Hidroponik di Serambi

Filed in Sayuran by on 15/02/2016
Dari hidroponik kit di lantai 2 rumah, hampir setiap hari panen sayuran.

Dari hidroponik kit di lantai 2 rumah, hampir setiap hari panen sayuran.

Membudidayakan sayuran dengan teknik hidroponik di selasar rumah.

Selasar berukuran 4 m x 4 m di lantai dua rumah Tieke Meiliana Utama di Kota Bekasi, Jawa Barat, itu semula tempat keluarga melepas penat. Di sana ia menempatkan satu set mebel untuk duduk santai dan payung besar agar teduh. Untuk memperindah selasar, Tieke juga meletakkan pot-pot aneka jenis tanaman hias. “Di sini biasanya kami sering duduk-duduk sambil minum teh di sore hari,” ujar Damal Bayu Utama, suami Tieke.

Namun, kini selasar atau serambi itu berubah wajah. “Kami sudah tidak bisa lagi duduk-duduk santai di selasar ini karena penuh dengan perangkat hidroponik,” kata Tieke. Di bagian kanan selasar tampak perangkat hidroponik dengan sistem deep flow technique (DFT) terdiri atas 88 lubang tanam. Di bagian tengah Tieke menempatkan perangkat sama yang terdiri atas 54 lubang tanam.

 Atap rumah asri dan produktif dengan hidroponik.

Atap rumah asri dan produktif dengan hidroponik.

Beragam sayuran
Pada kedua perangkat itu Tieke membudidayakan aneka jenis sayuran seperti selada, kangkung, bayam merah, bayam batik, sawi, dan kale. Tieke juga menggunakan berbagai perangkat hidroponik lain. Contohnya perangkat hidroponik sederhana menggunakan kotak stirofoam bekas kemasan buah impor. Ia melubangi bagian tutup kotak buah itu untuk menempatkan net pot.

Tieke menanami kotak stirofoam itu dengan sayuran rempah seperti kemangi dan seledri. Sementara untuk jenis sayuran yang tanamannya bertajuk lebar dan tinggi seperti kubis, cabai, dan bunga kol, ia tanam dalam pot menggunakan media tanam pasir malang dan serbuk sabut kelapa atau cocopeat. Ia memberikan nutrisi dengan cara menyiram media tanam secara berkala setiap hari. “Itu namanya guyur ponik,” ujarnya sambil bercanda.

Ibu tiga anak itu juga tengah mempersiapkan perangkat hidroponik yang menggunakan sistem dutch bucket. Ia menggunakan kotak bekas es krim untuk wadah tanaman. Kotak plastik berwarna putih itu nantinya akan diisi media tanam berupa hidroton, yakni media tanam berupa butiran-butiran tanah liat yang sudah dibakar. Pada dutch bucket itu nutrisi dialirkan melalui selang ke dalam wadah hingga ketinggian sejajar dengan ketinggian media tanam.

Tieke Meliana Utama (kanan) dan suami, Damal Bayu Utama kompak berhidroponik.

Tieke Meliana Utama (kanan) dan suami, Damal Bayu Utama kompak berhidroponik.

Pada ketinggian yang sama terdapat lubang “buangan” nutrisi untuk mengalirkan nutrisi berlebih kembali ke tangki nutrisi dan dialirkan lagi melalui perangkat vertigasi ke setiap wadah, begitu seterusnya. “Perangkat dutch bucket itu untuk membudidayakan mentimun, melon, dan tomat,” ujar ibu yang juga bekerja sebagai manajer sumber daya manusia di Coffey International Ltd itu.

Konsumsi keluarga
Dari selasar itu Tieke hampir setiap hari memanen sayuran. “Saat ini sebagian besar hasil panen untuk konsumsi keluarga,” ujar alumnus Fakultas Hukum Universitas Pancasila itu. Jika sedang panen berlebih, ia juga kerap membawa hasil panen ke kantor dan membagikannya kepada rekan-rekan sekantor. “Ternyata banyak yang suka. Nantinya saya akan mulai menjual hasil panen,” kata pehobi melancong itu.

Bagi Tieke bercocok tanam sebetulnya bukanlah hobi baru. “Saya suka sekali bercocok tanam. Cuma selama ini lebih banyak merawat tanaman hias,” ujar ibu murah senyum itu. Suatu ketika sang suami melayangkan “protes”. “Suami menginginkan saya merawat tanaman yang bisa dikonsumsi, jangan hanya sebagai hiasan, ” kata penggemar kopi itu.

Ia tertarik berhidroponik setelah berkunjung ke rumah salah seorang rekan yang membudidayakan aneka sayuran nirtanah itu. “Ternyata hasilnya bagus dan kita tidak perlu berkotor-kotor untuk merawatnya,” ujarnya. Sebagai ujicoba Tieke membeli perangkat hidroponik sederhana berupa wadah plastik yang ditutup oleh papan serat kaca yang sudah dilubangi untuk menempatkan pot tanaman.

Kegiatan merawat tanaman pada pagi dan petang sepulang kantor.

Kegiatan merawat tanaman pada pagi dan petang sepulang kantor.

“Pada perangkat itu nutrisi bersifat statis, tidak mengalir. Jadi prinsipnya hanya merendam akar tanaman,” katanya. Ia menanam kangkung pada perangkat itu. Setelah berumur 21 hari, ia panen kangkung perdana. Kangkung hasil panen perdana itu ternyata mendapat sanjungan suami tercinta saat Tieke menyajikannya sebagai salah satu hidangan saat makan bersama keluarga.

Bayu menuturkan, “Asam urat saya biasanya langsung kambuh keesokan harinya setelah mengonsumsi kangkung. Tapi saat saya mengonsumsi kangkung hidroponik penyakit asam urat saya tidak kambuh.” Tieke menduga penyakit suaminya tidak kambuh karena ia memanen kangkung hidroponik sekali panen sehingga kadar purin yang menyebabkan asam urat masih rendah.

Sukses panen perdana sayuran hidroponik, Tieke pun menambah jumlah perangkat hidroponik sederhana dengan membeli kotak stirofoam bekas kemasan buah impor.

Memberi pelatihan
Bayu pun mengabulkan permintaan Tieke untuk mengikuti pelatihan hidroponik. Direktur salah satu bank asing di Jakarta itu juga membuatkan perangkat hidroponik bertingkat dengan sistem DFT di sepanjang sisi kanan selasar. Ia juga tak keberatan saat Tieke meminta untuk menambah perangkat DFT yang ditempatkan di bagian tengah selasar.

Berbagi ilmu hidroponik di atap rumah.

Berbagi ilmu hidroponik di atap rumah.

“Saya biasanya merawat tanaman pada pagi hari sebelum berangkat bekerja dan malam hari sepulang dari kantor,” ujarnya. Pada akhir pekan terkadang Tieke juga memberikan pelatihan hidroponik kepada rekan-rekan yang berteman di media sosial.

Perempuan 52 tahun itu mengatakan, “Mereka tertarik mengikuti pelatihan karena melihat unggahan foto-foto hidroponik di rumah saya. Mereka ingin memanfaatkan luas halaman yang terbatas.” Ia juga pernah diundang memberi pelatihan oleh salah satu pondok pesantren di Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Pada masa mendatang kesibukan Tieke bakal terus bertambah.

“Salah seorang teman ada yang meminta saya membuatkan taman di rumahnya, tapi dikombinasikan dengan hidroponik,” kata ibu berkacamata itu. Meski semakin sibuk, ia tak pernah mengeluh lelah. “Hobi saya sejak dulu memang bercocok tanam. Jadi saya melakukannya dengan senang hati. Saya juga bisa berbagi pengetahuan tentang hidroponik,” tutur Tieke. Bayu berencana membeton sebagian atap rumah yang nantinya menjadi “lahan baru” untuk membudidayakan sayuran hidroponik. (Imam Wiguna)

Tags: , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software