Harta Terpendam Kita

Filed in dari redaksi, Rubrik Tetap by on 01/01/2019

Masyarakat Jawa mengenal sego, orang Sunda menyebut sangu. Kedua kata itu—bermakna nasi—berdekatan maknanya dengan sagu. Sebelum mengenal nasi, masyarakat Nusantara lebih dahulu mengenal sagu. Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian mencatat, luas lahan sagu pada 2017 mencapai 220 000 hektare. Produktivitas setiap hektare 20—40 ton tepung. Setiap pohon sagu menghasilkan 200—400 kg tepung. Jika dipanen, kita tidak perlu mengimpor beras.

Peserta pelatihan olahan sagu dan aneka umbi dari Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau.

Sebab, sejuta hektare hutan sagu bisa memenuhi kebutuhan pangan seluruh rakyat Indonesia. Tepung sagu juga menjadi bahan baku nasi analog, mi, bahkan gula cair. Sekilogram tepung sagu menghasilkan 1 kg gula cair. Devisa negara yang mengalir ke mancanegara karena kita mengimpor gula atau beras itu bisa dialokasikan ke sektor lain seperti pembangunan infrastruktur.

Apalagi sagu tersedia gratis. Kita tinggal memanen tanpa berkeringat membuka dan membersihkan lahan, menanam, memupuk, atau memberantas hama. Pokok sagu Metroxylon sp “melahirkan” banyak tunas sebelum akhir hayat. Daerah di Nusantara yang memiliki sagu terbanyak adalah Provinsi Riau, yakni 63.000 hektare. Itulah sebabnya Majalah Trubus bekerja sama dengan Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau, menyelenggarakan pelatihan olahan sagu.

Sebanyak 18 peserta dari kabupaten berjuluk Negeri Junjungan itu belajar membuat beras dan mi berbahan tepung sagu. Selama ini mereka hanya menjual tepung sagu atau olahan penganan seperti kue gobak atau bangkit. Oleh karena itu, para peserta girang bukan kepalang mengikuti pelatihan olahan tepung sagu itu. Dalam pelatihan itu mereka membuat nasi analog dan mi berbahan tepung sagu.

Cita rasa kedua makanan pokok itu lezat, tidak kalah enak dengan nasi yang sehar-hari kita makan. Para peserta yang mencicipi nasi sagu mengatakan cita rasanya enak. Tampilan beras dan mi juga mirip dengan beras dan mi konvensional. Kelebihan lain, nasi analog berbahan sagu jauh lebih sehat. Riset ilmiah Prof. Dr. Bambang Hariyanto dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) membuktikan konsumsi nasi sagu manjur mengontrol gula dara penderita pradiabetes melitus.

Para peserta dari delta Sungai Siak itu juga mempelajari olahan lain berbahan umbi singkong dan ubi jalar. Dalam pelatihan selama empat hari itu, wartawan Majalah Trubus, Andari Titisari, menjadi moderator. Alumnus Departemen Agronomi dan Hortikultura IPB itu bekerja sama dengan panitia, Dian Saraswati dan Andhita Nadhira Ginanjar, yang mengatur jalannya pelatihan. Sehari-hari Dian dan Dita bertugas di bagian Pengembangan Bisnis Majalah Trubus. Pelatihan pengolahan sagu dan umbi-umbian itu upaya untuk mengokohkan ketahanan pangan Indonesia.***

Salam

Tags: , , , , , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software