Hidroponik Gunung Berapi

Filed in Topik by on 01/01/2014
Dari perut bumi itu rockwool, perlite, dan vermiculite berasal

Dari perut bumi itu rockwool, perlite, dan vermiculite berasal

Arang salah satu pengubah budaya dunia. Pada masa silam,  ketika nenek moyang kita kebingungan karena kehabisan perunggu untuk membuat alat perang, mereka menemukan bijih besi. Bijih besi itu dikumpulkan dan dibakar dengan api yang berasal dari arang. Melalui reaksi kimia berantai yang melibatkan oksigen dan karbon monoksida sehingga menghasilkan karbondioksida, terciptalah besi murni yang kemudian dibentuk sesuai keperluan saat itu, yakni membuat alat perang.

Tanpa arang mungkin tidak muncul besi. Tanpa arang pula, maka seni kuno lukisan di dinding gua tidak akan terwarisi sampai kini. Arang pula yang menjadi pelopor penanaman sayuran tanpa tanah. Konon pada awal ditemukannya kembali teknologi pembuatan arang di awal peradaban, jutaan hektar hutan habis dibakar sekadar untuk memperoleh arang. Hutan memang menghidupi peradaban manusia.

Arang pernah menjadi andalan untuk berhidroponik, teknik bercocok tanam yang sekarang sangat populer. Industri florikultura modern di Belanda, kebun tanaman hias modern di Israel, atau greenhouse sayuran modern di Australia, misalnya, sudah lama sekali mengabaikan arang. Kalau kita berkunjung ke nurseri yang memakai teknik hidroponik substrat, maka yang terlihat adalah media rockwool, glasswool, perlite, pumice, dan vermiculite. Pekebun di Indonesia kerap kali memakai sekam bakar. Di beberapa tempat rockwool menjadi andalan. Variasi lain masih ada.

Semua dari gunung

Jika dahulu arang menjadi andalan untuk bercocok tanam nontanah, maka beberapa ratus tahun kemudian dambaan dipasrahkan pada gunung berapi. Tatkala gunung berapi meletus, yang ditebarkan bukan hanya malapetaka. Bersamaan dengan berhamburannya isi perut bumi, terlontar pula lava cair sangat panas. Embusan angin membuat lava mengandung batuan basal bersilika itu memanjang membentuk serat setipis rambut manusia. Penduduk Kepulauan Hawaii, Amerika Serikat, menamakannya Rambut Pele. Pele bagi mereka bukan pemain bola asal Brasil, tetapi dewa gunung berapi. Rambut Pele itu kemudian dipadatkanseperti wol, muncullah rockwool. Di tempat lain, batuan basal itu dilelehkan dan dijadikan serat memanjang, kemudian ditekan dan disatukan sehingga berbentuk lembaran atau sleb.

Pada awal kehadiran teknologi hidroponik substrat komersial di Indonesia era 80-an, rockwool adalah media tanam utama. Di Parongpong, Lembang, Bandung, PT Joro memakainya untuk menanam paprika. Almarhum Ronald Serhalawan, pemimpinan PT Joro saat itu mengatakan, rockwool sangat bagus menyerap air, tetapi tidak membuat air tergenang. Artinya, dia sangat porous. Rockwool menjaga agar perakaran memperoleh pasokan oksigen memadai sehingga sanggup menyerap nutrisi secara maksimal.

Murkanya gunung api pun memuntahkan batuan lain yang kemudian disebut perlite alias pearlstone. Meskipun kemampuan menahan airnya lebih rendah dari pada rockwool, tapi perlite sohor sebagai media terbaik untuk pertumbuhan akar. Perlite menjamin kelembapan perakaran terjaga, menghemat pemakaian air dan nutrisi. Perlite cenderung mengambang ketika media disiram.

Selain rockwool dan perlite, yang kondang pula ialah vermiculite. Ini juga mineral asal perut bumi. Ia magnesium alumunium silikat yang mengalami hidrasi dan berbentuk seperti mika. Vermiculite diperoleh setelah dipanaskan pada suhu minimal 750oC. Bagi para pekebun hidroponik, vermiculite dikenal sebagai media yang kemampuan menahan airnya setara dengan rockwool. Media ini pun memudahkan pemasokan kalium dan magnesium.

Rockwool, perlite, dan vermiculite. Semua muncul di Indonesia pada era 80-an. Perlite dan vermiculite sudah jarang dijumpai karena sulit memperolehnya. Kalau kita berkunjung ke nurseri di Belanda, Australia, Taiwan, Jepang, atau belahan dunia lain maka perlite dan vermiculite masih sering terlihat di pot. Yang masih banyak dipakai disini hanya rockwool. Itupun bersaing keras dengan pengganti ala Indonesia: sekam bakar. Sekam bakar sangat porous sehingga air pasti tidak akan tergenang. Setelah disiram pun sekam bakar tidak mengeras. Sifat itu menyebabkan pertumbuhan akar leluasa.

Jangan abaikan

Seluruh media yang kerap dipakai di hidroponik selalu mensyaratkan porositas dan kemampuan “memegang” air. Penyebabnya, media wajib lembap. Suhu harus stabil sesuai kebutuhan tanaman. Semua tanaman mati dalam hitungan menit jika suhu media meningkat ekstrem, mencapai 60oC. Pada suhu 50oC sebagian besar tanaman mati. Pertumbuhan tanaman maksimal jika suhu media berkisar 16—30oC. Di atas suhu itu akar bakal rusak dan memudahkan masuknya patogen.

Porositas media pun mempengaruhi ketersediaan oksigen yang sangat penting agar akar dapat melakukan respirasi aerob. Kandungan oksigen yang rendah di sekitar perakaran akan menghambat penyerapan nutrisi, terutama nitrat. Media yang biasa dipakai di hidroponik pada umumnya porous. Kandungan oksigen pun memadai. Uji aerasi seperti yang harus dilakukan di media tanah, misalnya, tidak perlu dilakukan.

Unsur penting lain ialah pH media. Media hidroponik akan berangsur-angsur turun pH-nya jika memakai nutrisi bersifat asam. Saat pH media di bawah 5,5 misalnya, ujung daun akan berubah cokelat. Sebaliknya ketika pH di atas 6,5, terjadi kekurangan unsur mikro. Daun pun menguning.

Ribuan penelitian ilmiah tentang media telah dilakukan. Semua berkisar pada porositas, kemampuan menahan air, angka pH, dan suhu. Di alam, itu semua diatur dalam ekosistem yang rumit, kompleks, dan melibatkan banyak mahluk hidup. Saat manusia campur tangan, maka proses alami itu harus direkayasa. Seperti juga rekayasa yang dilakukan ketika isi perut bumi berhamburan dan diolah menjadi media tanam. ***

[author image=”http://www.trubus-online.co.id/tru/wp-content/uploads/2014/01/530_Hal-20-21-2.jpg” ]Onny Untung, Koordinator Pengembangan Agribisnis dan redaktur senior Trubus[/author]

FOTO: Dari perut bumi itu rockwool, perlite, dan vermiculite berasal

 

Powered by WishList Member - Membership Software