Harta Terpendam Hamiguitan

Filed in Pojok luar by on 31/05/2011

 

Peltata hanya diketahui tumbuh di lereng atas Gunung HamiguitanN. attenboroughii, salah satu jenis kantung semar yang dekat kekerabatannya dengan peltataPeltata dalam bahasa latin berarti berbentuk perisai. Sulur kantung N. pelatata memang tidak muncul dari bagian ujung daun. Melainkan dari permukaan bawah daun layaknya pegangan pada perisai. Saat ini ketakung asal Filipina itu hanya diketahui tumbuh di lereng atas Gunung Hamiguitan di Mindanao. Namun lantaran sebagian besar dataran tinggi di Mindanao bagian Selatan belum banyak dieksplorasi, ada dugaan daerah penyebaran peltata lebih luas.

Di Gunung Hamiguitan, peltata tumbuh pada ketinggian 865 m dpl hingga bagian puncak gunung yang elevasinya mencapai 1.635 m dpl. Spesies itu tumbuh di tanah pada hutan lumut dataran tinggi, hutan terdegradasi atau hutan sekunder, pada bebatuan di tebing dan lereng gunung, serta pada punggung dan lereng atas Gunung Hamiguitan.

Rambut kasar

N. peltata memiliki batang tegak, pendek, dan kaku dengan panjang mencapai 1 m dan tumbuh menembus atau di atas tumbuhan di sekitarnya. Sosoknya sangat berbeda dari kantung semar lain lantaran permukaan daun bagian atas hijau gelap, dan bagian bawah biasanya merah gelap. Semua bagian daun dan kantung ditumbuhi rambut-rambut kasar panjang berwarna cokelat.

Pada kantung bawah, ukuran dan bentuknya sangat beragam. Panjang kantung itu mencapai 28 cm dan lebar 16 cm. Bentuknya bisa bulat telur, seperti jambangan, elips, maupun seperti kendi. Lebar sayap 10 mm, dihiasi filamen sepanjang 9 mm di bagian depan kantung bawah. Peristom agak silindris dengan lebar 2 cm dan memanjang pada bagian samping dan belakang bukaan kantung. Pada bagian belakang, peristom sedikit terangkat.

Warna kantung bawah sangat beragam. Bagian luar bisa berwarna kuning, jingga, merah jambu, merah, atau ungu dengan totol-totol ungu gelap atau hitam. Sementara bagian dalam perangkap kuning terang atau hijau, dengan bercak merah gelap atau ungu samar. Peristom kuning terang, jingga, merah, atau ungu dan seringkali bergaris-garis kuning, jingga, atau merah. Tutup kantung berwarna kuning, jingga, merah, atau ungu kemerahan, kerap dihiasi bercak atau totol merah gelap, ungu, atau hitam.

Tipe kantung kedua yang biasa disebut kantung atas N. peltata tidak diketahui. Semua spesimen herbarium dari spesies ini tidak memiliki kantung atas, dan berdasar pengamatan saya di alam, saya juga tidak menemukannya. Sepertinya kantung atas sangat jarang dihasilkan, atau mungkin tidak dihasilkan sama sekali. Mungkin kantung atas hanya muncul saat batang pemanjat dihasilkan.

N. peltata sangat dekat kekerabatannya dengan jenis periuk kera lain terutama N. attenboroughii, N. deaniana, N. mantalingajanensis, dan N. mira. Namun, peltata sangat mudah dibedakan dari jenis-jenis itu lantaran memiliki daun ala perisai, rambut-rambut yang menonjol, dan warna daun yang unik.

Aman

Meski peltata baru diketahui tumbuh pada lereng atas satu gunung saja, tapi keberadaannya tidak terancam. Sebab, lereng atas Gunung Hamiguitan tetap terpencil, sulit dijangkau dan jarang dikunjungi. Selain itu, populasi peltata sangat banyak dan tersebar. Sebuah gerakan lokal yang dipimpin Walikota San Iditro mengusulkan agar Gunung Hamiguitan dilindungi sebagai situs warisan dunia. Karenanya, penelitian tentang flora dan fauna yang ada di dalamnya gencar dilakukan. Jika status situs warisan dunia itu diperoleh, masa depan peltata akan tetap aman di alam liar.

Kondisi itu sangat berbeda dengan spesies kantung semar baru yang ditemukan di Indonesia, tepatnya Taman Nasional Lore Lindu pada September 2006 silam. N. pitopangii – diambil dari nama Dr Rahmadanil Pitopang, kurator di herbarium Universitas Tadulako yang mengoleksi spesimen herbarium pertama dari spesies itu – tumbuh menyendiri di sudut hutan pada area terpencil di Lore Lindu.

Hingga hari ini hanya spesimen itulah satu-satunya pitopangii yang diketahui. Spesimen itu berupa satu tanaman jantan yang memiliki banyak cabang dengan batang mencapai 2 m panjangnya. Batang itu memanjat pada tumbuhan atau bunga di sekitarnya. Namun, belum dapat dipastikan bahwa perilaku itu umum bagi pitopangii sebelum populasi pitopangii lain ditemukan.

Tumbuhan yang ditemukan itu memiliki daun sempit sepanjang 15,6 cm dan lebar 3,4 cm. Daun berwarna hijau cerah dan tangkainya merah gelap dengan totol-totol lembut warna hijau. Kantung atas pitopangii berbentuk seperti corong dan muncul dari ujung daun dalam jumlah banyak.

Sayangnya, meski satu-satunya pitopangii tumbuh di tempat terpencil di Taman Nasional Lore Lindu, masa depannya tidak jelas. Itu seperti yang saya lihat ketika kembali ke lokasi pitopangii tumbuh pada 2008. Yang mengejutkan, ukuran tumbuhan itu sudah berkurang hingga separuhnya saja dari yang saya lihat pada 2007. Mungkin karena mulai banyak penggemar nepenthes yang memburu seteknya. Padahal, merupakan kerugian besar bagi Sulawesi dan Indonesia jika kantung semar indah itu menghilang dari alam karena diburu. Sementara belum atau tidak ada spesimen pitopangii lain yang ditemukan.***

 

Powered by WishList Member - Membership Software