Harta Karun dari Celebes

Filed in Ikan hias by on 01/06/2009 0 Comments

 

Lima tahun lalu Kristina Zitzler dan Yoxiong Cai, masing-masing peneliti dari Museum of Natural History dari Jerman dan Biodiversity Center National Parks Board di Singapura tak sengaja menemukan celebes beauty saat menguak keberadaan udang-udangan di danau seluas 585 km2 itu. Danau Towuti – bagian dari sistem Danau Malili – sejak 1937 diketahui para peneliti asing menyimpan udang hias endemik. Selama 67 tahun eksplorasi oleh berbagai peneliti, paling tidak teridentifikasi 10 spesies. Belasan jenis lain belum punya nama. Spesies terbaru yang ditemukan adalah spongicola – artinya penghuni spons.

Sejak ditemukan itulah pamor celebes beauty terkerek naik. Popularitasnya perlahan menggusur udang hias asal Jepang yang tenar lebih awal seperti red crystal. Frisca Prasetyo asal Malang, Jawa Timur, kepincut celebes beauty saat pertama kali melihat sosoknya. ‘Sangat cantik dengan warna cerah,’ kata kolektor lebih dari 5 jenis udang hias itu. Padahal, alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Malang itu hanya melihat gambarnya melalui surat elektronik yang dikirim rekannya.

Menurut Michael dari Harlequin Aquatic, eksportir ikan hias di Bambuapus, Jakarta Timur, kabar spongicola diincar hobiis sudah santer sejak Aquarama 2007 di Singapura. Namun, baru pada even Interzoo di Jerman pada 2008 spongicola muncul sebagai salah satu satwa aquascaping. ‘Dari situ banyak permintaan dari Eropa, Amerika Serikat, dan Jepang,’ kata Michael. Setiap 2 pekan Harlequin Aquatic mengekspor 500 – 1.000 celebes beauty sepanjang 0,6 – 1,3 cm.

Orange delight

 

Danau Towuti tak hanya menyimpan celebes beauty. Beberapa udang hias baru juga terekspos oleh kolektor udang hias mancanegara. Sebut saja white spot bee. Udang hias yang hidup di kedalaman 3 – 5 m itu bercorak cokelat kemerahan dan diselimuti totol-totol putih. ‘Jenis ini disukai karena menimbulkan suasana kontras dalam isi akuarium aquascaping yang dominan hijau,’ ujar Rosyid, karyawan toko Duniaudang.com di sentra ikan hias Sumenep, Jakarta Pusat.

Udang hias lain dari Sulawesi adalah sunkis shrimp Caridina cf propinqua. Sesuai namanya, jenis ini berwarna jingga bak jeruk sunkist. Sejatinya tubuh udang yang hidup berkelompok itu transparan, dan terdapat corak kuning pekat di punggung. Jenis unik lain red nose Caridina gracilirostris. Tubuhnya ramping dengan rostrum – bagian di kepala menyerupai hidung – panjang berwarna merah. Sehingga mendapat julukan si pinokio.

Udang-udang hias asal Sulawesi memang terkenal bercorak indah. Sebut saja red orchid bee. Sekilas ia mirip white spot bee. Yang membedakan, corak putih white spot bee berupa titik-titik; red orchid bee kombinasi garis dan titik. Selain itu, kaki depan white spot putih; red orchid belang-belang merah marun dan putih.

Di luar itu masih ada half back bee yang mirip six banded bee. Half back bee memiliki karapas punggung putih mulus dari ujung kepala sampai ekor. Pada six banded bee corak putih berupa 6 garis lurus horizontal. Meski cantik dilihat, harga udang hias asal Sulawesi relatif terjangkau. Di toko Duniaudang.com, udang-udang hias itu dijual Rp15.000/ekor untuk semua jenis.

Menurut Rosyid, udang-udang hias tak sulit dirawat asal kondisi air sesuai. Mereka ingin suhu air 25 – 29oC dengan derajat keasaman 7 – 8,2. ‘Kalau air tidak sesuai, warna udang akan memudar,’ kata Rosyid. Kemudahan lain, mereka tak rewel pakan. Pelet udang hias dapat diberikan. Pun beragam sayuran seperti bayam dan selada air. Sayuran harus direndam air panas terlebih dahulu agar lunak. Pantas dengan banyak kemudahan itu si cantik celebes beauty kini sudah dapat dibudidayakan. (Tri Susanti)

 

Powered by WishList Member - Membership Software