroid atau kekurangan jumlah hormon tiroksin yang menyebabkan laju metabolisme menurun.  Jalan pintas untuk mengatasi kelainan tiroid itu adalah pengangkatan kelenjar tiroid dan abrasi melumpuhkan sebagian kelenjar tiroid. “Kedua cara ini memiliki konsekuensi dampak  dan biaya,” kata Nyoman.

Titik cerah

Alga Turunkan Tiroksin

Alga Turunkan Tiroksin

Menyadari hal tersebut,  Elmawati sempat putus asa dan membiarkan penyakit  gondok di lehernya. Prihatin melihat kondisi itu, seorang kerabat, menyarankan agar  mencoba mengonsumsi  ekstrak cryptomonadales Chlorella sorokiniana berbentuk tablet. Awalnya, karyawan swasta itu sempat ragu dan mengabaikan saran itu. Namun, karena terus-menerus mendapat masukan, pada Agustus 2011, Elmawati mengonsumsi tablet tanaman bersel satu itu. Setiap hari, ia mengonsumsi  masing-masing 20  butir tablet. Perubahan terasa setelah satu bulan mengonsumsi. Benjolan di lehernya berangsur-angsur  mengecil dan mulai menghilang. Tangannya tak lagi gemetar. “Stamina tubuh membaik dan badan segar,” ungkap Elmawati.

Perbaikan kondisi itu tidak serta merta membuat ibu satu anak itu lepas dari masalah. Pola makan selama sakit menyebabkan Elmawati mengalami kegemukan. Bobot tubuhnya melonjak  hingga 12 kilogram. Menurut Frederik hal itu  lumrah terjadi karena perubahan laju metabolisme.  “Dulu sewaktu sakit makan seberapa banyak pun  justru kurang, tapi setelah sembuh  kalau belum diubah bisa mengalami kegemukan,” ungkap pakar nutrisi dan neuropati itu.

Sadar dengan kondisi tubuhnya yang mulai tidak proposional, perempuan setinggi 163 cm ini  pun mengontrol pola makannya menjadi lebih sehat dan diimbangi konsumsi rutin cryptomonadales. Hasilnya,  bobot badan  yang semula mencapai  72 kg  turun  menjadi 56 kg dalam waktu 3 bulan. “Saya tidak menyangka efek perubahan sangat cepat,” ujar Elmawati.

Turunkan tiroksin

Sejatinya Chlorella sorokiniana ialah ganggang ber sel satu berukuran 4—8 mikron yang kaya akan nutrisi, antioksidan, protein, omega 6, Peroxisome Proliferator Activated Reseptors (PPARs), dan Cell Growth Factors (CGF). Semua zat itu berperan dalam mencukupi asupan nutrisi bagi penderita hipertiroid yang metabolisme tubuhnya meningkat. Apabila asupan nutrisi tercukupi maka tubuh akan memiliki imunitas untuk melawan berbagai penyakit.  Selain itu, menurut Frederik, senyawa PPARs  pada ganggang hijau–biru memiliki sifat antinflamasi yang mampu meredakan peradangan atau bengkak di tubuh seperti  gondok. Penyebab inflamasi  umumnya dari radikal bebas yang berasal dari   makanan, polusi udara, atau zat-zat karsinogen yang terkontaminasi ke dalam tubuh.

Riset Mark J. Holness dari Pusat Pengobatan Diabetes dan Metabolisme, Universitas Queen Mary, London, Inggris, pada 2008 menyebutkan bahwa senyawa PPARs khususnya PPAR alfa yang terkandung dalam ganggang Chlorella sorokiniana mampu  mengurangi produksi tiroksin dan menormalkan sekresi glukosa pada pasien hipertiroid. Singkat kata, penelitian itu memperlihatkan  kondisi hipertiroid menyebabkan perubahan metabolisme,  memicu kerja pankreas terutama sekresi insulin dalam metabolisme glukosa. Aktivasi dari senyawa PPAR alfa mampu menekan tingkat  hormon T3 (Triiodotironin) yang menyebabkan produksi insulin kembali normal sehingga asupan glukosa sebagai bahan bakar penghasil energi pun kondisinya stabil.

Bagi penderita hipertiroid penanggulangan dan pengobatan perlu dilakukan agar penyakit tidak bertambah parah. Nyoman menyarankan penderita hipertiroid sebaiknya menghindari udara panas dan stres. “Stres dapat memperparah ketidakseimbangan metabolisme,“ kata Nyoman. Udara panas akan memicu produksi keringat.  Dampak terburuk gangguan  hipertiroid bila tidak  segera ditanggulangi  akan mengganggu fungsi jantung. Namun, berkat Chlorella sorokiniana hal itu bisa diredam. (Nurul Aldha Mauliddina Siregar)

 

FOTO:

  1. “Penyebab hipertiroid belum diketahui secara pasti.” ujar Dr dr Nyoman Kertia SpPD-KR
  2. Chlorella sorokiniana mampu menurunkan kadar tiroksin pada penderita hipertiroid
  3. Elmawati, konsumsi cryptomonadales menyembuhkan hipertiroid serta membantu mendapatkan bobot tubuh ideal
 

Powered by WishList Member - Membership Software