Hawar Daun Agar Xoo Tak Berulah

Filed in Inspirasi, Majalah by on 23/04/2020

Titik kritis serangan hawar daun adalah pada fase primordia dan bunting.

Pencegahan hawar daun antara lain dengan menggunakan varietas tahan seperti inpari 32 dan perlakuan budidaya yang tepat.

Warna daun padi berubah menjadi hijau keabu-abuan. Perubahan itu rmulai dari tepi daun. Lama-lama daun mengering seperti terbakar. Itu indikasi serangan bakteri Xanthomonas oryzae pv. oryzae (Xoo). Serangan bakteri anggota famili Xanthomonadaceae itu pada stadia vegetatif disebut kresek, sedangkan pada stadia generatif dinamakan hawar. Titik kritisnya saat masa primordia dan bunting.

Pengairan berselang dapat mengurangi tingkat kelembapan.

Peneliti di Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BBPadi) Subang, Celvia Roza, S.P., pernah menemukan serangan hawar daun dengan tingkat keparahan 75—85%. Bakteri penyebab serangan menyukai kondisi lembap. Pada musim hujan tingkat serangannya tinggi. Perlakuan budidaya dapat menurunkan potensi serangan hawar daun bakteri (HDB) pada semua varietas.

Varietas tahan

Celvia mengatakan, perlakuan budidaya meliputi penggunaan varietas tahan serangan, aplikasi pupuk berimbang, pengairan berselang, dan pengaturan jarak tanam. Menurut alumnus Jurusan Hama dan Penyakit Tanaman, Universitas Andalas itu sampai kini varietas yang masih tahan serangan hawar daun adalah inpari 32. Varietas unggul itu dirilis Kementerian Pertanian pada 2013.

Inpari 32 tahan seranga hawar daun bakteri patotipe III dan tahan blas ras 033. Inpari 32 cocok ditanam di dataran rendah dengan maksimal ketinggian 600 meter di atas permukaan laut (dpl). Padi asal persilangan ciherang dan IRBB 64 itu memiliki potensi hasil hingga 8,42 ton per ha. Celvia menelusuri beberapa varietas padi lokal yang tahan hawar daun patotipe III seperti ketan lomak, ketan bayong, dan waren.

Sifat tahan itu dikontrol oleh satu gen saja dan cenderung tidak stabil. Musababnya ada ras patogen yang dapat mengatasi gen tahan pada varietas itu. Nantinya ras patogenlah yang berkembang menjadi ras dominan. Maka pergiliran varietas tetap diperlukan sehingga ras patogen tidak mendominasi. Selain varietas, petani juga harus memperhatikan aplikasi pupuk nitrogen.

Pemupukan berlebihan tanpa diimbangi unsur lain dapat menyebabkan perkembangan klorofil tidak seimbang sehingga mudah terserang Xoo. Metode pengairan menggenang atau tidak berselang dapat meningkatkan kelembapan dan mempermudah penularan penyakit. Selain itu, kata Celvia, jarak tanam rapat akan meningkatkan kelembapan sehingga bakteri mudah berkembang termasuk Xoo.

Pengaturan jarak tanam yang lebih longgar seperti jajar legowo dapat mengurangi potensi serangan. Terlebih pada musim hujan potensi serangan hawar daun cenderung tinggi lantaran kelembapan meningkat. Saskia Anisa Firda dari Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Jember membandingkan padi dengan tiga sistem tanam terhadap intensitas serangan hawar daun.

Sebesar 85% tanaman padi terserang hawar daun bakteri.

Ketiga sistem itu adalah konvensional, system of rice intensification (SRI), dan intensifikasi padi aerob terkendali berbasis organik (IPAT-BO). Jarak tanam ketiganya 30 cm x 30 cm dengan satu bibit per lubang tanam. Perbedaannya terletak pada pengairan. Pengairan sistem konvensional dilakukan setiap hari dengan mempertahankan tinggi genangan sekitar 5—7 cm di atas permukaan tanah. Periset menggunakan benih padi varietas savaranos.

<script async src=”https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js”></script>
<ins class=”adsbygoogle”
style=”display:block; text-align:center;”
data-ad-layout=”in-article”
data-ad-format=”fluid”
data-ad-client=”ca-pub-4696513935049319″
data-ad-slot=”8129520315″></ins>
<script>
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
</script>

Tiga metode

Metode pengairan SRI berselang yakni macak-macak 1—8 hari setelah tanam (hst), penggenangan untuk penyiangan pada 9—10 hst, pengeringan 11—18 hst, penggenangan untuk penyiangan kedua pada 19—20 hst, macak-macak 21—80 hst, dan pengeringan hingga panen tiba. Sistem IPAT-BO dengan penggenangan macak-macak dengan tinggi air 0 cm. Bila muka air tanah turun 5 cm di bawah permukaan tanah, barulah dilakukan pengairan hingga tinggi air kembali 0 cm.

Dari tiga sistem tanam itu, IPAT-BO dapat menekan intensitas serangan dengan hasil produksi tetap tinggi. Tingkat keparahan penyakit pada IPAT-BO hanya 13,76%, sedangkan SRI 24,19% dan sistem konvensional 31,76%. Produksi padi IPAT-BO mencapai 21,17 ton sementara SRI 16,46 ton dan pertanaman konvensional hanya 9,16 ton—semua per ha.

Pengaturan jarak tanam yang lebih longgar.

Penggunaan alat tanam yang sudah terinfeksi patogen juga dapat memunculkan potensi serangan hawar daun. Tak hanya itu, angin kencang turut berpotensi menularkan penyakit. Musababnya gesekan antardaun menimbulkan luka sehingga dapat menyebarkan patogen dari daun yang terinfeksi. Bila bakteri itu menyerang, Celvia menganjurkan penggunaan agen hayati.

“Pengendalian hayati dengan bakteri antagonis seperti Corynebacterium sp. cukup berpengaruh mengurangi serangan,” kata peneliti hawar daun padi itu. Rizka Zahara dan rekan-rekan dari Program Studi Agroteknologi, Universitas Syiah Kuala, membuktikan konsentrasi Corynebacterium sp. sebanyak 7 cc per liter mampu menekan pertumbuhan bakteri hawar daun.

Inokulasi Xoo—masuknya bakteri pada tanaman melalui luka— dimulai sekitar 35 hari setelah tanam. Menurut pengamatan Rizka, aplikasi pada 28 hst atau sepekan sebelum inokulasi efektif untuk mencegah serangan hawar daun. Petani dapat menerapkan cara terpadu—varietas unggul yang tahan, pupuk hayati, dan agen hayati—untuk mencegah serangan Xoo. (Sinta Herian Pawestri)

Tags: , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software