Hasilkan Jati Bermutu

Filed in Fokus by on 01/09/2009 0 Comments

 

Kayu jati Tectona grandis dengan berat jenis 0,62-0,75 sohor sebagai kayu mewah. Maklum, keteguhan lentur statis kayu jati mencapai 718 kg/cm2 dan tegangan batas patah 1.031 kg/cm2. Berarti per cm2 kayu jati baru patah ketika diberi beban 1.031 kg. Bandingkan dengan keteguhan lentur statis sengon yang hanya 445 kg/cm2 dan tegangan batas patah 526 kg/cm2.

Menurut Prof Dr Ir Zahrial Coto MSc, guru besar emiritus Departemen Hasil Hutan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor, jati terkenal karena nilai artistik. Bila dipotong melintang, tampak teras kayu berwarna cokelat dengan lingkaran tahun yang artistik. ‘Jika lingkaran batang 60 cm, jati yang bagus memiliki gubal berwarna putih kekuningan tak lebih dari 10% saja. Sisanya kayu teras berwarna cokelat,’ kata Zahrial.

Pakai dolomit

Lingkaran tahun terjadi karena perkembangan kambium ke arah vertikal dan horizontal. Pertumbuhan kambium menyempit ketika musim kemarau lantaran jati menggugurkan daun. Sebaliknya saat musim hujan, kambium tumbuh normal. Itu membuat pertumbuhan berbeda, yang disebut lingkaran tahun nan artistik.

Menurut Dr Ir Iskandar Zulkarnain MSc dari Departemen Silvikultur Fakultas Kehutanan IPB untuk menghasilkan jati yang berkualitas harus memadukan sifat genetis bibit unggul, kondisi lingkungan mendukung, dan perawatan intensif. Benih terseleksi menghasilkan peningkatan volume kayu 12% dibanding yang tak terseleksi.

Pada dasarnya jati dapat tumbuh di setiap jenis tanah, tetapi lebih baik di tanah lempung, lempung berpasir, atau lahan liat berpasir ber-pH 6. Bila tanah asam dan kekurangan kalsium, pekebun bisa menambahkan dolomit. Menurut Ir Yos Sutiyoso, pakar pupuk di Jakarta, dolomit mengandung 30-40% kalsium oksalat.

Dolomit juga mengandung 13-18% magnesium oksalat, inti klorofil, dalam proses fotosintesis melancarkan pasokan nutrisi. Dengan penambahan dolomit, pH tanah yang semula asam mendekati netral. Namun, tentu saja perlu mempertimbangkan aspek ekonomis. Sebab, 1 hektar membutuhkan 1,25-6 ton dolomit untuk menaikkan 1 nilai pH.

Berbatu:bengkok

Menurut Sugi Purwanta SHut, peneliti dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Perhutani Cepu, Jawa Tengah, jati sensitif terhadap rendahnya nilai pertukaran oksigen dalam tanah. Oleh karena itu lahan jati mesti berporositas dan berdrainase baik. Di tanah berbatu-batu dan berdrainase jelek, jati tumbuh bengkok dan bercabang rendah. Drs Yana Suyana MSi dari Pusat Penelitian Hutan dan Konservasi Alam, Bogor, mengatakan pekebun harus memperhatikan kadar kalsium dalam tanah. Menurut Mahfudz MP dari Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan, Yogyakarta kalsium mendukung pertumbuhan meristem batang dan pembentukan dinding sel famili Verbenaceae itu. Jati yang ditanam di lahan berkalsium rendah, 8,18-9,27%, menyebabkan pertumbuhan terhambat.

Unsur hara lain yang penting adalah fosfor. Kandungan optimum fosfor dalam tanah 0,022-0,108% atau 19-135 mg per 100 g tanah. Defisiensi fosfor menyebabkan daun jati cepat gugur sehingga proses fotosintesis terganggu dan pertumbuhan terhambat.

Cemplong

Olah tanah dengan mencangkul atau membajak. Namun, bila terlampau luas, gunakan sistem ‘cemplongan’ alias hanya mengolah tanah 1 m2 di titik tanam. Gali lubang tanam berukuran 40 cm x 40 cm x 40 cm dan isi dengan 1-2 kg pupuk kandang. Dua pekan berselang, tanam bibit setinggi 20-50 cm, daun hijau segar, cerah, dan utuh. Batang lurus serta akar siap dipindah ke lapangan untuk mencari unsur hara.

Pada awal pertumbuhan, jati memerlukan kelembapan tinggi. Oleh karena itu lebih baik ditanam pada awal musim hujan. Cegah air menggenangi tanah di sekitar bibit. Jika penanaman pada musim kemarau, buat cekungan sekitar 1 m dari batang agar air terkumpul di sekitar akar.

Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Hutan Cepu meriset jarak tanam rapat 3 m x 1 m atau 3 m x 3 m berpengaruh positif terhadap batang meninggi. Dengan tanam rapat, jati berkompetisi mendapatkan cahaya matahari. Sementara jarak tanam lebih lebar 6 m x 3 m, merespons positif terhadap pertumbuhan diameter batang. Jalan keluar terbaik, tanam rapat dan jarangkan pada umur 7-10 tahun agar pertumbuhan diameter batang optimal.

Riset lembaga itu menganjurkan pemupukan awal berupa 10 kg pupuk kandang dan 10 g TSP per lubang tanam. Sebaiknya pemupukan pada awal musim hujan supaya ketersediaan air memadai. Air membantu penyerapan pupuk lebih optimal. Setelah 2-3 bulan pascatanam, beri 50-100 g Urea per pohon untuk membantu terbentuknya daun sehat.

Jarangkan

Ketika jati berumur 3 bulan, beri 50 g; 6 bulan, 100 g NPK per tanaman. Caranya buat lubang sedalam 5-10 cm di sekeliling bibit, sebar rata kemudian tutup sambil menyiramkan air. Setelah itu lakukan perawatan rutin seperti pembersihan gulma 4 bulan sekali dan penyulaman. Saat jati berumur 4-6 bulan, lakukan pemangkasan untuk mendapatkan batang tunggal tanpa cabang.

Untuk mencegah serangan hama dan penyakit, olesi bekas potongan dengan cat atau ter. Setelah jati berumur 7-10 tahun, lakukan penjarangan untuk mendapatkan diameter yang optimal. Setelah itu tinggal menunggu waktu panen tiba. Menurut Yana tekton-sebutan jati dalam bahasa Portugis-tumbuh optimal di kondisi lahan dataran rendah atau lereng maksimal 20o di ketinggian 0-700 m di atas permukaan laut.

Curah hujan yang dikehendaki 750-1.500 mm/tahun, suhu 34-420C, kelembapan 70%, dan intensitas cahaya 75-100%. Kondisi lingkungan yang optimal itu menghasilkan kualitas kayu berkambium tebal, kulit kayu 0,4-1,8 cm, dan serat halus berwarna cokelat terang dengan bagian teras berwarna cokelat tua. (Faiz Yajri)

Foto-foto: Dok. Trubus

^ Kayu teras jati munculkan citra artistik

> Pendangiran dan pemupukan mampu hasilkan jati berkualitas

^ Diameter optimal ketika jati berumur 7-10 tahun

 

Powered by WishList Member - Membership Software