Hasilkan Sopsi Bermutu Tinggi

Filed in Laporan khusus by on 02/05/2013 0 Comments

Budidaya intensif hasilkan kayu afrika berkualitas.

Enam puluh pohon afrika Maesopsis eminii itu tumbuh subur dan tersebar di lahan Dedy Haryanto. Tunas air tumbuh di batang dan cabang pohon setinggi 2 meter itu. Pekebun di Desa Ciapus, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, itu tak membiarkan tunas air tumbuh. Begitu tunas air muncul, Dedy segera merompesnya. “Saya memangkas tunas air karena ingin mendapatkan batang kayu afrika yang lurus,” kata Dedy.

Menurut I Ketut N Pandit dari Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB), tunas air sebetulnya jarang tumbuh pada kayu afrika. Tunas air muncul karena kondisi lingkungan kurang mendukung. Banyak faktor yang menyebabkan tunas air muncul seperti topografi tanah, kemiringan, dan ketinggian tempat. Dampaknya jika kayu afrika hidup di ketinggian di bawah atau atas normal, memicu muncul tunas air. Dalam Plant Resources of Southeast Asia kayu afrika adaptif di lokasi berketinggian 600—900 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Bibit bermutu

Kebun Dedy di ketinggian sekitar 650 meter di atas permukaan laut. Sejatinya itu ketinggian yang sesuai dengan syarat tumbuh tanaman yang dideskripsikan secara ilmiah oleh Adolf Engler itu. Ketinggian sesuai syarat, tetapi tunas air tetap muncul. Artinya ketinggian tempat bukan faktor pembatas. “Bisa saja kesuburan tanah atau lainnya”, kata Pandit.

Hasil penelitian Surnayanti, dosen Jurusan Kehutanan Universitas Lampung, menyebutkan pertumbuhan kayu afrika lebih cepat ketimbang jabon Anthocephalus cadamba pada ketinggian 800—1.100 meter di atas permukaan laut. Menurut Surnayanti budidaya tanaman anggota famili Rhamnaceae itu relatif mudah. Sebab, jika buah tanaman asli Afrika itu jatuh ke tanah, selang beberapa bulan berkecambah dan muncul tanaman baru.

Jika hendak membudidayakan kayu sopsi alias kayu afrika, pilihlah bibit yang baik. “Pemilihan bibit penting dilakukan,” kata Pandit, kelahiran Singaraja, Provinsi Bali, 9 April 1945. Oleh karena itu, pekebun mesti memilih bibit yang baik dan berkualitas. Menurut Dadan Mulyana SHut MSi dari Departemen Silvikultur Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor dalam 7 Jenis Kayu Penghasil Rupiah, bibit siap tanam idealnya setinggi minimum 30 cm. Selain itu arah batang tegak lurus ke atas, warna daun hijau cerah, dan jumlah minimal empat helai. Yang paling penting tanaman terlihat segar dan bebas hama dan penyakit.

Pandit menyarankan jarak tanam rapat, sekitar  2 m x 3 m sehingga total populasi  2.000 tanaman per ha. “Itu membentuk batang silindris dan mengurangi percabangan,” ucap Lektor Kepala Anatomi dan Identifikasi Kayu itu.  Ketika tajuk tanaman mulai rapat pada umur 2,5 tahun,  Surnayanti menyarankan pekebun melakukan penjarangan.  Berapa pohon yang harus ditebang? Sunaryanti mengatakan tanaman dengan  pertumbuhan terhambat harus ditebang.

Mata tunas

Pada umur 2,5 tahun, idealnya tinggi kayu afrika mencapai 6—8 meter. Artinya pohon yang tingginya kurang dari itu ditebang sehingga jumlah tanaman yang mengalami penjarangan tidak dapat dipastikan. Jarak tanam rapat mesti diikuti dengan kesuburan tanah yang memadai. Hasil riset Surnayanti juga menunjukkan pengaruh pemupukan terhadap tinggi dan diameter manii 20 pekan setelah tanam. Penggunaan 125 g NPK dan 200 g kulit kopi meningkatkan tinggi kayu afrika sebesar 28,51%, tanpa pemupukan: 0%.

Komposisi pupuk serupa juga menambah diameter hingga 0,7 cm pada pohon. Perempuan kelahiran Lampung Barat itu menjelaskan kombinasi unsur organik dan anorganik sangat baik untuk memacu pertumbuhan tanaman. Tanaman mengurai unsur anorganik lebih cepat ketimbang unsur organik. Sementara unsur organik yang terurai mengundang mikrob penyusun unsur hara.

Pandit menyarankan agar pekebun memangkas cabang pertama yang muncul. Sebab, jika terlambat memangkas, maka mata kayu terbentuk. Itu sangat dihindari pabrik pengolah kayu. Mata kayu membuat pengolahan kayu menjadi sulit karena keras dan alur seratnya berbeda. Pandit menuturkan cara memangkas cabang mesti benar. Jika asal memangkas mata kayu pun bisa terbentuk. Pangkaslah cabang menggunakan gergaji, bukan golok atau sejenisnya.

“Alat pemotong yang kurang tepat bakal meninggalkan bekas potongan pada batang. Itu berpotensi menghasilkan mata kayu,” tutur Pandit. Cara pangkas pun harus betul. Gergajilah cabang dari bawah, bukan dari atas. Itu untuk menghindari cabang pecah. Menurut Pandit waktu panen kayu afrika disesuaikan dengan tujuan penanaman. Pemanenan kayu manii berumur 5 tahun cocok untuk pembuatan palet. Sementara tanaman berumur 6—7 tahun sesuai untuk keperluan kayu perkakas. Pada umur 5 tahun, diameter batang mencapai 35 cm. Jika populasi 1.000 tanaman, maka pekebun mengangkut 1.443 m3 kayu per ha. (Riefza Vebriansyah/Peliput: Imam Wiguna)

 

FOTO:

  1. Kayu afrika diminati karena dapat menahan beban hingga  500— 1.000 kg
  2. Tunas air pada kayu afrika mesti dipangkas dengan cara benar
  3. Surnayanti, “Kayu afrika mudah dibudidayakan.”
  4. Di Lampung kayu afrika menjadi pohon penaung beragam komoditas
 

Powered by WishList Member - Membership Software