Hasrat Lembap Selama Hayat

Filed in Sayuran by on 31/07/2011

Ito Sumitro, pekebun di Kecamatan Widasari, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, membudidayakan jamur tiram sejak awal 2011. Dari sebuah kumbung berukuran 4 m x 6 m x 3,2 m itu  volume  panen rata-rata  10 kg tiram per hari. Populasi  mencapai  2.000  baglog  per kumbung dari total kapasitas 4.000 baglog. Ito membangun kumbung berkonstruksi bambu. Lokasi kumbung di bawah naungan pohon mangga sehingga suhu di dalamnya tidak terlalu panas.

Selain itu untuk menjaga suhu, Ito menggunakan daun rumbia Metroxylon sagu sebagai atap kumbung.  Di bawah daun rumbia, ia menghamparkan plastik agar saat hujan, air tidak merembes ke bawah kumbung. Dinding kumbung menggunakan belahan bambu yang tersusun tidak rapat, sehingga sirkulasi udara lancar.  Ayah empat anak itu juga menambahkan jendela udara setinggi  50 cm di bawah atap. Tujuannya untuk memastikan sirkulasi lancar.

Jerami padi

Ito menerapkan strategi lain untuk menjaga kelembapan, yakni menambahkan jerami berketebalan 5 cm di dinding.  Dua kali sehari, pada pukul 06.00 dan 18.00, pekebun itu menyiram dinding dengan air bersih. Menurut pria kelahiran 4 Mei 1956 itu, jerami menyerap air sehingga kelembapan kumbung terjaga. Ia pun menyiram lantai kumbung. “Saat ini saya mencoba menambah ketebalan dinding jerami menjadi 10 cm, supaya penyiraman cukup sekali sehari,” kata Ito.

Inovasi itu membuahkan hasil sehingga Ito sukses menuai tiram, meski ia membudidayakannya di dataran rendah. Padahal, selama ini banyak anggapan tiram Pleurotus ostreatus  merupakan  jamur dataran tinggi. “Tiramnya segar dan tidak gampang layu,” tutur Ito. Tidak heran hasil produksi Ito itu menjadi incaran pengepul yang membeli Rp9.000 – Rp10.000 per kg. “Permintaan mencapai 100 kg per hari,” kata Ito.

Bandingkan dengan Johar Arifin yang berkebun tiram sejak awal 2011. Kondisi lingkungan kumbung Johar di Kertasemaya, Indramayu tidak berbeda jauh dengan kumbung Ito. “Saya membuat kumbung di depan rumah berkapasitas 1.000 baglog, tetapi saat ini terisi 150 baglog,” kata Johar. Bedanya kumbung Johar beratap genting dan berdinding anyaman bambu terdiri dari dua rak bersusun 3 tingkat. Johar juga disiplin menyiram lantai kumbung sehari sekali.

Sayangnya, 2 bulan setelah pe-meliharaan, tiram-tiram di kumbung Johar terlihat kisut dan lembek. Menurut Nandang Nurdin SP, dari Dinas Pertanian dan Peternakan, Kabupaten Indramayu, kondisi tiram seperti itu karena kelembapan kumbung kurang. “Johar seharusnya lebih sering menyiram atau mengabut kumbung sekitar 3 – 4 kali sehari,” tutur Nandang.

Ahli jamur dari Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati, Institut Teknologi Bandung, Dr I Nyoman Pugeg  Aryantha, menyatakan jamur memerlukan kelembapan tinggi, yakni berkisar 80 – 90%. Bila kurang lembap, tubuh buah rentan kering dan kerdil. “Miselium pun sulit tumbuh dan berkembang,” tutur Nyoaman. Oleh karena itu, pekebun di dataran rendah seperti Johan dan Ito harus meningkatkan frekuensi penyiraman agar kelembapan terjaga.

Menurut Nyoman, kebanyakan pekebun membudidayakan tiram masih semioutdoor alias tiga per empat kumbung terbuka. Dampaknya fluktuasi kelembapan pun tinggi. “Saat musim hujan produksi bagus, sebaliknya pada musim kemarau produksi melorot,” kata Nyoman. Dengan  kelembapan terjaga, suhu pun akan ajek di kisaran ideal tumbuh jamur sekitar 22 – 280C.

Kolam

Penyiraman dinding atau lantai kumbung, bukan satu-satunya cara menjaga kelembapan. Ratnasari Apriliani, pekebun tiram di Kecamatan Kedawung, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, membuat kumbung berukuran 5 m x 6 m x 2 m di bawah naungan 2 pohon mangga. Untuk menyiasati suhu harian 320C, Apriliani menggenangi lantai kumbung dengan air setinggi

2 – 3 cm. “Meski air tergenang, pengabutan tetap dilakukan 2 kali sehari supaya kumbung tetap lembap,” kata April.

Menurut Nyoman menggenangi lantai kumbung sah saja untuk menjaga kelembapan. Pekebun tiram di dataran rendah dapat mengadopsi cara itu karena tidak repot. April cukup mengucurkan air dari keran untuk memastikan ketinggian air tetap 2 – 3 cm. Dengan cara itu dari 1.200 baglog, April rutin memanen 2 kg tiram setiap hari.

Sejatinya banyak cara lain untuk mengatur kelembapan. Jika kumbung beratap asbes dan plastik, pasanglah springkler di atas atap seperti yang dilakukan Triyono Untung  Piryadi, praktikus  tiram  di Kabupaten  Cianjur, Jawa Barat. Saat siang hari atau suhu panas, springkler aktif menyemprotkan air  sehingga menurunkan suhu di kumbung.

Cara lain, menurut Ir NS Adiyuwono, pakar budidaya jamur di Bandung, Jawa Barat, menggunakan terpal berwarna kuning di dinding kumbung. “Warna kuning  merupakan pemantul panas,” kata Adiyuwono. Meski begitu, pekebun tetap harus menyiram terpal 2 – 3 kali sehari untuk menjaga kelembapan. Selain terpal, pekebun menyampirkan karung goni di dinding kumbung dan semprokan air. Namun, risikonya karung cepat bercendawan. (Faiz Yajri)

 

 

Powered by WishList Member - Membership Software