Harum Lili dari Negeri Sendiri

Filed in Tanaman hias by on 31/07/2011

Deloren berwarna jingga pekat, dapat dibudidayakan mulai ketinggian 300—1.200 m dplVarietas candilongi berbunga pada umur 3—4 bulan setelah tanam dan dapat diperbanyak dari bijiItulah lili candilongi, varietas baru temuan Dr Lia Sanjaya dan tim peneliti Balai Penelitian Tanaman Hias (Balithi). Keberhasilan Balithi mengembangkan lili baru varietas lokal itu tentu saja menjadi kabar baik bagi pekebun. Maklum, selama ini hampir 100% lili yang dipasarkan di Indonesia, bibitnya masih harus diimpor. “Kendalanya bibit impor sering telat datang dan jumlahnya terbatas. Sayang di dalam negeri belum ada perusahaan yang mengembangkan bibit lili,” ujar Turi, staf bagian produksi PT Ekakarya Graha Flora yang mengebunkan lili di Sukabumi, Jawa Barat.

Candilongi hasil persilangan Lilium longiflorum – biasa disebut lili krek atau lili lokal – dengan lili asiatik yang bunganya menyerupai mangkuk. Keunggulannya, jika lili krek berbunga mendatar, bunga candilongi tegak atau menghadap ke atas. Dengan begitu bagian dalam bunga tetap terlihat saat disusun dalam rangkaian, sehingga diminati konsumen.

Busuk umbi

L. longiflorum sudah dibudidayakan di tanahair sejak zaman penjajahan Belanda di dataran tinggi, seperti di Sukabumi dan Bandung (Jawa Barat), serta Kabupaten Semarang (Jawa Tengah). Dari sanalah longiflorum mendapat julukan lili lokal. Panggilan lainnya lili krek – dari bahasa Belanda yang berarti gereja.

Sayang, belakangan lili krek mulai jarang dibudidayakan karena rentan terserang penyakit busuk umbi. Akibatnya, pekebun lebih memilih menanam lili impor. Apalagi bunga lili impor berukuran lebih besar dan bervariasi bentuk maupun warnanya. Mereka terus menanam karena, pasar lili kian meningkat. Di pasar bunga Rawabelong, Jakarta Barat, misalnya pada  5 tahun silam hanya ada 4 orang berdagang lili kini menjadi 10 orang.

Karena itulah Lia dan tim peneliti lili Balithi gencar melakukan penelitian bunga asli Jepang itu. Untuk mendapatkan varietas baru, mereka menyilangkan lili lokal dengan lili hibrida. ”Hasilnya, sejak 2007 kami telah melepas 13 varietas lili baru,” tutur Lia. Lili itu lebih tahan busuk umbi dan sosoknya menarik.

Keistimewaan lain candilongi dapat diperbanyak dari biji. Perbanyakan dari biji   lebih cepat tersedia, mudah, dan murah, dalam jumlah besar. Benih lili dari biji juga selalu baru sehingga terbebas dari patogen persisten seperti cendawan fusarium dan botrytis penyebab busuk umbi. Harganya murah dan murah dan mudah didistribusikan. Ketidakseragaman penampilan anak diminimalisir dengan penggunaan induk jantan dan betina hasil klon.

Varietas baru lain yang dapat diperbanyak dengan biji adalah arumsari dan formolongi – keduanya berbunga putih.Keunggulan arumsari berbunga wangi dan sosok bunga menyerupai bintang jika dilihat dari depan. Sementara formolongi berukuran relatif  besar diameter bunga berkisar   11,5 – 13 cm.

Varietas yang dikembangkan Balithi tak melulu berbunga putih. Delina dan delini, misalnya, memiliki bunga kuning bersemburat putih dan totol-totol jingga pada pangkal tepal (mahkota dan kelopak yang tidak dapat dibedakan). Delina kuning kehijauan sementara delini kuning cerah. Keduanya juga hasil persilangan longiflorum dan asiatik. Diameter bunga delina, mencapai 16 cm, delini 11 – 14 cm.

Bunga mekar terbesar dimiliki delino dengan diameter 16 – 18 cm, menyamai lili impor yang diameternya rata-rata 17 cm. Ada pula varietas berwarna jingga yaitu deloren dan renata. Renata berwarna jingga kekuningan, deloren jingga pekat.

Outdoor

Semua varietas lili baru itu tumbuh baik di dataran dengan ketinggian 300 – 1.200 m dpl. Delina, delino, delini, deloren, dan renata dibudidayakan di rumah plastik  ultraviolet  dan  diberi  net  20 – 30%. Formolongi, candilongi, dan arumsari, dapat dibudidayakan di dalam ruang tanam maupun lahan terbuka.

Pada lahan terbuka, lili cukup dinaungi net peneduh 30 – 45% untuk mengurangi intensitas sinar matahari terutama saat kemarau. Drainase dan aerasi tanah harus baik terutama selama musim hujan. Pada kondisi pertumbuhan optimum, semua varietas baru temuan Balithi itu mulai berbunga setelah 70 – 90 hari. Tangkai bunga dapat dipotong pada umur 80 – 110 hari.

Jumlah bunga yang dihasilkan berkisar antara 3 – 8 kuntum/tangkai, tergantung ukuran umbi dan varietas lili. Varietas arumsari dan delini, menghasilkan 3 – 6 kuntum/tangkai. Sementara varietas formolongi mencapai 8 kuntum/tangkai. “Seluruh varietas itu sudah adaptif di Indonesia, dan teknologi perbanyakan sudah ada. Hanya perlu kemauan perusahaan swasta dan pemerintah untuk mengembangkan lili di tanahair,” tutur Lia. (Tri Susanti/Peliput: Silvia Hermawati)

 

Powered by WishList Member - Membership Software