Hemat Pakan, Produksi Moncer

Filed in Topik by on 01/03/2010 0 Comments

Simak saja pengalaman Fahni Ahmad Fathoni SPt, peternak ayam kampung di Kecamatan Ciamis, Kabupaten Ciamis. Ia meramu sendiri pakan sejak 2 tahun silam. Itu berupa tepung jagung giling sebagai sumber karbohidrat; serta bungkil kedelai, bungkil kelapa, dan tepung ikan sebagai sumber protein. Fahni juga

memberi lemak dengan minyak nabati.

Sumber mineral berupa tepung biji kapas dan tepung kulit kerang. Beragam suplemen pun diberikan sebagai pasokan vitamin dan mineral.

Semua bahan lalu dihancurkan dengan dish mill. Berikutnya adonan dicampur dengan mixer selama 15 menit hingga rata. “Kualitasnya tak kalah dengan pakan pabrik,” kata alumnus Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran, Bandung itu. Hasil uji laboratorium di sebuah universitas negeri di Bandung menunjukkan pakan buatan Fahni berkadar protein 20% dan setara energi 3.000 kkal/kg. Tak berbeda jauh dengan protein pakan pabrik yang kandungannya 21%.

Hasilnya? Tokcer. Pertumbuhan ayam sama persis dengan menggunakan pakan pabrik. Bobot ayam 900 gram bisa dipanen saat berumur 70 hari. “Pada umur 50—60 hari sebetulnya sudah bisa dipanen bobotnya 700—800 g,” ungkap Fahni yang memelihara 500 ayam itu. Toh, sebetulnya bobot 700—800 g sudah dihargai pengepul Rp18.000—Rp20.000/ekor, bobot 900 g Rp23.000/ekor.

Hemat

Menurut Fahni pakan ramuan sendiri menghemat biaya produksi karena lebih murah. Tengok saja hitung-hitungan ini: harga pakan pabrik Rp6.200/kg sementara pakan buatan sendiri Rp4.600/kg. Dengan food conversion ratio (FCR) ayam kampung sebesar 1:2,5 (untuk menghasilkan 1 kg daging membutuhkan 2,5 kg pakan, red) maka dihemat Rp4.000. Untuk menghasilkan 1 kg ayam dengan pakan pabrik butuh Rp15.500. “Menggunakan ramuan sendiri hanya Rp11.500,” ungkap pria yang mengusahakan ayam lokal jenis sentul itu. Pada populasi 500 ekor, penghematan mencapai Rp2-juta. Penghematan serupa dituai oleh Taufiq Ramadhan dan Irfan Saleh, peternak ayam kampung di Ciamis yang menggunakan ramuan pakan buatan Fahni.

Nun, di Kecamatan Cigugur, Kabupaten Sukabumi, ada Hendry Hidayat yagn melakoni cara serupa. Ia meramu pakan berbasis: 5% tepung ikan, 11% tepung jagung, 5% dedak. Hendry menekan biaya produksi dari Rp19.000/ekor menjadi Rp17.000/ekor. Hasil uji laboratorium menunjukkan kandungan protein racikan Hendry sebesar 21%. “Pada umur 70 hari bisa memanen ayam berbobot 900 g,” ungkap Hendry. Setiap ayam kampung ternakan Hendry dihargai Rp25.000/kg.

Sejatinya bahan yang dipilih Fahni dan Hendry bukan asal pilih, tapi berkualitas tinggi. Tepung ikan mengandung protein 62,9%, bahkan bungkil kedelai mencapai 79,43%. Tak heran kadar protein buatan keduanya tak kalah dengan pakan pabrik.

Menurut Dr Ir Hanny Indrat Wahyuni MSc, ahli nutrisi unggas dari Fakultas Peternakan, Universitas Diponegoro, Semarang meramu pakan sendiri memang solusi kala harga pakan yang kian meroket. Yang penting kebutuhan protein terpenuhi. “Kebutuhan protein ayam kampung 15—19%,” ungkap Hanny. Protein berperan dalam proses pembentukan dan pertumbuhan jaringan tubuh seperti kulit, daging, otot. Protein juga membantu proses pembentukan enzim. Kekurangan protein dapat menurunkan pertumbuhan ayam.

Sebaliknya menurut Ir Tri Rahardjo Sutard SU ahli nutrisi unggas dari Fakultas Peternakan, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, pemberian protein yang berlebihan dari kebutuhan ayam mubazir. “Ayam kampung secara genetik tak mampu mengubah kelebihan protein menjadi daging,” ungkap Tri. Ketika racikan peternak sudah mencukupi kebutuhan protein, perkaya dengan sumber gizi mikro seperti vitamin dan asam amino.

“Meski dibutuhkan sedikit, keberadaan vitamin dan asam amino mutlak,” ungkap Ir Eko Widodo MAgrSC MSc PhD pengajar di Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya, Malang. Bila jumlahnya kurang, proses fisiologis di tubuh ayam bisa terganggu. Misalnya daya tahan tubuh ayam melemah sehingga rentan serangan penyakit.

Limbah

Cara lain ditempuh Aswan Siregar di Kecamatan Purwakarta, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, yang memanfaatkan sisa limbah restoran. Mafhum saja Purwakarta sebagai lintasan jalur utara nasional ramai dijejali restoran. Sisa limbah restoran berupa nasi, serta sisa lauk berupa tulang dijemur di bawah sinar matahari selama 2 hari. Atau gunakan oven hingga kadar airnya 10%.

Limbah itu dicampur bungkil kelapa, dan ikan rucah dengan perbandingan 4:3:1, lalu diberi 3—4 liter air. Berikutnya semua bahan direbus hingga mendidih dan ditambah 5 kg dedak. Adonan didinginkan sebelum diberikan pada ayam. Sebagai tambahan Iwan memberikan 1—2 lembar daun pepaya yang dicacah, gunanya untuk meningkatkan daya tahan tubuh ayam. Dengan campuran itu bobot ayam 600—900 g diperoleh pada umur 2,5—3 bulan. “Pemanfaatan sisa limbah restoran sebagai wujud kemandirian pakan,” ungkap Iwan.

Sukses Iwan itu tak mengagetkan. Riset Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian RI, menunjukkan limbah restoran mengandung 10,89% protein, 0,08% fosfor, 0,39% serat kasar, serta 9,13% lemak. Total energi mencapai 1.780 kkal/kg. Kadar protein didongkrak dengan penambahan bungkil kedelai (79,43%). Tertarik meramu pakan sendiri? (Faiz Yajri)

  1. Ramuan pakan terbuat dari campuran bungkil kedelai, tepung biji kapas, tepung jagung, suplemen, dedak, tepung ikan, bungkil kelapa, dan tepung kulit kerang. Kadar protein 20%
  2. Taufik Ramadhan dan Irfan Saleh mampu hemat Rp4.000/kg bobot ayam dari biaya pakan
  3. Aswan Siregar manfaatkan sisa limbah restoran untuk kemandirian pakan
  4. Ayam kampung dipanen 70 hari dengan bobot 900 g menggunakan ramuan pakan sendiri

Foto-foto: Faiz Yajri

Umur ayam (minggu)

Kandungan Nutrisi

Konsumsi ransum

(g/ekor/hari)

Protein (%)

Energi (kkal/kg)

0—8 minggu

18—19

2.900—3.000

5—10

8—12 minggu

16—17

2.900—3.000

20—30

12—18 minggu

12—14

2.800—2.900

49—60

>18 minggu

15—16

2.750—2.850

80—100

Sumber: Dr Desmayati Zainudin, Balai Penelitian Ternak, Ciawi, Bogor

 

Powered by WishList Member - Membership Software