Herba : Tiga Kali Ganti Media

Filed in Majalah, Obat tradisional by on 13/10/2020

Budidaya tanaman herba dengan hidroponik di halaman rumah (foto:Nur Khasanah, S.Pd.)

Beragam herba tumbuh di atas media air tipis, lalu berpindah ke media rockwool, dan terakhir di media tanah.

Nur Khasanah, S.Pd. gemar berkebun menjadi pemilik bisnis tanaman herbal Pome Garden.

Tanaman herba seperti rosmari Rosmarinus officinalis, oregano Origanum vulgare, taragon Artemisia dracunculus, dan daun poko Mentha sp. tumbuh subur di pekarangan rumah Nur Khasanah, S.Pd. Namun, keempat jenis tanaman itu tidak rumbuh di tanah. Khasanah menanamnya di talang air mengadopsi teknologi hidroponik. Terdapat 3 lokasi tumbuh masing-masing terdiri atas 12 pipa berjejer rapi di halaman depan dan 5 pipa di belakang.

Sebuah pipa sepanjang 4 meter dan berdiameter 2 inci menampung 20 tanaman. Artinya pehobi di Desa Jlamprang, Kecamatan Leksono, Kabupaten Wonosobo, Provinsi Jawa Tengah, itu memiliki total 120 lubang tanam. Ia menerapkan hidroponik nutrient film technique (NFT). Menurut Khasanah letak instalasi menyesuaikan area yang kosong di halaman rumahnya yang seluas 30 m2 di bagian depan dan 18 m² di halaman belakang.

Pertumbuhan seragam

Khasanah menggunakan tandon nutrisi berkapasitas 20 liter. Ia mengencerkan nutrisi AB mix—dengan konsentrasi 1.000—1.400 ppm. Lokasi tandon di permukaan tanah. Ia mengalirkan nutrisi dari tandon dengan pompa. Alumnus Pendidikan Biologi Universitas Sebelas Maret (UNS) itu mengalirkan nutrisi setiap hari pada pukul 06.00—18.00.

Menurut Khasanah kelebihan budidaya rempah dengan metode hidroponik pertumbuhannya lebih cepat. “Karena nutrisinya terukur, ukuran tanaman lebih seragam. Ukuran daun juga lebih optimal,” kata perempuan kelahiran 4 Februari 1994 itu. Tanaman juga terhindar dari gangguan hama maupun penyakit karena area pertanaman yang bersih. Letak lahan yang seadanya mengakibatkan terdapat bagian instalasi yang tidak ternaungi, akibatknya ketika hujan turun tanaman rentan busuk.

Khasanah mengatakan, budidaya tanaman rempah secara hidroponik terbilang mudah. Ia rutin memangkas pucuk tanaman sekali dalam sepekan. Tujuannya agar nutrisi tanaman terserap optimal sehingga pertumbuhan tanaman lebih cepat dan subur. Selain itu potongan atau pangkasan juga digunakan untuk perbanyakan tanaman. Ia menanam bibit berupa hasil pangkasan itu di rockwool.

Spearmint menjadi salah satu jenis daun mint yang diminati pembeli.

Setelah bibit berakar, lazimnya dalam waktu 10 hari, ia memindahkan ke pot bermedia tanam organik yakni campuran tanah, sekam mentah, dan kotoran kambing dengan perbandingan 1:1:1. “Karena area budidaya kami belum luas. Jadi, harus disiapkan dahulu,” kata Khasanah. Jadi, Khasanah membudidayakan tanaman dalam tiga fase, hidroponik NFT hingga tanaman dewasa, pembibitan vegetatif di rockwool, dan di pot hingga tanaman sial jual.

Lokasi budidaya tanaman itu berada di ketinggian 850 meter di atas permukaan laut. Menurut Khasanah lokasi terkena sinar matahari pada pukul 07.00—11.00. Ia menaungi tanaman terik matahari siang dan hujan deras. Sebelumnya Khasanah hanya membudidayakan sayuran seperti bayam hijau Amaranthus hybridus, sawi hijau Brassica rapa, dan kale Brassica oleraceae dengan hidroponik sumbu atau wick system. Beragam sayuran itu hanya untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Berubah bisnis

Sejak 2018 Khasanah mengembangkan tanaman herba. Orientasinya bukan lagi hobi, tetapi bisnis meski dari pekarangan. Khasanah yang memulai hidroponik pada 20017 mengatakan, “Semula saya cuma hobi, yang ditanam sayuran saja. Lama-lama penasaran juga belajar hidroponik.” Selain itu ia juga berkeinginan membuat masakan ala Eropa yang bercita rasa rempah yang kuat.

Itulah sebabnya Khasanah menambah variasi tanaman seperti apple mint, mountain mint, menthole mint, dan daun kesum Persicaria odorata. Perempuan 26 tahun itu mengatur pola tanam agar panen berkesinambungan. Penjulaan dilakukan langsung dan secara daring. Harap mafhum Khasanah menerapkan sistem prapesanan atau preorder. Para pelanggan memesan minimal 14 hari sebelumnya.

Rosemari Rosmarinus officinalis menjadi salah satu primadona di kebun hidroponik milik Khasanah.

Patokan 14 hari itu disesuaikann dengan umur tanaman. Pada umumnya rosemari panen di umur 30 hari. Pola serupa juga berlaku bagi jenis tanaman lain seperti oregano dan taragon. Ia memberikan jaminan penggantian tanaman dalam rentang waktu pengiriman selama 3 hari. Hal itu bertujuan untuk menjaga hubungan baik dengan pembeli. Penerapan sistem itu memungkikan semua produksi terserap pasar.

Khasanah berani menjual tanaman kira-kira 1 pekan setelah pemindahan bibit dari media rockwool. Harap mahfum, ia khawatir bila tanaman mengalami stres dan menjadi rusak. “Sampai sekarang paling banyak diminati adalah chocolate mint, common mint, dan apple mint, dan stevia” kata Khasanah. Perempuan kelahiran 4 Februari 1994 itu menetapkan harga tanaman beragam rata-rata Rp15.000—Rp45.000.

Harga tergantung pada jenis, ukuran, dan ketersediaan tanaman. Sekadar contoh harga rosemari, misalnya, Rp25.000—Rp35.000 per tanaman. Berkat bisnis herbal dari halaman rumah, Khasanah kini beromzet Rp5 juta—Rp6 juta per bulan. Peminat sangat beragam tersebar di berbagai kota seperti Palembang, Provinsi Sumatera Selatan, Kota Kendari (Sulawesi Tenggara), serta berbagai kota di Pulau Jawa. (Hanna Tri Puspa Borneo Hutagaol)

Tags: ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software