Harmoni Herbal Yin dan Yang

Filed in Fokus by on 31/05/2011

Kanker berasal dari sel abnormal yang mengabaikan sinyal apoptosis. Sinyal apoptosis – bisa  berasal dari faktor eksternal seperti racun atau faktor internal seperti pemisahan jaringan – memicu sel untuk “bunuh diri”. Dalam kondisi normal, sinyal apoptosis menghentikan pertumbuhan sel tua, terinfeksi virus atau bakteri, maupun terkena kondisi ekstrem seperti panas atau dingin berlebih.

Kanker muncul saat laju apoptosis sel tidak seimbang dengan penambahan sel baru. Akibatnya terjadi peningkatan sel secara tidak terkendali. “Sel kanker mengonsumsi energi yang mestinya digunakan untuk metabolisme jaringan sekitarnya,” kata Sudarisman. Efeknya, jaringan di sekitarnya kekurangan energi sehingga melemah, menyebabkan sel kanker semakin mudah menjalar.

Menurut herbalis dan konsultan produk di klinik Traditional Indonesian Medicine, Jakarta Utara itu, kondisi kekurangan energi dan lemah identik dengan dingin alias yin. Temuputih yang bersifat kuat dan panas alias yang bisa mengembalikan keseimbangan energi. Sel kanker pun tidak bisa berkembang karena dihentikan oleh jaringan sehat, padahal umur sel terbatas. Lama-kelamaan sel kanker habis dan pasien pun sehat kembali.

Yin dan yang

Menurut dr Willie Japarries MARS, dokter dan herbalis di Jakarta Pusat, pengobatan tradisional China alias TCM mengutamakan harmoni unsur dingin (yin) dan panas (yang). “Perubahan cuaca, emosi, pola makan, atau serangan virus maupun bakteri menyebabkan ketidakseimbangan,” kata praktisi TCM itu. Ketidakseimbangan itu lantaran kelebihan salah satu unsur dan kekurangan unsur yang lain. Jika dibiarkan berlarut-larut, ketidakseimbangan itu memicu gangguan fungsi tubuh sehingga muncul penyakit.

Pemilihan herbal pun berdasarkan keseimbangan yin dan yang. “Kekurangan unsur dingin diatasi dengan herbal yin, demikian pula sebaliknya,” kata Willie. Prinsip itu menggolongkan herbal sebagai dingin dan panas berdasarkan citarasa. Disebut dingin alias yin jika rasanya asam, pahit, dan asin. Contoh herbal yin misalnya pegagan Centella asiatica, benalu teh Loranthus parasiticus, atau tapakdara Catharanthus roseus.

Secara umum, herbal yin mengatasi penyakit yang muncul karena kelelahan, kurang tidur,  atau demam. Benalu teh Loranthus parasiticus, misalnya. Sang ji sheng itu mengandung kuersitrin dan avikularin – keduanya antioksidan kuat yang membantu mempertahankan fungsi hepar alias hati. Sedangkan tapak dara Catharanthus roseus alias chang cun hua berkhasiat diuretik, menurunkan tensi darah, serta bersifat pencahar. Bahkan, zat aktif vinkaleukoblastin yang terdapat pada daun tapak dara sudah diproduksi komersial sejak 1960. Obat bermerek dagang Oncovin itu lazim diresepkan untuk pengobatan tumor, kanker, sampai kemoterapi.

Sedangkan herbal bercitarasa pedas, manis, atau netral tergolong panas alias yang. Herbal yang biasa digunakan mengatasi kanker, tumor, dan penyakit lain akibat abnormalitas sel. Di antaranya, temuputih Curcuma zedoaria, sambiloto Andrographis paniculata, atau jahe Zingiber officinale. Herbal bersifat yang kuat, sebut saja Sambiloto Andrographis paniculata. Sambiloto dijuluki king of bitter lantaran rasanya sangat pahit. Saking pahitnya, “Pemberian sambiloto sudah dilakukan dengan suntikan sejak 1930 karena banyak yang tidak tahan dengan rasanya,” kata sinse Mochamad Yusuf, herbalis di klinik herbal Citra Insani, Sukabumi, Jawa Barat.

Kombinasi

Namun, kondisi pasien tidak selalu sesederhana itu. Pengalaman Sudarisman, gangguan akibat kekurangan unsur yin dan yang bisa terjadi bersamaan. Saat itu, pasien perlu diberi racikan 2 jenis atau lebih herbal yang sifatnya berlawanan. Penderita kanker yang mudah lelah, misalnya. Sudarisman biasa memberikan kombinasi temuputih dan kulit manggis. Temuputih berguna menghambat peradangan, sedangkan kulit manggis memasok zat antioksidan untuk memperbaiki metabolisme sehingga meningkatkan stamina.

Kombinasi herbal yin dan yang menjadi satu produk juga banyak dilakukan. Misalnya, jahe dengan pegagan, sambiloto dengan pegagan, atau benalu teh dengan jahe. Menurut Sudarisman, paduan panas-dingin dalam satu produk tidak masalah karena bagian tubuh yang memerlukannya juga berbeda. Nantinya zat aktif masing-masing herbal bakal terpisah berdasarkan kelarutan zat aktif. Ada yang mudah larut dalam lemak, ada juga yang lebih mudah dalam air. Yang terpenting, “Tubuh manusia mampu menyaring mana yang diperlukan dan mana yang tidak,” kata Sudarisman. Itu selama pemberian herbal sesuai dosis.

Jika berlebihan, konsumsi herbal tertentu malah merusak keseimbangan. Contohnya pengalaman Lina Mardiana, herbalis di Yogyakarta. Ia pernah menjumpai pasien yang fanatik mengonsumsi pegagan, sampai-sampai dijadikan lalap saat makan. Suatu hari, sang pasien mengeluh sering merasa lemas, bahkan pernah sampai pingsan. Lina pun menyarankan membatasi konsumsi pegagan karena dalam jumlah banyak, pegagan menurunkan tekanan darah. Setelah mengikuti anjuran Lina, sang pasien pun kembali bugar. Intinya, mengonsumsi obat – baik sintesis atau herbal – mesti bijak, sesuai harmoni yin dan yang. (A. Arie Raharjo/Peliput: Tri Susanti)

 

 

Powered by WishList Member - Membership Software